“Baca semuanya. Kau punya waktu sepuluh menit,” ujar Samuel, suaranya dingin seperti biasa.
Pagi itu, jam dinding di ruang tengah berdentang pelan, menandakan pukul sembilan. Julia sudah duduk di sofa, masih mengenakan dress santai yang diberikan oleh pelayan tadi pagi. Pandangannya kosong, tetapi jantungnya terasa berat, seperti dihimpit oleh kenyataan yang tak ingin ia hadapi.
Samuel berdiri di hadapannya dengan wajah datar, tanpa sedikit pun emosi. Di tangannya ada setumpuk kertas—kontrak pernikahan yang telah disiapkan dengan detail yang tak bisa diganggu gugat.
Julia menghela napas panjang. “Bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar, seraya menatap kosong pada kertas-kertas itu.
Samuel tidak menanggapi, hanya menatap jam tangannya, menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak memiliki waktu untuk basa-basi.
Julia membaca poin-poin dalam kontrak itu dengan teliti. Ia membaca lebih dari lima kali, berharap ada celah yang bisa mengubah keadaan.
Namun setiap kalimat, setiap aturan, terasa seperti tembok yang menjebaknya. Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia mengambil pena dan menandatangani kontrak itu.
Samuel mengulurkan tangannya, mengambil kertas tersebut tanpa sepatah kata. Kemudian, ia membuka kotak beludru kecil yang diberikan oleh Pram. Di dalamnya ada cincin emas dengan desain sederhana namun elegan.
“Ini hanya formalitas,” ujar Samuel datar, seraya mengambil cincin itu. “Mereka sudah tahu wajah istriku.”
Ia meraih tangan Julia tanpa meminta izin, lalu melingkarkan cincin tersebut di jari manisnya. Tidak ada senyum, tidak ada janji manis, hanya dinginnya sikap Samuel yang menyelimuti momen itu.
Julia menatap cincin itu dengan nanar. Ia kini resmi menjadi istri seorang pria yang bahkan tidak pernah ia kenal sebelumnya, hanya karena keadaan yang memaksanya.
“Aku ada meeting pukul sepuluh,” ucap Samuel sambil melirik jam tangannya. “Semua keperluanmu di sini akan dilayani oleh pelayan.”
Ia berdiri, mengambil kontrak pernikahan yang telah ditandatangani Julia, lalu berjalan pergi tanpa menoleh.
Julia menatap punggungnya yang tegap, perlahan menghilang di balik pintu ruang tengah. Ia menggelengkan kepala dengan pelan, perasaan bingung dan hampa melingkupi dirinya. “Dingin sekali sikap pria itu,” gumamnya pelan.
Ia menoleh ke kanan dan kiri, menatap ruang tamu yang luas dengan perabotan mewah. Ruangan itu terasa seperti penjara emas baginya.
Segala yang ia lihat tidak terasa nyata. Ia tidak terbiasa dengan kemewahan ini, karena hidupnya sebelumnya hanya berkutat di kost-an kecil dengan fasilitas seadanya.
Julia menutup matanya dengan erat, berusaha menenangkan diri. “Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya kepada dirinya sendiri.
Namun, tidak ada jawaban, hanya keheningan rumah besar itu yang seolah mengejeknya. Ia berharap ini semua hanyalah mimpi buruk, tetapi kenyataannya jauh dari apa yang ia inginkan.
Julia membuka matanya kembali, menyadari bahwa ia tidak punya pilihan selain menghadapi hari-hari barunya sebagai istri pria dingin bernama Samuel Louis Evander.
*
“Apa maksud dari media yang sudah muncul sejak semalam ini, Samuel?” suara Mark terdengar tajam, membuka pembicaraan tanpa basa-basi.
Samuel menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum menjawab. “Argus menjebakku. Dia memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku di pesta. Jika berita skandal itu keluar, reputasiku akan hancur. Maka dari itu, aku memutuskan untuk menikahi wanita yang terlibat denganku malam itu.”
Mark tercengang, tubuhnya terdorong sedikit ke belakang di kursi yang ia duduki. Tatapan matanya tajam, namun ada ketidakpercayaan yang jelas di sana.
“Jadi sekarang kau sudah memiliki istri? Begitu saja? Tanpa persetujuan dariku?” nada suaranya naik, meskipun ia berusaha mengendalikannya.
Samuel hanya menatap ayahnya tanpa emosi. “Ya. Tidak ada waktu untuk meminta persetujuan. Langkah ini yang terbaik untuk menyelamatkan situasi.”
Mark mendesah berat, kedua tangannya kini berada di atas meja, saling bertaut. “Siapa wanita itu? Aku ingin bertemu dengannya.”
“Tidak sekarang, Dad. Dia masih shock. Aku tidak mau menambah bebannya dengan pertemuan yang tidak perlu.” Samuel menjawab dengan nada datar, tanpa memberi ruang untuk diskusi lebih lanjut.
Mark menghela napas panjang lagi, mengusap wajahnya yang mulai memerah karena emosi. “Tentu saja dia shock! Kau memperkosanya, lalu tiba-tiba menikahinya. Kau pikir semua itu mudah diterima?”
Kalimat itu menusuk, namun Samuel tetap tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia hanya berdiri diam, membiarkan ayahnya meluapkan kemarahan.
“Ini bukan hanya tentang dirimu, Sam. Kau telah menyeret wanita itu ke dalam masalah besar. Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?”
Samuel akhirnya berbicara, nadanya tetap tenang. “Aku sadar, Dad. Aku tahu ini salahku, tapi aku tidak akan membiarkannya terlibat lebih jauh. Semua ini sudah kuatasi.”
Mark menatap putranya dengan pandangan sulit ditebak. Ada kemarahan, kekecewaan, tapi juga keprihatinan di matanya.
“Kau tahu, Sam, kau mengingatkanku pada masa laluku. Bedanya, aku dan ibumu tidak pernah melibatkan skandal seperti ini. Apa yang kau lakukan sekarang jauh lebih rumit.”
Mark mengusap keningnya, merasakan pening yang mulai menguasainya. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara lagi. “Baiklah. Kalau begitu, jaga wanita itu baik-baik. Jangan sampai dia terjebak lebih dalam dalam masalahmu. Dia pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik, meskipun kau menikahinya karena terpaksa.”
Samuel mengangguk perlahan. “Tenang saja, Dad. Aku akan menjaga Julia. Dia tidak akan terlibat lebih jauh dalam masalah ini.”