“Jangan menaruh harapan apa pun padaku, Julia. Aku tidak pernah berniat mencintai siapa pun, termasuk kau!” Samuel mengucapkan kata-kata itu dengan dingin, seperti belati yang menusuk tanpa ampun. Julia berdiri mematung sejenak, darahnya mendidih oleh kata-kata yang begitu tajam. Ia mendongak, menatap Samuel dengan penuh amarah, matanya yang berkilat seakan berkata lebih dari ribuan cercaan yang ingin ia lontarkan. “Siapa juga yang akan menaruh harapan padamu? Lebih baik aku menjadi janda selamanya daripada harus mencintaimu!” serunya dengan suara yang nyaring, namun bergetar di ujung. Tanpa menunggu respons, Julia berbalik, langkahnya cepat dan tegas, meninggalkan Samuel seperti badai yang mengamuk. Pintu kamar ditutup dengan keras, namun suara itu tidak cukup untuk meredakan gemuru

