“Tuan!” Pram memasuki ruang kerja Samuel, wajahnya tegang, seperti angin badai yang menyelinap di sela-sela jendela kamar yang terbuka. “Ada apa, Pram?” Samuel bertanya, keningnya berkerut seperti lekuk-lekuk guratan waktu yang tak kunjung memberi jeda. Proposal yang baru saja ia baca ditutup dengan gerakan penuh kesabaran yang terkendali, seolah dunia di tangannya, tetapi hanya untuk sementara. Tanpa banyak kata, Pram menyerahkan iPad yang digenggamnya, jari-jarinya gemetar kecil seperti daun yang terusik oleh hembusan angin musim gugur. Di layar, terpampang berita yang menggemparkan: Samuel terciduk membawa Julia ke kamar hotel, menyeret wanita itu ke dalam kamar yang telah ia pesan. “Sial!” desis Samuel, suaranya rendah namun penuh bara. Dengan gerakan penuh amarah, ia membanti

