Julia melirik ke arah Samuel, matanya menyapu sosok pria itu dengan rasa canggung yang menggantung seperti kabut tipis di pagi mendung. Bayangan ciuman panas semalam menguar dalam benaknya, memicu desir halus yang seolah membelai tengkuknya. Di ruang makan yang diselimuti aroma kopi dan roti panggang, keduanya duduk, terperangkap dalam keheningan yang terasa lebih berat dari sekadar udara. Dering ponsel Samuel memecah suasana, dentingnya seperti palu kecil yang memukul keping ketegangan di antara mereka. Ia mengangkat panggilan itu dengan ekspresi datar, suaranya berat namun tegas. “Ya?” “Meeting dengan Tuan Kennet pukul sepuluh pagi apakah tetap dilanjutkan, Tuan?” tanya Pram di ujung telepon, suaranya samar seperti bayang-bayang yang enggan menampakkan diri. “Ya. Dilanjut saja.

