“Julia?” Suara itu terdengar berat, serak, seperti pecahan kaca yang berserak di lantai. Julia menoleh perlahan, gerakannya seperti dihentikan oleh gravitasi rasa lelah dan luka yang belum sepenuhnya terobati. Senyum tipis mengembang di wajahnya, namun begitu ia melihat siapa yang berdiri di sana, senyum itu memudar, digantikan oleh kilatan kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan. “Samuel? Ada apa denganmu?” tanyanya, suaranya lirih namun penuh dengan kekhawatiran. Mata Julia membelalak ketika melihat wajah Samuel yang lebam, sudut bibirnya dihiasi jejak darah yang telah mengering, seperti bekas dosa yang enggan pergi. Samuel berjalan mendekat, setiap langkahnya seperti membawa beban dunia di pundaknya. Ia duduk di samping Julia, menggenggam tangan lembut itu dengan jemarinya yang

