“Aku sudah menemukan data tentang wanita itu.” Claudia melangkah anggun memasuki ruang kerja Argus, langkah sepatunya menggema lembut di atas lantai marmer dingin. Di tangannya, ia membawa sebuah map biru yang terlihat sederhana, namun isinya memiliki kekuatan untuk membuka tabir kehidupan Julia. Argus, yang sedang duduk di kursi berlapis kulit mahal, mengangkat pandangannya dari dokumen yang sebelumnya ia baca. Matanya menyipit, penuh minat, saat Claudia meletakkan map itu di atas meja kayu mahoni mengilap di hadapannya. “Dia hanya seorang anak panti asuhan,” kata Claudia, suaranya jernih, namun menyimpan nada cemooh yang samar. “Dia keluar dari panti itu dua tahun yang lalu.” Argus mendengus, bibirnya melengkung menjadi senyum sinis. “Hanya seorang anak panti?” gumamnya dengan nad

