17. Sedikit Lebih Dekat?

1604 Words
“Oh ya.” Ashton yang hendak keluar menahan langkahnya di depan Keyshia. “Karena melihatmu aku jadi ingat tentang kirimanmu waktu itu. Aku sudah menerimanya dan terima kasih.” “Tidak perlu berterima kasih. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu tidak marah walau aku telat mengembalikannya,” ucap Keyshia panik. “Tidak apa-apa. Kalau begitu sampai ketemu lagi.” Sampai ketemu lagi, tidakkah itu berarti mereka akan bertemu lagi? Senyum Keyshia mengembang lebar karena baru pertama kali Ashton sampai mengatakan sampai bertemu lagi. “Dia ramah ya,” ucap Vivi di samping Keyshia. “Iya, dia ramah dan baik.” Keyshia menoleh ke arah Vivi. “Tapi, kadang-kadang dia tidak berperasaan. Ucapannya benar-benar seperti belati.” “Bekerja dengannya pasti memberikan kesan sampai kamu tahu seperti itu.” “Iya begitulah.” Hari pertama Keyshia lalui dengan lancar. Dia mendapat bos dan juga rekan kerja yang baik. Sebelum pulang dia bahkan dijamu dengan perayaan kecil-kecilan yang membuat dia sadar kenapa Ashton terus berlangganan di sana. Sampai saat ini Keyshia masih tidak menyangka akan bisa bertemu dengan Ashton di hari pertamanya bekerja. Ashton bahkan dengan ramah menyapa dan mau mengobrol dengannya. Bahkan Ashton sampai mengingat tentang jaket yang pernah dia kirim. Padahal dia sendiri tidak terpikir untuk mengungkit hal itu. Semua hal positif yang dilaluinya hari ini membuat Keyshia yang teringat tentang hal itu tersenyum senang. Senyumnya itu sangat lebar hingga membuat Fani yang kebetulan tengah makan malam bersamanya curiga. “Apa sangat menyenangkan sampai-sampai kamu tersenyum lebar seperti itu?” tanya Fani sedikit merajuk. “Aku hanya teringat hal lucu,” kilah Keyshia. “Oh ya? Hal lucu seperti apa?” “Eh? Itu…” Keyshia tampak gelagapan karena tidak ada satu pun hal yang bisa dia jadikan sebagai alasannya. Fani semakin terlihat merengut yang membuat Keyshia inisiatif untuk menyuapi Fani. Berharap dengan menyuapi membuat Fani tidak merengut kesal lagi. Fani pun menerima suapan itu namun ekspresi wajahnya masih saja terlihat kesal sebelum dia akhirnya tertawa terbahak. “Kenapa? Apa ada yang lucu?” Keyshia “Aku turut senang jika kamu nyaman dengan tempat kerjamu yang baru,” ucap Fani. Keyshia kira Fani akan mengatakan hal-hal yang membuatnya tidak bisa berkata-kata. Tapi siapa sangka Fani akan mengatakan kalimat yang terdengar hangat itu. Lalu kehangatan itu berlanjut hingga Gabriela meneleponnya. “Bagaimana? Apa rekan kerjamu baik?” “Untuk saat ini mereka baik,” jawab Keyshia. “Lalu bagaimana dengan pekerjaan di sana? Apa berat?” “Tidak begitu berat karena aku tidak memasak.” “Aku khawatir kamu kesulitan di sana. Bagaimana pun juga kamu temanku dan melihatmu harus bekerja di tempat seperti itu, aku tidak tega.” “Ini bukan masalah untukku.” “Jika kamu memiliki kesulitan atau ingin ditemani, katakan saja padaku. Bagaimana pun juga kamu seperti ini karena aku yang tidak bisa membantah keinginan Sheena.” Terlepas Gabriela itu adalah teman Sheena, Gabriela masih tetap memperlakukannya seperti teman dengan memberikan perhatian seperti ini padanya. Keyshia jadi penasaran, bagaimana bisa Gabriela berteman dengan Sheena dan masih terus berlanjut sampai sekarang. Jika dia jadi Gabriela, sudah pasti dia akan meninggalkan Sheena. “Iya, aku pasti akan menyampaikan jika aku mengalami kesulitan.” “Percaya padaku Keyshia, aku pasti akan membantumu,” janji Gabriela. “Iya.” “Oh ya, Sheena menyuruhku bertanya, apa kamu sudah bertemu dengan Ashton?” Ini pertanyaan yang sudah Keyshia tunggu-tunggu. Sheena pasti sudah sangat penasaran dengan cerita di hari pertamanya bekerja. “Aku bertemu dengannya.” “Benarkah?” Gabriela terdengar bersemangat. “Dia langsung bertanya tentang kenapa aku bisa ada di sana dan dia ternyata tidak lupa dengan jaket yang kukembalikan.” “Aku takjub dengan hal ini. Jika sudah seperti ini, kamu harus memberikan perhatian padanya. Perhatian-perhatian kecil yang membuatmu semakin akrab dengannya. Dan jika dia menawarkan sesuatu, jangan menolaknya!” Keyshia menjauhkan ponsel dari telinganya. Teriakan Gabriela membuat kupingnya terasa penuh. “Iya, aku mengerti,” jawab Keyshia kesal. Dia ini orang yang belajar dari kesalahan, jadi tidak mungkin akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang dengan melakukan tarik ulur di saat Ashton saja belum tertarik padanya. “Aku seperti ini karena aku tidak ingin kamu dimarahi Sheena. Jadi, selama kamu tidak terlalu agresif, semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin Ashton pasti akan menyukaimu.” “Jika seorang seperti Ashton bisa menyukaiku. Harusnya dulu aku merayu CEO kita saja ya?” ucap Keyshia dengan geli. “Kamu cantik tapi tidak berkesan, itulah yang membuatmu tidak bisa mendapatkan CEO kita. Kamu harus lebih mendengarkanku jika ingin merayu pria.” “Ini juga karena kamu.” “Tapi aku melakukan ini juga karena kamu.” Perdebatan itu terus berlanjut hingga beberapa saat hingga akhirnya mereka berdua lelah juga. “Oh ya Key, bagaimana jika weekend ini aku juga ikut pergi menemanimu ke club?” Untuk menghindari hal yang seperti sebelumnya, Gabriela rasa tidak ada salahnya jika dia ikut. Toh Ashton tidak mengenalnya juga. “Boleh.” “Tapi, kamu tidak apa-apa kan jika kita pergi ke club?” tanya Gabriela memastikan, takut-takut Keyshia masih trauma dengan tempat itu. “Aku baik-baik saja. Jadi tidak usah khawatir.” “Ya sudah kalau begitu. Aku tidak akan mengganggu waktu istirahatmu.” Saat ini Keyshia memang perlu tidur lebih awal karena dia harus berangkat kerja pagi-pagi sekali karena restoran tempatnya bekerja buka untuk melayani waktu sarapan dan juga makan siang pekerja kantor yang ada di sana. Esok paginya, Keyshia bangun lebih awal dari kemarin. Saking awalnya, di dalam bus hanya berisi tiga orang saja termasuk dirinya. Tapi ini jelas jauh lebih baik daripada dia harus berdesak-desakan. Selama perjalanan, Keyshia mencoba mencari berita-berita terbaru tentang Ashton. Tapi sama seperti sebelum-sebelumnya, tidak ada informasi terbaru tentang Ashton. Bahkan media sosialnya pun masih belum aktif juga. Begitu sampai di restoran, Keyshia disambut oleh Hugh yang datang lebih awal dari yang lainnya. Tanpa diperintah, Keyshia mengerjakan tugasnya untuk merapikan meja-meja. Lalu tidak lama kemudian yang lainnya mulai berdatangan hingga menghilangkan keheningan yang sedari tadi melingkupi Keyshia dan Hugh. Dan tidak seperti hari kemarin, Ashton datang lebih awal. Dia datang setelah lima menit restoran di buka. Kali ini dia tampak lebih hidup di bandingkan sebelumnya. Bahkan dia sampai tersenyum saat bertukar pandang dengan Keyshia. Karena Vivi yang ada di meja kasir, Keyshia yang akan bertugas untuk mengantarkan pesanan. Ini suatu kesempatan untuk Keyshia agar bisa mengobrol sedikit lebih lama dengan Ashton. “Hari ini kamu datang lebih awal.” Keyshia menyajikan sarapan yang Ashton pesan. “Kebetulan ada pekerjaan yang harus kulakukan.” “Padahal kamu bukan pekerja kantoran, tapi kamu selalu datang saat pagi.” “Ide-ideku muncul saat pagi.” “Sepertinya ide yang muncul hari ini sangat bagus.” “Apa terlihat seperti itu?” Keyshia mengangguk membenarkan. “Hari ini kamu terlihat lebih cerah dibandingkan kemarin.” “Kamu juga terlihat lebih cerah dibandingkan kemarin. Sepertinya kamu sudah mulai terbiasa bekerja di sini. Tapi kenapa kamu tidak melamar sebagai juru masak?” tanya Ashton tiba-tiba. “Sangat sayang jika kamu hanya sebagai pelayan di sini.” Serentetan kalimat yang mengandung perhatian itu membuat Keyshia merasa ada sesuatu yang menggelitik perutnya. Ashton, pria ini bagaimana bisa memperhatikannya seperti ini? Dia bahkan mengakui masakannya. “Aku tidak punya cukup kemampuan untuk melakukannya.” Keyshia merendah. “Kamu menyia-nyiakan kemampuanmu itu dengan merendah. Seharusya kamu coba saja karena tidak ada yang tahu hasilnya bagaimana.” Ashton geleng-geleng kepala. Kembali Keyshia merasa perutnya digelitik. Perhatian yang diberikan Ashton ternyata memiliki efek seperti ini. “Lain kali akan aku mencobanya.” “Ya, cobalah.” Keyshia tersadar jika dia sudah cukup lama diam di meja Ashton. Dia pun menoleh ke arah Vivi yang ada di kasir dan Vivi memberinya kode untuk segera kembali karena ada pesanan yang harus dia antar juga. “Temanmu memanggil,” ucap Ashton mewakili. “Ah iya. Aku harus kembali, dan… selamat menikmati dan semoga kamu terus seperti ini.” Keyshia tersenyum sopan lalu pergi dari hadapan Ashton. Sambil melayani, Keyshia curi-curi pandang ke Ashton yang fokus menyantap sarapannya. Ashton saat makan terlihat menyenangkan di mata Keyshia yang membuatnya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memandanginya. Matanya seakan tidak ingin terlewatkan satu suapan yang dilakukan Ashton. Dan saat Ashton makan, Keyshia sebenarnya menunggu adegan di mana alis Ashton berkerut. Setelah hari itu dan jika dia terus memikirkannya, Keyshia merasa jika adegan itu sangat menggemaskan. “Jika semua pelanggan yang datang seperti dia, hari kita di sini pasti selalu cerah.” Keyshia tersentak kaget dengan suara Vivi yang tiba-tiba terdengar tepat di samping telinganya. Vivi sontak menahan tawanya saat melihat reaksi Keyshia yang menurutnya lucu itu. “Santai saja. Aku juga selalu mencuri-curi pandang ke arahnya,” bisik Vivi. “Aku hanya suka melihatnya saat makan.” Sudah terlanjur kepergok, mau tidak mau Keyshia mengaku saja. “Oh ya?” Vivi malah tidak percaya dengan alasan yang Keyshia berikan. “Aku serius.” “Baiklah aku percaya padamu.” Tapi ekspresi yang Vivi buat tidak menunjukkan hal seperti itu. Dia masih saja tersenyum jahil ke Keyshia yang membuat Keyshia tersenyum kecut. Karena merasa baik-baik saja dengan obrolan mereka, Keyshia mencoba terus mendekatkan dirinya dengan memberikan perhatian-perhatian kecilnya setiap kali Ashton datang. Ashton ternyata kadang datang dua kali, saat jam sarapan dan juga jam makan siang akhir. Ashton bahkan tidak jarang balik bertanya dengan ramah yang membuat Keyshia semakin percaya diri jika dia sudah cukup dekat dengan Ashton. Semuanya berjalan seperti yang Keyshia harapkan. Tapi tidak cukup kuat untuk menarik hati Ashton yang sudah terlanjur beku untuk hal percintaan. Keyshia memerlukan api yang lebih besar untuk mencairkan hati yang beku itu. Tapi untuk membuat api itu, Keyshia tidak bisa melakukannya di tempat kerjanya. Sayangnya, Keyshia tidak pernah bertemu Ashton selain di tempat kerjanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD