18. Rencana

1642 Words
“Kamu mau ke mana?” Keyshia merasa mendapatkan serangan jantung saat seseorang tiba-tiba saja menepuk bahunya dari belakang lalu bertanya dengan suara rendah. “Kamu mengagetkanku,” seru Keyshia. Fani nyengir. Matanya kemudian memindai Keyshia dari atas ke bawah. Dandanan Keyshia membuatnya curiga. “Kamu mau ke mana?” tanya Fani curiga. “Aku ada acara di luar.” “Acara dengan teman kantormu?” Keyshia terdiam. Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya? Tapi jika dia mengatakan akan pergi ke club dengan Gabriela, tidakkah Fani akan merasa seperti dianak tirikan karena tidak diajak? “I-iya.” Pada akhirnya Keyshia memilih untuk berbohong untuk mencari aman karena pergi bersama Fani akan membuatnya semakin rumit. “Oh ya, ngomong-ngomong kamu mau ke mana?” Di bawah ada Gabriela yang sudah menunggu dan kebohongannya akan langsung terbongkar jika Fani memang ingin pergi ke bawah. “Aku akan ke tempat Louise.” Keyshia merasa lega saat mendengar nama Louise, salah satu tetangga apartemen mereka. “Kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Keyshia. “Hati-hati.” Kalimat hati-hati itu mengantar kepergian Keyshia. Di dalam lift, Keyshia mengirimkan Gabriela pesan agar menunggu di tempat yang tidak akan terlihat dari halaman depan apartemennya. Dia masih harus hati-hati agar Fani tidak melihat kepergian mereka. Permintaan Keyshia disanggupi Gabriela. Keyshia pun sampai harus berjalan sekitar duaratus meter dari depan jalan utama apartemennya. “Sudah membawa kartu-kartunya?” tanya Gabriela tepat di saat Keyshia masuk ke dalam mobil. “Ya, aku sudah membawa keduanya. Memangnya kamu ingin pergi ke club yang mana?” “Kamu baru datang ke satu club-kan?” Keyshia mengangguk membenarkan. Sekalinya pergi, dia malah hampir mendapatkan pelecehan. Membayangkannya membuat Keyshia bergidik ngeri. “Kita pergi ke club yang belum kamu datangi. Aku tidak ingin membuatmu tambah trauma dengan club.” “Tapi, Ashton belum tentu datang ke sana.” Keyshia tidak ingin kepergian mereka sia-sia. Dia yakin bisa mengontrol dirinya selama di club, jadi dia tidak masalah jika harus pergi ke club sebelumnya. “Jika tidak ada, kita bisa pindah. Besok weekend, sudah pasti pria itu akan berpesta sampai pagi.” “Baiklah,” ucap Keyshia pasrah. “Kita harus memikirkan drama apa yang akan kita buat jika bertemu dengannya.” “Apa harus?” Keyshia tampak kaget. Gabriela memutar bola matanya bosan. “Jika kita tidak menentukan alurnya, bisa-bisa kamu tidak memiliki kesempatan untuk bisa dekat dengannya. Mengerti?” “Aku belum terpikirkan harus bagaimana?” “Sebenarnya aku terpikirkan untuk membuatmu di bawa ke rumahnya.” “Kamu gila?!” seru Keyshia. Gabriela ingin membuatnya dibawa ke rumah Ashton seperti waktu itu? Itu jelas hal yang sangat mustahil dia lakukan untuk sekarang. Waktu itu, jika bukan karena dirinya yang terpengaruh obat-obatan, hal itu tentu tidak akan terjadi. “Aku tidak gila. Rencana selanjutku bahkan lebih gila tapi ini akan sangat membantu untuk hubungan kalian.” “Memangnya apa rencanamu selanjutnya?” Keyshia tampak takut untuk mendengar kegilaan Gabriela karena Gabriela memang orang yang tidak kenal takut untuk melakukan sesuatu. “Aku ingin kamu mabuk atau setidaknya pura-pura mabuk lalu mendekati Ashton hingga dia bersimpati untuk mengantarmu pulang. Karena dia tidak tahu rumahmu, mau tidak mau dia membawamu ke rumahnya. Dan saat sudah rumahnya, kamu harus berakting manja dan jangan lupa untuk menggodanya.” “Kamu gila!” ucap Keyshia. Ekspresinya terlihat ngeri saat menatap Gabriela. Bagaimana bisa Gabriela memiliki ide yang segila itu. Dan, tidakkah rencana seperti itu terlalu beresiko? “Ini salah satu cara yang ampuh.” “Ampuh untukku dibawa ke ranjangnya?!” “Maka dari itu aku ingin kamu pura-pura mabuk karena saat dia akan membawa ke tahap itu, kamu bisa pura-pura untuk tidur.” Lampu merah membuat Gabriela bisa mengubah posisinya berhadapan dengan Keyshia. “Jika kamu bisa sampai ke tahap itu, dia akan jadi sangat penasaran dan berakhir mengajar-ngejar kamu.” Penjelasan Gabriela membuat Keyshia tertegun. Itu terdengar sangat menggiurkan untuk dilakukan. Ini adalah cara cepat yang memiliki keberhasilan yang cukup tinggi untuk dilakukan. Tapi, apa dia mampu untuk berakting natural di depan Ashton? Bagaimana jika dia merusak semuanya? “Jika kamu tidak mau melakukan hal itu. Perkembangan hubungan kalian akan sangat lama. Bisa-bisa kalian hanya akan berakhir menjadi teman mengobrol saja.” Setelah mendengar perkembangan hubungan Ashton dan Keyshia, Gabriela merasa jika Keyshia benar-benar kurang berkesan dalam percintaan untuk seorang Ashton. Sehingga, Keyshia memerlukan gebrakan baru yang sedikit lebih berani. “Dan bagaimana jika dia tetap tidak tertarik?” “Kamu bisa membuat dirimu terikat dengan melakukan balas budi.” “Dia tidak akan mau menerimanya.” Jika mengingat hal yang lalu-lalu, Ashton jelas bukan seorang pria yang akan menerima balas budi. “Ya kita pikirkan itu nanti, yang jelas kamu harus mencoba rencanaku yang tadi,” kekeh Gabriela. Seorang seperti Ashton harus diberikan api untuk melelahkan tembok es yang sudah dia buat selama kurang lebih satu tahun ini. “Tapi bagaimana caraku bisa bersamanya jika aku bersamamu? Sudah pasti dia tidak akan mau repot-repot membawaku karena ada kamu.” “Aku akan melakukan apa yang Fani lakukan. Bedanya, aku akan mengawasimu dari jauh.” “Tidakkah itu akan membuatnya curiga? Dia sudah pernah memperingatiku untuk tidak datang sendirian atau pun hanya berdua.” “Ya katakan saja kamu masuk ke club karena ingin menemaniku mencari kekasihku. Itu semua kamu lakukan karena kamu takut melihatku pergi sendirian.” Ide-ide yang dikeluarkan Gabriela lagi-lagi membuat Keyshia tercengang. Di waktu yang singkat seperti ini, dia dengan mudah menyusun rencana. Tidakkah Gabriela harusnya menulis sebuah novel juga? “Kamu mau kan melakukannya?” Gabriela melirik Keyshia. “Cara ini adalah gebrakan. Jika dia tidak nyaman dengan hal itu, kamu hanya perlu berpura-pura tidak ingat dan melanjutkan rencana seperti biasa.” Keyshia menutup wajahnya. Dia bimbang dengan hal ini. Dia ingin melakukannya, tapi sekaligus takut. “A-aku tidak yakin bisa melakukannya,” lirih Keyshia. “Kamu bisa melakukannya. Aku yakin itu. Semakin cepat kamu menyelesaikannya. Semakin cepat pula kamu mendapatkan imbalannya Keyshia.” Jika diingatkan seperti ini, Keyshia ingat jika dia akan melakukan apa saja agar memiliki uang yang banyak agar dia tidak kebingungan untuk mencari biaya pengobatan Skyla. Tapi, tentu saja tidak dengan jual diri. Keyshia tidak ingin melakukan hal rendahan seperti itu. Dan rencana Gabriela ini sangat berkemungkinan tinggi membuat Ashton bernafsu hingga melakukan hal yang tidak-tidak walau dia sudah pura-pura untuk tidur. “Keyshia?” panggil Gabriela. “Ya?” “Jika kamu tidak ingin melakukannya, ya sudah. Aku akan memikirkan cara lain lagi.” Kebimbangan yang melandanya membuat Keyshia mencabuti bagian pinggir jari jempolnya. Sebuah kebiasaan yang dia lakukan jika merasa takut dan bingung. Kebiasaan ini padahal sudah berusaha dia hentikan agar jarinya tampak sehat, tapi kebiasaan ini malah kembali lagi dan lagi. “Aku… aku akan mencobanya.” “Serius? Oh ya Tuhan, semoga rencana ini berhasil.” “Ya jika dia ada di sana.” “Jika tidak ada, ya kamu hanya perlu belajar untuk akting lebih natural lagi.” “Doakan saja saat aku akting aku tidak tertawa atau pun membeberkan semuanya jika benar-benar mabuk.” “Kamu bisa melakukannya dengan sempurna, aku yakin dengan hal itu dan ayo patahkan julukan cantik tapi tidak berkesanmu.” “Itukan julukan yang kamu berikan,” sindir Keyshia. Jika dia tidak berkesan, mana mungkin Dylan menyukainya kan? Gabriela menanggapi ucapan Keyshia dengan tawa riangnya. Dia terlalu senang karena Keyshia mau sedikit lebih agresif dan dengan bantuan alkohol, citra Keyshia sebagai gadis yang baik-baik tidak akan rusak. Mereka akhirnya tiba di club. Sebelum masuk ke dalam club, Gabriela meyakinkan Keyshia dengan rencana mereka sekali lagi. “Kamu yakin kan?” “Aku akan mencobanya.” Sejujurnya Keyshia masih perlu waktu untuk melakukan sandiwara ini, apalagi Gabriela baru memberitahu alurnya. Jadi, dia sangat berharap jika Ashton tidak langsung muncul di hadapannya. “Ya sudah, ayo masuk.” Hingar bingar club menyambut mereka. Gabriela yang sudah cukup lama tidak pergi ke club terus menggoyangkan tubuhnya saat berjalan. Berbeda dengan Keyshia yang tampak lebih hati-hati karena matanya mencoba mencari sosok Ashton yang kemungkinan kecil menghabiskan malah di club ini. “Aku akan memesan minum yang kadar alkoholnya sedang. Kamu kuat, kan?” “Ya dan aku pikir akan lebih baik jika aku sedikit mabuk agar tidak terlalu malu.” “Bagus.” Pandangan Gabriela langsung tertuju pada tempat duduk di dekat pria-pria yang terlihat keren itu berada. Senyumnya pun mengembang dengan lebar lalu mengajak Keyshia untuk pergi ke sana. “Kamu sengaja memilih tempat ini,” ucap Keyshia. “Ini tempat yang strategis untuk melihat semuanya, Keyshia.” “Ya, ya, ya, terserah kamu,” cibir Keyshia. Sudah memilih tempat duduk, Gabriela pun memesan alkohol yang akan menemani malamnya dengan Keyshia. Mereka pun mencoba untuk terus menunggu keberadaan Ashton hingga kebosanan menghampiri mereka. “Aku akan berkeliling mencari keberadaan Ashton,” putus Gabriela. “Aku ikut.” “Tidak, kamu harus diam di sini. Tapi ingat, jangan menerima ajakan pria lain. Cukup diam di sini menunggu hingga aku datang lagi, oke?” Keyshia merasa de javu dengan semua hal ini. Tapi, ini jelas jauh lebih baik karena dia sudah tidak akan ditipu lagi. “Kamu harus cepat.” “Ya.” Ketegangan meningkat saat Keyshia mengingat kejadian di mana dia bertemu dengan Ruben. Rasa tidak nyaman itu membuat Keyshia tampak gelisah di tempatnya. “Pria sialan itu membuatku jadi ketakutan.” Kegelisahan Keyshia tertangkap jelas oleh orang-orang yang tidak sengaja melihatnya. Bahkan dia terlihat cukup mencolok karena baju tertutupnya. “Kenapa kamu berada di sini?” Keyshia hampir tersedak saat mendengar suara yang cukup keras di sampingnya. Dia menoleh lalu mendapati sosok yang dia cari. Tapi apa benar orang di sampingnya ini adalah pria yang dia cari? Tapi bagaimana bisa dia malah didekati seperti ini? “A-Ashton?” “Ya. Kenapa kamu berada di sini sendirian?” “Aku tidak….” Keyshia buru-buru menunduk saat dia sadar hampir melakukan kesalahan. Tidakkah dia harus berakting saat ini? “Keyshia, apa kamu baik-baik saja?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD