9. Kesialan yang Terus-Menerus

1536 Words
Keyshia tahu jika Sheena memiliki kuasa, tapi dia masih tidak percaya jika Sheena dapat dengan mudah membuatnya meliput kegiatan-kegiatan yang sekiranya akan membuatnya bertemu dengan Ashton. Keyshia melirik Dylan yang duduk di sampingnya. Dia tidur dengan nyenyak yang membuat Keyshia tersenyum tipis. Dylan tampaknya sangat lelah hingga meminta izin untuk menggantikannya menyetir. Dering ponsel terdengar nyaring memecah kesunyian. Keyshia yang sadar jika itu bukan dari ponselnya pun menggoyangkan tubuh Dylan. Mata Dylan sedikit terbuka yang membuat Keyshia semakin kencang menggoyangkan tubuh Dylan karena jika hanya dengan suara, Dylan tidak akan bangun. “Aku bahkan baru tidur,” keluh Dylan sambil mengangkat panggilan telepon itu. Sambil mendengar orang yang berbicara di telepon, pandangan Dylan tertuju pada Keyshia yang fokus menyetir. “Iya, aku bersama Keyshia.” Mendengar namanya disebut, Keyshia melirik Dylan. Dia jadi penasaran, kenapa namanya disebut Dylan? “Tidak bisa, katakan saja padaku.” Perasaan Keyshia mendadak tidak enak. “Iya akan kusampaikan.” Setelah itu panggilan itu pun berakhir. Keyshia yang penasaran pun langsung bertanya, “Kenapa menyebut namaku?” “Amore marah karena kamu mengirim file yang salah.” Mulut Keyshia terbuka lebar. “Apa kamu yakin?” tanyanya memastikan. Seingatnya dia sudah mengirimkan file yang benar ke Amore. “Tentu saja. Coba cek saja di ponselmu untuk memastikannya.” “Ponselku ada di tas.” Segera Dylan mengambil tas Keyshia yang ada di kursi belakang. Dia mencari keberadaan ponsel itu lalu menyodorkannya pada Keyshia. Sambil mencoba untuk memastikan email yang dia terkirim, Keyshia terus mengemudi. Fokusnya yang terbaru membuat Keyshia tidak sadar ada seseorang yang berjalan di depan mereka. “Keyshia awas!” teriak Dylan. Teriakan Dylan menyadarkan Keyshia hingga membuatnya dengan cepat menekan pedal rem. Napas Keyshia memburu, begitu juga dengan Dylan. Jarak mobil dengan pejalan kaki itu memang masih cukup jauh, tapi itu tetap saja terasa sangat membahayakan. Bisa-bisa mereka berdua terjerat hukum dan kehilangan pekerjaan karena hal ini. “Kalian tidak punya mata ya?!” teriak pejalan kaki yang hampir tertabrak tadi. “Kami minta maaf!” teriak Dylan. “Kamu saja yang menyetir.” Keyshia tidak ingin kejadian yang seperti tadi terulang lagi saat dia harus melakukan sesuatu yang lebih penting lainnya. “Maaf,” sesal Dylan. “Jika bukan karena aku yang egois memintamu untuk menyetir, ini semua pasti tidak akan terjadi.” “Aku yang harusnya minta maaf, bukan kamu.” Akhirnya Keyshia dan Dylan bertukar posisi. Keyshia pun bisa memeriksa email yang ternyata memang ada kesalahan file yang dia kirim di sana. “Astaga!” pekik Keyshia. “Pantas saja dia marah.” “Kalau begitu cepat kirim file yang asli.” “Ada di komputerku. Kira-kira, siapa yang sekarang ada di kantor?” tanyanya. “Seingatku Gabriela.” Tanpa pikir panjang, Keyshia menelepon Gabriela. Beruntungnya Keyshia, Gabriela langsung mengangkat panggilan teleponnya. “Halo Gabriela?” “Iya Keyshia, kenapa?” “Apa kamu bisa membantuku? Kirimkan file yang ada di komputerku ke Amore.” “Oh, oke-oke.” “Nama file dan juga password komputernya akan kuberitahu di pesan.” “Iya.” “Terima kasih.” Begitu panggilan telepon terputus, Keyshia mengetik dengan cepat. Jika diperhatikan, tangan Keyshia tampak bergetar. “Sudah, santai saja.” “Iya.” Hanya jawaban singkat yang mampu Keyshia berikan. Dia sudah cukup merasa sakit kepala karena dia baru saja membuat Amore marah dan hampir menabrak seseorang. Dua kesialan yang besar di pagi hari ini dan dia tentunya berharap tidak ada kesialan selanjutnya. “Lupakan saja kejadian tadi, sekarang fokus pada apa yang akan kita kerjakan.” “Iya.” Dylan berdecak, sebelah tangannya dengan gemas mencubit pipi Keyshia. Cubitan itu membuat Keyshia refleks menatap Dylan. “Semakin singkat jawabanmu itu, itu malah membuatku semakin khawatir. Awas saja aku sampai melihatmu tertekan hanya karena kejadian yang sudah lewat tadi,” ancam Dylan. Tangan besar Dylan yang hangat ternyata sama hangatnya dengan ucapannya. Keyshia yang merasa diberi perhatian seperti itu, tidak bisa menahan senyum lebarnya. Matanya bahkan terlihat menatap Dylan penuh rasa kagum. “Aku beruntung punya partner sepertimu.” Dylan terkekeh. “Aku tunggu teraktiranmu,” katanya bercanda. “Bagaimana jika aku membuatkanmu bekal saja? Aku tidak punya cukup uang jika harus mentraktir.” “Kamu pintar memasak, jadi aku tidak akan menolaknya.” Bagi Dylan, Keyshia itu sempurna. Buktinya, diam-diam banyak pria yang menaruh hati pada Keyshia. Tapi sampai saat ini, Keyshia tidak pernah peduli pada hal itu. Dan jika dia menjadi kekasih Keyshia, sudah pasti Keyshia tidak akan mengalami patah hati. Karena akan sangat merugikan jika dia sampai kehilangan perempuan seperti Keyshia. “... sempurna,” gumam Dylan. “Aku juga berpikir seperti itu. Dari luar saja gedungnya terlihat indah,” ucap Keyshia menanggapi gumaman Dylan. “Mereka memiliki gedung agensi yang sangat besar. Bahkan mereka memiliki gedung teater yang sangat modern dan sekarang kita berkesempatan untuk masuk ke dalamnya,” jelas Dylan yang baru saja tersadar dari keterkejutannya. Jika bukan karena press conference debut grup dari Hebe Entertainment, mereka tidak akan memiliki kesempatan yang seperti ini. Setelah memarkirkan mobil, Keyshia dan Dylan bergabung dengan kumpulan awak media yang menunggu untuk masuk ke area dalam gedung teater. Keresahan Keyshia karena kesialannya tadi sirna mengingat dia memiliki dua tugas di tempat ini. Pertama dia harus meliput, kedua dia harus berusaha untuk dekat dengan Ashton. Walau kemungkinannya kecil, dia akan berusaha untuk bertemu dengan Ashton, lalu mengajak pria itu makan malam. Tentu saja Keyshia sudah mempersiapkan cara agar dia bisa mengajak atau bahkan memaksa Ashton makan malam bersamanya. Walau dia seorang yang tidak pernah terlibat hal romantis, bukan berarti dia tidak tahu cara merayu seseorang. Baru hanya teori saja memang, tapi dia yakin bisa memperaktekkannya dengan baik. “Katanya, produser utama dari grup wanita ini adalah Ashton.” Bisikan itu mengalihkan perhatian Keyshia. Dia pun mencoba untuk memfokuskan pendengarnya pada topik yang membicarakan Ashton. “Akan sangat menyenangkan jika kita bisa meliputnya juga.” “Dia semakin tertutup setelah putus.” Keyshia diam-diam mengangguk membenarkan. Jika bukan karena Sheena, wajah Ashton tidak akan terkenal hingga ke penjuru dunia karena dulu wajah Ashton hanya dikenal oleh penikmat musik dari artis naungan Hebe Entertainment. Tidak bisa dipungkiri jika urusan percintaan selalu menjadi hit besar di dunia entertainment. Bahkan kehidupan Ashton yang dulu tenang, sekarang tidak akan bisa kembali seperti semula karena wartawan selalu penasaran dengan kekasih Ashton yang selanjutnya. Mereka penasaran, siapa yang bisa menggantikan tempat seorang Sheena. Terlepas kabar putus Sheena dan Ashton sudah satu tahun berlalu. “Akan sangat bagus jika dia menunjukkan kekasih barunya. Sheena pasti akan sangat marah dengan hal itu.” Dua wartawan itu tertawa mengingat bagaimana wajah Sheena yang kesal setiap ada yang menyebut nama Ashton. Mereka yakin Sheena pasti akan sangat marah jika melihat Ashton bahagia karena sampai sekarang Sheena saja belum menjalin hubungan lagi. Bahkan mereka mendapat kabar jika Sheena masih mencintai Ashton. Seorang staf kemudian datang mengintrupsi obrolan-obrolan dari para wartawan. Mereka kemudian dibawa menuju dalam teater. Begitu melewati pintu, Keyshia menatap takjub keseluruh penjuru ruang teater yang benar-benar indah. Lalu tatapannya pun terhenti di bagian tribune atas. Senyum Keyshia seketika mengembang lebar saat dia melihat sosok Ashton yang duduk di tribune atas. Keyshia yang tanpa sadar terang-terang memandangi Ashton tersentak saat mata dia dan Ashton saling bertautan. Senyum yang tadi sempat pudar kembali terangkat kaku yang kemudian dijawab oleh anggukan Ashton. Mata Keyshia melebar. Dia tidak menyangka Ashton akan membalas sapaannya walau dia tentu sangat berharap sapaannya itu dibalas! Gara-gara satu anggukan itu, dia merasa jika dia memiliki peluang untuk mendekati Ashton. Mungkin kemarin dia terlalu negative thinking sehingga beranggapan Ashton memperlakaukannya dengan tak berperasaan. “Ya Tuhan,” gumam Keyshia senang. “Cepat duduk.” Dylan menyiapkan tempat duduk untuk Keyshia. “Terima kasih.” “Apa kamu melihat yang di atas tadi?” bisik Dylan. “Ya, aku melihatnya.” “Sayang sekali dia duduk di atas. Kita tidak akan punya kesempatan untuk mewawancarainya.” “Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Bibir Keyshia berkerut tidak suka. “Feeling-ku saja dan entah kenapa aku yakin delapanpuluh persen.” “Aku yakin dia pasti akan mengatakan satu dua patah kata tentang rencana dia untuk mengembangkan grup barunya ini.” Sepuluh menit berlalu dan tidak ada info kapan press conference dimulai. Keyshia mendadak ingin pergi ke toilet. “Kenapa?” tanya Dylan yang terlalu peka dengan gerak-gerik Keyshia. “Aku mau pergi ke toilet dulu.” “Oh, oke. Hati-hati.” Keyshia bisa merasakan tatapan mata saat dia berjalan keluar. Di luar ada seorang staf yang langsung Keyshia tanyai di mana letak toilet. Selain untuk buang air kecil, Keyshia akan memperbaiki riasannya. Setidaknya dia harus terlihat cukup rapi untuk bertemu dengan Ashton. “Ini sudah lebih dari cukup.” Dengan senyum yang mengembang lebar, Keyshia keluar dari toilet. Dia hampir setengah jalan menuju ruang teater saat seseorang muncul dan menabraknya. Saat tabrakan itu terjadi, Keyshia bisa merasakan sensasi basah nan dingin dari d**a hingga ke perutnya. “Oh ya Tuhan!” seru orang itu dengan suara dengan nada rendahnya. “Aku benar-benar tidak berniat membuat blus putihmu basah seperti ini.” Blus putih? Pandangan Keyshia turun ke arah d**a dan perutnya dan pakaian dalamnya tercetak jelas di sana. Berbanding terbalik dari badannya, Keyshia merasa wajahnya memanas karena keberadaan Ashton yang ada di samping si penabraknya. Kesialannya ternyata tidak berhenti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD