“Aku pulang,” suara Samuel terdengar lemah, seperti alunan nada yang kehilangan ritmenya. Julia, yang tengah duduk di meja makan, mengangkat alisnya dengan penuh rasa ingin tahu. Tatapannya tajam namun lembut, seperti sinar bulan yang menyentuh permukaan air. “Ada masalah, Sam? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?” tanyanya sambil melangkah mendekati sang suami. Samuel menggeleng pelan, gerakannya hampir tak terlihat. “Kau sedang makan apa? Aku mau,” katanya tanpa banyak basa-basi, tangan besarnya mengambil salah satu pie dari piring yang masih tersisa enam. “Pie buatan Mommy. Tadi sore dia mampir kemari dan memberiku pie,” jawab Julia dengan suara hangat, namun ada sedikit kerutan di dahinya. “Hm, begitu rupanya,” gumam Samuel sambil menggigit pie itu. Tatapannya kosong, seperti teng

