13. Ancaman

1672 Words
“Badanku sakit sekali.” Dipijat bahunya yang terasa sakit. Sebenarnya tidak hanya bahu saja yang sakit, bisa dibilang seluruh badannya juga yang sakit. “Memangnya apa yang sudah kamu lakukan sampai sakit seperti itu?” tanya Fani penasaran. “Sepertinya karena kurang istirahat.” Keyshia tidak menyangka jika apa yang dilakukannya kemarin membawa dampak yang seperti ini untuk tubuhnya. Ingin sekali dia kembali ke atas tempat tidur, sayangnya dia tidak bisa cuti seperti kemarin. “Memangnya kemarin kamu habis dari mana? Kamu bahkan sampai cuti setengah hari.” Kebetulan sekali tadi malam Fani tidak sengaja melihat Keyshia yang baru turun dari taksi. Tapi karena kebutuhan mendesak untuk pergi ke toilet, mau tidak mau dia mengesampingkan rasa penasaran itu dan berlari masuk ke apartemennya. “Ada tempat yang harus kudatangi.” “Kamu memang tidak pernah punya waktu senggang.” Fani terkekeh. Keyshia juga ingin punya banyak waktu senggang. Tapi waktunya terlalu berharga untuk dia sia-siakan. Apalagi dia masih memiliki adik yang setiap bulannya harus transfusi darah. Tiba di kantor, Keyshia langsung berhadapan dengan Gabriela. Senyum lebar yang Gabriela perlihatkan sangat jelas sekali maksud dan tujuannya. “Pagi-pagi kamu sudah aneh seperti ini. Sana pergi.” Fani mendorong tubuh Gabriela menjauh dari hadapannya. “Aku ada urusan dengan Keyshia. Benarkan Key?” Gabriela mencari pembenaran. Keyshia mengangguk membenarkan yang membuat Gabriela semakin tersenyum lebar. “Kalau begitu yuk,” ajak Gabriela untuk mengikutinya. Keyshia menaruh tasnya lebih dulu, lalu mengikuti langkah Gabriela yang membawanya menuju rooftop. Begitu tiba di rooftop, angin pagi yang cukup dingin langsung membelainya. “Bagaimana?” tanya Gabriela. “Aku merasa kami cukup dekat. Kami mengobrol dan dia bahkan banyak membantuku dan itu semua dia lakukan tanpa kuminta.” “Oh ya? Memangnya dia melakukan apa saja?” “Dia mengambil alih barang yang kubawa, membantuku menyiapkan dan membersihkan makan malam. Lalu, dia bahkan sampai ingin mengantarku pulang.” “Kamu serius?” “Aku serius. Padahal waktu itu dia bahkan dengan tega menyuruhku pulang dengan taksi yang harus kutelepon di ujung jalan tanpa mempedulikan kondisiku yang mungkin saja masih tidak baik-baik saja setelah kejadian malam itu.” “Aku masih tidak percaya dengan semua hal ini.” Walau mengatakan hal demikian, kebahagiaan itu tampak jelas di mata Gabriela. Seperti dugaannya, Keyshia adalah perempuan yang tepat untuk meruntuhkan tembok seorang Ashton O’Neil. Jika terus seperti ini, dia sudah semakin dekat dengan bonus yang akan diberikan Sheena. “Kapan aku pernah bercanda dalam bekerja?” Gabriela menepuk pundak Keyshia bangga. “Iya-iya, lalu tawaran itu kamu terima, kan?” “Tidak, aku menolaknya.” Senyum Gabriela seketika luntur. “Kamu menolaknya?” seru Gabriela tidak terima. “Aku tidak ingin dianggap punya maksud tertentu karena menerima tawaran itu.” “Tapi itukan dia yang menawari. Harusnya kamu terima saja kesempatannya. Kapan lagikan kamu bisa dekat dengannya lagi?” “Menurutku dia sangat peka. Dia bahkan berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlibat gosip. Jadi aku ingin terlihat berkesan di matanya.” Untuk sesaat Gabriela terdiam, lalu akhirnya mengangguk membenarkan. Keyshia memang harus tidak terlihat seperti orang yang tertarik, bisa-bisa Asthon malah akan menjauh karena tidak ingin terbebani oleh perasaan suka seseorang. “Kamu juga tidak perlu khawatir. Aku masih punya kesempatan untuk mendekatinya.” “Kamu pasti berhasil.” Kembali Gabriela menepuk pundak Keyshia. “Kalau begitu ayo kita kembali. Dan ingat, jangan sampai ini bocor, apalagi sampai ke Fani.” “Kamu juga harus menahan diri untuk mendengar cerita dariku. Gerak-gerikmu itu akan membuat orang-orang curiga.” “Iya-iya.” Gabriela kembali lebih dulu. Sebelum kembali Keyshia memutuskan untuk mengirimkan Ashton email. Dia berharap emailnya ini segera mendapatkan balasan yang positif. Dari: Keyshia Miller Kepada: Ashton O’Neil Maaf karena aku menghubungimu lagi. Tapi aku harus melakukannya karena aku ternyata lupa mengembalikan jaket yang kamu pinjamkan. Bagaimana aku harus mengembalikan jaketmu? Keyshia tersenyum melihat email yang sudah dia tulis itu. Apa jaket itu akan membawa keberuntungan untuknya? Rasa percaya diri Keyshia yang tinggi untuk mendapatkan balasan email yang cepat lenyap begitu dua hari berlalu dan email yang dia kirim tidak kunjung mendapatkan balasan. “Apa aku langsung pergi ke rumahnya?” Pemikiran gila itu langsung Keyshia tepis. Ashton sudah pasti akan membencinya jika dia sampai melakukan hal itu. “Kirim jaket itu dalam bentuk paket?” Keyshia merengut. Dia tidak ingin melakukan hal itu, tapi sepertinya dia memang harus melakukan hal itu. Keyshia mengambil jaket yang sudah dia bungkus secara rapi. Besok pagi dia sudah harus mengirimkan jaket ini ke rumah Ashton. Tapi dia harus melakukan sesuatu agar saat Ashton membukanya, dia akan terkesan. Pandangan Keyshia kemudian terhenti di kertas origami dan tumpukan alat tulis yang ada di meja kerjanya. Dia terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya dia tersenyum lebar. Keyshia akhirnya memutuskan untuk menuliskan surat singkat untuk Ashton. Selain itu, dia juga membuat satu origami bunga lily kuning. Awalnya dia membuat origami bunga mawar, tapi dia takut Ashton akan salah paham dengan bunga mawar itu. Jadi dia memutuskan untuk membuat bunga lily kuning sebagai simbol persahabatan darinya. “Aku berharap banyak padamu.” * * * “Papa dekat dengan seseorang.” Ashton yang ada di depan komputernya seketika terdiam. “Selama itu bukan gadis muda pengincar uangmu, aku tidak masalah.” Dominic memutar kursi yang diduduki putranya itu hingga berhadapan dengannya. “Apa kamu tidak penasaran dengan sosok itu?” “Sama sekali tidak.” Diputarnya kursi itu kembali menghadap layar komputer. “Jangan berdiri di sampingku, itu terasa mengganggu,” tegur Ashton karena perasaan tidak nyaman yang dirasakannya itu. “Oh ya Tuhan, kenapa kamu semakin semena-mena?!” seru Dominic kesal. “Aku tidak semena-mena. Apa Papa tidak lihat aku sedang melakukan apa? Aku tengah bekerja.” Dominic beranjak dari samping Ashton lalu duduk di sofa yang ada di ruang kerja itu. “Kali ini Papa dekat dengan cinta pertama Papa.” Ashton yang awalnya tidak berminat mendengar kisah cinta Papanya, mendadak menjadi tertarik. Dia pun diam-diam mencoba untuk menyimak dengan serius ucapan Papanya itu. “Kami memutuskan untuk menjalin hubungan dan tidak menutup kemungkinan dia akan menjadi Ibu tirimu.” Kepalan tangan Ashton mengerat. “Suaminya baru meninggal lima bulan yang lalu dan dia memiliki satu putra dan usianya sama dengan usiamu.” “Suaminya pasti akan sangat sedih melihat istrinya dengan gampang berpindah kelain hati,” komentar Ashton. “Kamu sangat tidak sopan!” “Apa Papa yakin orang itu mencintaimu?” Ashton tentu tidak ingin melihat Papanya ditipu dengan cinta. Dia tidak bisa membayangkan Papanya yang sudah tua mengalami patah hati lagi. Apalagi di zaman sekarang sangat sulit mencari seseorang yang benar-benar dengan tulus mencintai. Jadi, daripada merasakan sakit karena putus cinta, lebih baik tidak mengalaminya sama sekali. “Mungkin sekitar limapuluh persen.” Dominic tersenyum kecut. “Tapi Papa sangat yakin ingin menghabiskan masa tua bersamanya. Kau tahu, Papa sudah tua dan bisa saja mati kapan saja. Lalu Papa tidak ingin mati dalam kesendirian.” “Usiamu baru 62 tahun, masih banyak waktu hingga aku harus melihat pemakamanmu.” “Tidak ada yang tahu kapan kematian itu. Tapi untuk orang yang sudah seperti Papamu ini, itu sudah pasti semakin dekat.” “Ya-ya, terserah Papa saja.” “Kamu bukan penyuka sesama jenis, kan?” Brak! Ashton tanpa sadar menyenggol kotak alat tulisnya hingga jatuh. “Sepertinya iya,” simpul Dominic. “Kenapa Papa berpikir seperti itu?” tanya Ashton sambil memungut kembali alat tulis yang berserakan itu. “Sudah lama sekali aku tidak melihatmu dekat dengan seorang perempuan. Papa sangat tahu sekali jika kamu tidak mungkin lepas dari hubungan romantis. Jadi, jawabannya hanya satu, kamu penyuka sesama jenis.” Penjelasan Papanya itu membuat Ashton menutup wajahnya. Dia tidak menyangka akan disalahpahami seperti ini. “Aku tidak akan menjalin hubungan dengan pria atau pun wanita. Aku tidak akan pernah menikah. Apa Papa sudah pikun dengan hal ini?” “Tapi aku tidak ingin melihatmu datang seorang diri ke pernikahanku. Itu akan sangat merusak pemandangan.” “Papa saja tidak tahu apakah orang itu mau menikah dengan Papa atau tidak.” Dominic bangun dari duduknya tubuhnya lalu memberi isyarat agar Ashton agar melihat penampilannya dari atas hingga bawah. “Tidak ada yang berani menolak Papamu ini,” katanya dengan bangga. Ashton mendengus geli. Papanya sangat percaya diri sekali. Ke mana perginya pria paruh baya yang membicarakan tentang kematiannya yang dekat itu? “Aku tidak ingin putraku kalah dengan putranya yang sudah memiliki tunangan. Kamu juga harus membawa kekasihmu.” “Aku tidak akan datang ke pernikahan khayalan Papa.” Dominic berjalan mendekati Ashton. “Coba ulangi,” pintanya. “Aku tidak akan datang ke pernikahan khayalan Papa.” Brak! Dominic menggebrak meja kerja Ashton. Tapi tidak sedikit pun raut wajah Ashton yang takut pada Papanya itu. “Kamu akan menyesal jika melakukannya.” “Iya.” Reaksi Ashton yang datar benar-benar memancing emosi Dominic. “Lihat saja nanti.” Dominic kemudian pergi dari hadapan Ashton. Sepeninggal Papanya, Ashton memutuskan untuk pulang juga. Dia sudah tidak bisa berkonsentrasi jika seperti ini. Akan lebih menenangkan jika dia melanjutkan pekerjaannya di rumah. Sepanjang perjalanan Ashton terus mengingat ancaman dari Papanya itu. Ashton tidak tahu hal buruk apa yang akan Papanya itu lakukan. Tapi yang jelas, dia berdoa agar pernikahan itu tidak akan pernah terlaksanakan. Ashton akhirnya sampai di rumahnya. Hari ini rumahnya terasa lebih bersih karena orang yang biasanya membersihkan rumahnya datang. Lalu saat melewati ruang keluarga, Ashton mendapati kotak kado. Dia yang ingat jika tidak membeli sesuatu pun mendekati kotak kado itu. Dia pun kotak kado itu dan mendapati sepucuk surat dengan bunga kertas dan jaket. Aku harap kamu tidak marah karena aku telat mengembalikan jaketmu. Aku benar-benar berterima kasih karena sudah meminjamkan jaket ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada kamu di sana. Kamu benar-benar seorang penyelamat dan aku senang bisa mengenalmu. Ashton kembali meletakkan surat yang sudah dia baca itu. Ashton kemudian beranjak dari sana menuju kamarnya. Dari sana dia kemudian melihat rekaman cctv rumahnya. Dia memperhatikan semuanya hingga dia melihat seorang kurir memberikan paket ke pekerja yang membersihkan rumahnya itu. “Aku kira dia akan datang secara pribadi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD