14. Titah Sheena

1838 Words
Dari ekor matanya, Keyshia melihat sosok Gabriela yang masuk. Suaranya terdengar nyaring menyapa orang-orang yang sudah datang lebih dulu. Lalu tibalah Gabriela di depan mejanya. “Selamat pagi Keyshia.” “Ya, selamat pagi.” “Aku membelikan ini untukmu.” Gabriela meletakkan segelas kopi yang dia beli di cafe depan kantor mereka. “Terima kasih.” “Bagaimana?” Hanya dengan satu kata, Keyshia langsung mengerti apa yang Gabriela minta. Lalu sama seperti minggu kemarin, Keyshia hanya bisa menggeleng. “Kamu serius?” Gabriela kembali memastikan. “Iya, aku serius.” “Ini masih pagi dan kalian berdua sudah bergosip.” Amore yang kebetulan lewat menyindir. “Lebih baik kalian melakukan hal yang lebih berguna,” tambahnya lalu pergi dari sana. “Itu bahkan tidak lebih baik dari bergosip,” sindir Gabriela. “Sudah, lebih baik jangan diteruskan.” “Baiklah kalau begitu. Aku akan memberitahu Sheena tentang kesulitanmu ini,” bisik Gabriela lalu pergi dari hadapan Keyshia. “Oh ya Tuhan,” lirih Keyshia sambil memijat keningnya yang terasa berdenyut. Saat ini, Keyshia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya setelah mendengar ucapan Gabriela. Apa jadinya jika Sheena mendengar jika sudah tiga minggu ini dia tidak berhubungan dengan Ashton? Bahkan jaket yang dia perkirakan akan membantunya semakin dekat, malah tidak memberikan dampak apa pun. Ashton tidak memberikan balasan apa pun. Selama tidak mendapatkan balasan itu, di waktu bebasnya yang sedikit Keyshia berusaha untuk bertemu dengan Ashton di tempat-tempat yang biasa pria itu datangi. Sayangnya, selama Keyshia melakukan hal itu, dia tidak pernah bertemu dengan Ashton. “Dia bahkan tidak memposting apa pun di media sosialnya.” Tidak ada kabar sama sekali, itulah yang Keyshia tahu tentang Ashton. Ashton bahkan tidak aktif di media sosialnya setelah makan malam mereka. Pria itu seakan benar-benar hilang dari peradaban. “Jika terjadi sesuatu, seharusnya media sudah tahu tentang hal ini,” gumam Keyshia sambil mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja. “Dan mungkin saja dia sangat sibuk dengan project barunya hingga tidak berinteraksi. Jadi, ini bukan sepenuhnya salahku bukan?” Keyshia mengangguk membenarkan ucapannya sendiri. Dia bisa menjadikan hal ini jika Sheena memarahinya. Walau sudah menyiapkan dirinya untuk mendengar komentar Sheena, Keyshia tetap saja tidak bisa merasa tenang. Sheena itu memiliki aura yang kuat dan itu menjadi salah satu alasan Keyshia merasa takut. Membayangkan Sheena memarahinya saja sudah membuat badannya bergidik ngeri. “Kenapa kamu tegang begitu?” Gabriela melirik Keyshia singkat. Keyshia tersentak kaget lalu buru-buru menjawab, “Tidak seperti itu kok.” “Sudah, santai saja.” Santai? Keyshia rasa dia tidak akan bisa santai karena Sheena minta untuk bertemu dengannya secara langsung. Di awal perjanjian, Sheena sudah mengatakan jika dia akan menerima dan memberi informasi melalui Gabriela karena kesibukannya dan juga untuk menghindari mata Ashton yang menangkap kedekatan mereka. Tapi, sekarang dia malah harus bertemu dengan Sheena. Dan entah kenapa, perjalanan untuk menemui Sheena terasa lebih cepat. Keyshia bahkan tidak begitu sadar jika mereka sudah berada di parkiran. “Jangan lupa pakai kacamata. Walau kita akan pergi ke hotel milik Sheena sekali pun, kamu harus tetap tidak dikenali.” “Ya, aku mengerti.” Kacamata hitam itu Keyshia gunakan. Dia merasa aneh harus menggunakan kacamata hitam di malam hari seperti ini. Tapi demi menjaga dirinya agar tidak ketahuan, dia mau tidak mau memakainya. Sama seperti sebelumnya, mereka berada di ruangan private itu. Hal yang paling mencolok di ruangan itu adalah meja yang penuh dengan berbagai macam jenis hidangan. Bukannya berselera, Keyshia malah mual melihatnya. Dia yakin jika dia tidak akan bisa makan dengan lancar. “Dia tahu saja jika kita belum makan malam.” Gabriela menarik kursi lalu duduk. Dia bahkan tanpa segan langsung menenggak minuman yang ada di sana. Berbanding terbalik dengan Gabriela, Keyshia tampak kaku. “Kenapa dia belum muncul juga ya?” tanya Gabriela. Matanya sedari tadi terus tertuju ke arah pintu, berharap sosok Sheena muncul agar mereka bisa makan malam lebih cepat. “Mungkin sebentar lagi,” balas Keyshia, padahal dia berharap Sheena tidak pernah muncul. Tapi harapan hanya tinggal harapan karena beberapa saat kemudian Sheena muncul dari balik pintu. Dia muncul dengan penuh percaya diri. Keyshia pun tahu darimana datangnya rasa percaya diri itu. d**a dan b****g yang besar itu tampak indah saat si empunya berjalan. “Lama tidak melihatmu, Keyshia.” Sheena duduk dengan sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa melihat Keyshia dengan jelas. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya kemudian. “Aku baik.” “Bagaimana jika kita mengobrol sambil makan malam?” Keyshia hanya bisa mengangguk patuh. Sampai rumah dia sudah pasti akan mengalami gangguan pencernaan. “Katanya kamu sudah tidak berhubungan lagi dengannya?” “Iya.” “Memangnya apa isi surat yang kamu kirimkan?” “Aku hanya menuliskan ucapan terima kasih dan mengatakan jika dia penyelamatku.” Tidak ada yang aneh dari surat atau pun email yang Keyshia kirim. Dia malah sudah benar menulis surat dan email seperti itu, mengingat hubungan mereka yang memang tidak dekat. “Seharusnya kamu mengambil kesempatan saat orang itu mau mengantarmu pulang.” Pandangan Keyshia yang tertuju pada tangan Sheena tertegun saat dia melihat pegangan Sheen yang mendadak erat. Sheena marah, itu yang bisa Keyshia simpulkan. “Tarik ulur itu saat kalian benar-benar sudah dekat. Toh itu juga bukan keinginanmu untuk di antar pulang. Jadi, lain kali jangan menolak.” Sheena menoleh ke arah Keyshia yang kebetulan juga menatap Sheena. “Mengerti?” “Iya.” “Lalu apa kamu sudah pernah mengunjungi tempat-tempat yang ada di list?” “Aku sudah mendatangi beberapa tempat saat aku memiliki waktu luang.” “Dan tidak ada hasilnya, kan?” Keyshia mengangguk membenarkan. “Pekerjaan kalian terlalu menyita banyak waktu ya.” “Benar sekali,” jawab Gabriela mewakili. “Kami bahkan tidak begitu memiliki banyak waktu untuk menikmati hidup.” Sheena terdiam. Dia tampak berpikir keras sebelum akhirnya berucap, “Bagaimana jika kamu berhenti bekerja di sana?” Ucapan Sheena seketika membuat alat makan yang Keyshia pegang terlepas. “Kenapa?” hanya itu yang bisa keluar “Tentu saja agar kamu bisa memiliki kesempatan lebih besar untuk mendekatinya.” “Bukankah pekerjaanku ini juga bisa memiliki kesempatan untuk dekat dengan Ashton juga? Kamu bahkan membantuku agar bisa terlibat secara langsung.” Ketakutan itu hilang jika sudah menyangkut pekerjaan utamanya. Di saat pekerjaannya dengan Sheena masih abu-abu, Keyshia tidak mau untuk melepaskan pekerjaan utamanya itu. “Persentasenya sangat kecil Keyshia dan waktu yang kamu habiskan di sana terlalu lama. Lalu kapan kamu akan bertemu dengan Ashton?” Apa yang dikatakan Sheena memang benar, tapi Keyshia rasa ini adalah sesuatu yang berlebihan, apalagi dia masih punya adik yang harus melakukan transfusi darah setiap bulannya. “Kalau begitu aku akan berhenti dari rencanamu ini,” putus Keyshia. “Aku tidak akan pernah menyebarkan hal ini, jadi kamu tidak perlu khawatir.” “Kamu tidak bisa berhenti seperti ini Keyshia. Apalagi kamu sudah sampai diizinkan Ashton masuk ke rumahnya!” “Tidak ada yang istimewa dengan hal itu.” “Tentu itu istimewa!” bentak Sheena. Suasana yang tiba-tiba meningkat itu membuat Keyshia dan Gabriela terdiam seribu bahasa. Sekarang Sheena terlihat sangat menakutkan. Wajahnya mengeras, matanya bahkan menatap Keyshia dengan tajam. “Aku saja butuh waktu yang cukup lama agar bisa diundang ke rumahnya. Tapi kamu? Kamu bahkan tanpa meminta langsung diundang ke rumahnya.” “Itu karena—” “Itu karena kamu menarik perhatiannya. Hanya itu jawabannya,” potong Sheena tegas. Sheena yang memotong ucapannya itu membuat Keyshia sadar jika Sheena tidak akan mau mendengarkan ucapannya. “Aku juga masih harus bekerja karena harus membiayai adikku. Terlebih aku belum tentu akan mendapatkan uang sebesar yang kamu janjikan,” ucap Keyshia hati-hati. “Aku menyuruhmu untuk berhenti bekerja, tentu saja aku yang akan menanggungnya. Aku akan memberikan gajimu itu setiap bulannya. Apa kamu mengerti?!” “Sheena, jangan membentak seperti itu,” tegur Gabriela yang panik melihat suasana makan malam mereka yang mendadak rusak. “Karena dia tidak berpikir dengan kepalanya itu! Mana mungkin aku menyuruhnya berhenti bekerja tanpa memberikan kompensasi?!” Keyshia benar-benar tidak bisa berkata-kata. Dia bahkan sampai menunduk karena takut menatap Sheena yang tengah marah. “Selain memberikan gaji sebesar gajinya di The Rain, aku bahkan berencana memasukkanmu ke restoran yang selalu Ashton datangi. Di sana aku akan mengatur agar kamu bisa bekerja setengah hari saja karena Ashton pasti akan selalu menyempatkan diri untuk makan atau sekadar membeli kopi di sana.” “Kamu akan mendapat gaji tambahan Keyshia! Itu tawaran yang bagus bukan?!” seru Gabriela. “Ya, itu bagus,” ucap Keyshia terpaksa. Dia bahkan sampai memaksakan senyum tipisnya. “Jadi kamu mau bukan?” tanya Sheena memastikan. Keyshia mengangguk mengiyakan. “Kamu harus mengundurkan diri dalam dua minggu ini. Lebih cepat tentu lebih baik.” Lagi-lagi Keyshia hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dia sudah terlalu lelah dengan semua ini dan ingin segera pulang saja rasanya. “Karena kalian sudah menemukan kesepakatannya. Apa kami bisa pulang?” tanya Gabriela. Dia cukup sadar dengan keadaan Keyshia yang tampak tidak baik-baik saja. “Ya, lebih baik kalian pulang saja. Aku juga sudah tidak bernafsu untuk melanjutkan makan malam ini.” Akhirnya Keyshia dan Gabriela keluar dari sana. Sepanjang perjalanan menuju mobil, tidak ada yang membuka suara sedikit pun. Hanya saja, Gabriela terlihat memperhatikan gerak-gerik Keyshia yang tampak lesu. “Sudah, jangan diambil hati.” Gabriela baru memberi Keyshia semangat begitu mereka sampai di dalam mobil. “Dia memang tidak bisa berbicara baik-baik.” “Ya, aku tahu itu.” “Dia tidak akan seperti ini jika bukan karena Ashton membatalkan acara pertunangan mereka, terlebih Sheena sangat berjuang untuk bisa mendapatkan Ashton. Kamu tahu apa katanya saat membatalkan pertunangan itu?” “Apa?” “Aku tidak ingin menjadi anjing peliharaanmu. Jadi, cari saja anjing yang lain.” “Dia mengatakan itu pasti ada alasannya.” “Mungkin saja dia sudah muak dengan tingkah Sheena yang saat itu menunjukkan obsesinya yang berlebihan.” “Sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik.” “Jadi dia sangat ingin membuat Ashton merasakan apa yang dia rasakan. Dan akan lebih bagus jika dia bisa mengajakmu menikah dan kamu membatalkannya. Itu pembalasan dendam yang jauh lebih dari cukup.” “Tidak akan sampai di sana. Aku tidak ingin terikat lama dengan semua hal ini.” Gabriela tertawa mendengar ucapan Keyshia. Siapa pun juga pasti tidak akan tahan dengan perintah aneh dari Sheena. “Oh ya, bagaimana cara Sheena akan membawaku bekerja di restoran itu?” “Dia punya uang, dia bisa saja memaksa pemiliknya untuk mempekerjakanmu. Dia bahkan pernah menyuruhku untuk membuatmu dipecat jika sampai beberapa bulan tidak ada kemajuan.” “Apa kamu serius?!” Apa yang baru saja Keyshia dengar sangat menakutkan. “Iya aku serius. Tapi kamu jangan marah karena dia sudah mengubah rencananya dengan memintamu untuk mengundurkan diri, bukannya dipecat.” “Aku tidak tahu harus senang atau sedih.” “Jangan marah, aku juga tidak ingin melakukannya. Tapi, kitakan sudah mendapatkan kesepakatannya. Jadi kamu tenang saja.” Keyshia meneguk ludahnya dengan susah payah. Dia tidak percaya jika baru saja dia mendengar rencana jahat Sheena. Membayangkan dirinya menjadi pusat perhatian karena mendapatkan amarah yang berakhir dengan pemecatan membuatnya bergidik ngeri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD