“Ti-tidak, ini juga salahku.” Keyshia mengangkat pandangannya lalu tersenyum canggung. Dia sudah berusaha menutupi bagian dadanya, tapi ternyata tetap terasa tidak nyaman karena ada mata yang menatapnya.
“Segera bersihkan ke toilet, itu pasti sangat lengket,” ucap Ashton sambil merentangkan jaket miliknya ke bagian depan Keyshia.
“Pegang,” perintahnya karena Keyshia hanya memandanginya.
Keyshia tersentak dan dengan ragu-ragu dia mengambil jaket itu lalu berucap, “Kalau begitu aku ke toilet dulu.”
Dengan langkah yang cepat Keyshia kembali ke toilet. Di dalam kepalanya, dia terus-terusan merutuki dirinya yang terkenal kesialan. Terlebih kesialannya kali ini tepat di depan Ashton, pria yang ingin digodanya. Bukannya mendapatkan penilaian yang positif, dia malah bisa mendapatkan penilaian negatif.
Walau perasaannya buruk, Keyshia tidak bisa membiarkan dirinya larut dalam hal itu. Dia harus segera kembali ke ruang teater untuk bekerja. Jadi, dia dengan cepat membilas bekas minuman dengan warna merah yang ada di tubuhnya.
Setelah selesai, Keyshia memandangi dirinya di cermin. Bagian depan blus putihnya kemerahan dan sedikit basah walau dia sudah berusaha untuk mengeringkannya dengan pengering tangan.
“Aku tidak bisa keluar dengan penampilan seperti ini,” gumam Keyshia. Ini memang jauh lebih baik daripada sebelumnya, tapi tetap saja pakaian dalamnya akan terekspos.
Pandangan Keyshia kemudian tertuju pada jaket hitam besar milik Ashton. Sadar akan peluang yang menguntungkannya, kedua sudut bibir Keyshia terangkat secara perlahan.
“Kesialan yang menguntungkan,” katanya sambil memakai jaket itu.
Alangkah terkejutnya Keyshia saat mendapati Ashton berdiri tepat di depan pintu toilet. Dia sendirian, tidak ada temannya di sana.
“Apa kamu di sini untuk mengambil jaketmu?” tanya Keyshia sengaja.
“Tidak, tidak perlu. Temanku yang tadi menabrakmu akan mengganti bajumu. Tapi dia meminta maaf karena tidak bisa memberikannya secara langsung karena dia sibuk.”
“Tidak perlu, ini juga bukan baju mahal yang harus diganti.” Pegangan Keyshia pada tas yang dibawanya mengerat. Dia mendadak canggung dengan situasi ini, apalagi Ashton menatapnya dengan intens.
“Ini bukan masalah mahal atau murah. Bajumu rusak, sudah seharusya dia menggantikannya dengan yang baru. Jadi, cepat beritahu aku ukuran bajumu,” ucap Ashton yang terdengar tidak sabaran.
“Tapi…,” tatapan tajam Ashton membuat Keyshia kembali menelan kata-kata yang ingin dia lontarkan. “M,” jawab Keyshia lalu menggigit bibirnya. Semangatnya untuk bisa menggoda Ashton selalu goyah setiap dia berhadapan dengan Ashton. Terkadang dia terlihat ramah, tapi beberapa saat kemudian dia bisa terlihat tidak bersahabat.
“Baju itu akan datang setelah konferensi pers.”
“Maaf merepotkan.”
“Itu bukan salahmu. Dia saja yang tidak hati-hati.”
Melihat Ashton yang tampaknya ingin segera pergi dari tempat ini, Keyshia mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya.
“Kalau begitu—”
“Sebelumnya ada yang ingin kusampaikan,” potong Keyshia cepat. Seperti dugaannya, Ashton memang ingin segera pergi dari tempat ini.
“Aku ingin membalas semua kebaikan yang sudah kamu berikan,” ucap Keyshia sungguh-sungguh. Dia bahkan sampai memberanikan dirinya menatap Ashton saat mengatakan itu agar Ashton bisa melihat kesungguhannya.
“Kamu tidak perlu melakukan itu.”
“Seperti yang kamu katakan masalah bajuku. Ini juga sama seperti itu. Aku akan merasa berutang karena sudah dibantu olehmu.”
Perkataan Keyshia membuat Ashton menelan penolakan yang ingin dia lontarkan lagi.
“Lalu, kamu ingin melakukan apa?”
“Aku akan mentraktirmu makan malam.”
“Kapan dan di mana?”
“Untuk saat ini aku belum memikirkannya. Jadi aku akan memberitahukannya setelah memikirkannya.” Keyshia tersenyum malu-malu.
“Selama tempatnya private, aku pasti akan datang.”
“Aku mengerti jika kamu pasti tidak ingin terlibat gosip. Tapi, bagaimana cara aku menghubungimu untuk memberitahu detailnya?” Ini yang Keyshia inginkan, mendapatkan kontak pribadi Ashton.
“Kemarikan ponselmu.”
“Ah, baiklah.” Sambil menahan senyumnya, Keyshia memberikan ponselnya.
Keyshia merasa takjub saat melihat ponsel yang tidak pernah diganti selama dua tahun, terlihat sangat mewah saat dipegang Ashton. Lalu tidak lama kemudian Ashton mengembalikan ponsel itu.
Melihat apa yang tertulis pada kontak di ponselnya, Keyshia hanya bisa menelan pil pahit. Dia kira dia akan diberikan nomor ponsel Ashton, tapi dia ternyata hanya mendapatkan email pribadi Ashton.
“Aku akan membalasnya dengan cepat.”
“Iya. Kalau begitu, aku harus kembali ke dalam teater.”
“Acaranya akan dimulai sepuluh menit lagi. Ada beberapa kendala yang membuat acaranya ditunda cukup lama. Jadi kamu bisa berjalan dengan santai.”
“Begitu ya. Sekali lagi terima kasih dan permisi.”
Keyshia memilih pamit lebih dulu agar Ashton tidak beranggapan dia tengah mencari kesempatan untuk mendekatinya. Pelan namun pasti, itulah yang Keyshia yakini dan tidak menutup kemungkinan rencananya ini akan berhasil di akhir perjanjiannya dengan Sheena.
“Kenapa kamu lama sekali? Dan jaket… kenapa kamu tiba-tiba memakai jaket? Dan jaket siapa yang kamu pakai?”
Hantaman pertanyaan Keyshia dapatkan begitu dia tiba di tempat duduknya.
“Pelan-pelan, aku bahkan baru duduk.”
“Jadi bagaimana?” tanya Dylan setelah dua menit berlalu.
“Ada yang menumpahkan minuman di bajuku.”
Keyshia tidak pernah mau memakai pakaian orang lain. Jika sudah sampai seperti ini, itu berarti harus ada yang Keyshia tutupi. Begitu mengingat warna pakaian Keyshia, Dylan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Siapa yang melakukan itu?” tanya Dylan tidak terima.
“Aku tidak tahu namanya.”
“Oh ya Tuhan. Siapa saja yang melihatnya?” tanya Dylan khawatir.
“Keadaan di dekat kamar mandi sepi, jadi hanya mereka saja.”
“Perempuan atau pria?”
“Aku mengerti ke mana arah pertanyaanmu itu. Aku langsung menutupnyam jadi mereka belum melihatnya.”
“Ah, syukurlah.” Dylan merasa lega walau sejujurnya dia tidak terima. Dari ucapan Keyshia dia bisa menyimpulkan jika orang yang melakukan itu berjenis kelamin pria dan tidak menutup kemungkinan mereka sudah melihatnya sebelum Keyshia sempat menutupinya. Padahal sampai saat ini tidak pernah ada yang melihat Keyshia dalam balutan pakaian dalam saat berada di pantai sekali pun.
“Kenapa acaranya belum juga dimulai?”
“Katanya salah satu personilnya tiba-tiba mengalami cidera, jadi dia masih diberikan perawatan sebelum acara dimulai.”
“Ah, pantas saja.”
Selalu ada saja kejadian yang tidak terduga yang mengganggu acara yang membuat mereka akhirnya menunggu, tapi itu adalah hal yang biasa bagi Keyshia. Kesabaran mereka sudah terlatih dalam hal ini. Lalu, kurang dari sepuluh menit, acara tersebut akhirnya dimulai.
Jika dalam situasi bekerja seperti ini, Keyshia akan sangat serius. Berusaha semaksimal mungkin agar bisa menyelesaikannya dengan baik. Hingga tanpa terasa acara yang panjang itu berakhir.
“Bagaimana jika kita makan siang di tempat biasa?” tawar Dylan. Ini sudah lewat jam makan siang memang, tapi mereka masih bisa makan siang sebelum kembali ke kantor.
“Boleh.”
Mereka akhirnya keluar dari gedung teater, lalu seorang staf menghampiri Keyshia.
“Kamu Keyshia Miller bukan?” tanya Staf itu.
“Iya.”
“Ini baju ganti yang sudah dijanjikan.” Staf itu memberikan totebag.
Melihat brand yang tercetak di totebag itu, Keyshia merasa tenggorkannya seperti tercekat.
“Te-terima kasih.” Dengan berat hati Keyshia mengambil totebag itu. Dia tidak ingin blus murahan yang dia beli digantikan dengan barang branded seperti ini. Tapi dia tidak bisa melayangkan protesnya pada seorang staf seperti ini.
“Memangnya siapa yang menabrakmu?” tanya Dylan begitu staf itu pergi dari hadapan mereka.
“Aku tidak tahu, tapi dia bersama Ashton.” Keyshia tidak ada niat untuk menyembunyikan hal itu lagi setelah mendapatkan pengganti blusnya.
Mendengar nama Ashton, Dylan mengangguk mengerti. Pantas saja Keyshia mendapatkan ganti rugi dari brand mahal. Tapi mendadak kepala Dylan menjadi kaku.
“Jadi tadi saat kejadian ada Ashton?” tanya Dylan setelah sadar.
“Iya.”
“Wow… aku tidak tahu harus beraksi seperti apa.”
*
*
*
Di dalam kamarnya yang gelap, Keyshia memandangi layar komputernya. Seharusya sekarang dia fokus menulis novel barunya, tapi hal itu tidak bisa dia lakukan karena harus mencari tempat makan malam dengan Ashton.
Dia kira akan sangat mudah mencari tempat makan malam, tapi ternyata tidak semudah itu. Dia takut Ashton akan merasa tidak nyaman dengan hal itu. Walau sebenarnya Ashton juga tampaknya tidak masalah untuk makan di restoran sederhana, karena di salah satu informasi yang dia dapatkan, Ashton selalu pergi ke restoran kecil yang ada di dekat kantornya. Tapi, sangat tidak mungkin jika dia mengajak Ashton ke sana karena Ashton pasti akan curiga.
“Private dan murah….” Keyshia mengetuk jarinya gusar. “Tapi aku mau itu berkesan.”
“Berkesan… berkesan… berkesan….” Keyshia terus mengulangi kalimat itu.
Brak!
Keyshia memukul mejanya semangat. Sekarang dia tahu harus bagaimana. Tapi, masalahnya Keyshia tidak tahu, apakah Ashton akan mau dengan hal itu? Bagaimana jika dia tidak mau?
Keyshia mengambil ponselnya, dia mencoba untuk mengirim email ke Ashton. Ini memang sudah larut malam, tapi karena ini hanya email, Keyshia yakin jika Ashton tidak akan langsung membukanya.
Dari: Kayshia Miller
Kepada: Ashton O’Neil
Hallo Ashton, ini aku Keyshia. Sejujurnya aku bingung harus mengajakmu makan malam di mana, terlebih kamu pasti bisa pergi ke restoran mana pun yang kamu mau. Bagaimana jika aku saja yang memasak? Aku cukup percaya diri dengan kemampuan memasakku.
Aku tidak masalah jika kamu tidak setuju dengan hal ini.
Setelah mengirim email itu, Keyshia memutuskan untuk melanjutkan mencari restoran yang akan menjadi rencana keduanya. Sekitar lima menit kemudian, Keyshia merasa penglihatannya bermasalah. Bagaimana tidak, dia mendapatkan balasan email dari Ashton dan isinya membuatnya ternganga.
Dari: Ashton O’Neil
Kepada: Keyshia Miller
Aku terkesan dengan niat baikmu. Jadi, aku tidak akan menolaknya. Tapi, bagaimana jika tempatnya di rumahku saja? Aku merasa lebih nyaman melakukannya di rumahku.
Lalu, kapan waktu senggangmu?
“Ya Tuhan! Aaaa….” Keyshia menutup mulutnya rapat-rapat. Dia sangat ingin berteriak dengan kencang, tapi dia sadar jika tembok apartemen ini tidak tebal dan ini juga sudah tengah malam.
“Aku masih tidak percaya dengan hal ini,” kata Keyshia yang ulang membaca balasan email Ashton dengan takjub.
“Dia bahkan membalas emailku dengan cepat. Tapi dia tidak merasa terganggukan dengan email yang kukirim?”
Mengingat ini sudah tengah malam, memang sangat tidak sopan mengirim email selarut ini.
Keyshia menggeleng. Dia tidak boleh berpikir seperti itu. Jika Ashton keberatan dengan jam dia mengirim email, Ashton sudah pasti akan mengatakan keberatannya.
“Jika sudah seperti ini, aku harus membalasnya.”
Dengan perasaan riang gembira Keyshia mengetik balasan email untuk Ashton.
Dari: Keyshia Miller
Kepada: Ashton O’Neil
Bagaimana dengan hari rabu? Aku bisa pulang cepat saat itu. Rencananya aku akan memasak setengah matang di rumahku. Lalu aku akan menghangatkannya di rumahmu. Tidak masalahkan?
“Apa dia akan langsung membalas emailnya?” Keyshia menunggu dengan penuh percaya diri.
Dari: Ashton O’Neil
Kepada: Keyshia Miller
Rabu pukul 7 aku akan berada di rumah dan lakukan senyamanmu.
“Aku merasa Dewi Keberuntungan berada dipihakku.” Keyshia menari dengan bangga melihat balasan email dari Ashton.
“Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini. Aku harus membuat Ashton terkesan dengan masakanku. Tapi, aku harus masak apa untuk mengambil hatinya?”
Setelah masalah restoran, sekarang dia malah bingung masalah menu masakan apa yang akan dia masak.
“Sepertinya aku harus bertanya pada, Ibu.”