“Bukan urusanmu!” ucap Samuel, suaranya sedingin embun yang membeku di pagi musim dingin. “Tentu saja sudah menjadi urusanku!” Julia membalas dengan suara yang meluap seperti air yang mendidih. “Mereka sudah mulai mengancamku atau mungkin aku yang lebih dulu mereka singkirkan.” Wajahnya memerah, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mulai membakar hatinya. “Atau,” ia menambahkan dengan tatapan yang menusuk, “memang kau sengaja menikahiku untuk mencari tumbal atas masalahmu?” Samuel tersentak mendengar tuduhan itu. Matanya menyipit, dan rahangnya mengeras seperti batu. “Bisa-bisanya otak dangkalmu itu menuduhku seperti itu!” desisnya dengan nada tajam, serupa bilah pedang yang baru diasah. Julia tak mundur sedikit pun. Ia melangkah maju, mendekat, matanya bersinar dengan am

