Dua hari berlalu. Matahari pagi mengintip malu-malu di balik tirai kamar rumah sakit, seakan menyambut Julia yang telah diperbolehkan pulang oleh dokter. Wajahnya yang sempat pucat kini mulai kembali berseri, meski sorot matanya menyimpan bayangan masa lalu yang belum sepenuhnya pudar. “Aku rasa, kondisimu cepat membaik karena ada Samuel di sampingmu. Coba saja kalau tidak ada, pasti akan lama sembuhnya,” celetuk Clara dengan nada menggoda, suaranya dipenuhi canda yang ringan seperti alunan angin pagi. Ia terkekeh pelan, menikmati rona merah yang segera menyemburat di pipi Julia. Julia menunduk, mengatupkan bibirnya rapat-rapat, seolah rasa malunya bisa tersimpan di sana. Namun, pancaran matanya yang berkilau mengkhianati perasaannya. “Kau pun sama, Clara.” Dania, dengan senyum bija

