“Ini… pakaian dan barang-barang milikku. Kenapa ada di sini?” tanya Julia, suaranya tercekat antara bingung dan marah.
Ruangan kamar itu kini dipenuhi oleh barang-barang yang sangat dikenali Julia—pakaian, buku, bahkan sepatu-sepatu lamanya yang sebelumnya berada di tempat kos kecilnya.
Dia berdiri terpaku, matanya membelalak melihat semuanya dibawa oleh para pelayan Samuel ke dalam kamar megah yang kini menjadi tempat tinggalnya.
“Aku yang membawanya.”
Julia berbalik cepat. Samuel berdiri di ambang pintu kamarnya, masih mengenakan setelan jas hitamnya yang tampak rapi meskipun ia terlihat lelah. Tatapannya dingin seperti biasa, tanpa ekspresi yang bisa ditebak.
Tanpa berpikir panjang, Julia melangkah menghampirinya. Ia berdiri cukup dekat, menatap Samuel dengan tatapan datarnya yang penuh dengan ketidakpercayaan. “Kau tahu tempat tinggalku?” tanyanya, mencoba menahan emosinya.
Samuel mengangguk pelan, tanpa beban. “Tentu saja.”
Julia mengepalkan kedua tangannya, mencoba mengendalikan diri. “Kau mencari tahu tentangku, huh?”
Samuel mengangkat bahu ringan, seolah hal itu bukan sesuatu yang luar biasa. “Cukup mudah bagiku.”
Julia menghela napas panjang, memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan diri. Ketika ia kembali menatap Samuel, nadanya terdengar tajam. “Apa maksud dari semua ini, Samuel? Kau sendiri yang bilang, jika pernikahan ini hanya berlaku sampai satu tahun. Jadi, tidak perlu membawa semua barang-barangku ke sini.”
Samuel hanya mengedikkan bahu dengan cuek. Tanpa menjawab, ia berbalik dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Julia yang masih berdiri di tempat dengan perasaan geram.
“Samuel! Aku belum selesai bicara!” teriak Julia kesal, suaranya menggema di ruangan itu.
Namun, Samuel tidak menghentikan langkahnya. Pintu kamar mandi tertutup, menandakan bahwa pria itu memilih untuk mengabaikannya. Julia berdiri di sana, menatap pintu kamar mandi dengan marah.
“Dasar, pria aneh. Dia benar-benar menguji emosiku,” gerutu Julia, sembari berbalik pergi dari kamar itu.
Dia melangkah menuju ruang tengah dan menjatuhkan tubuhnya di sofa yang empuk. Rumah ini terlalu besar dan sepi untuknya, tetapi sekarang justru membuatnya merasa terkekang.
Tiba-tiba, suara bel menggema di dalam rumah. Julia bangkit dari sofa dengan rasa penasaran. “Siapa yang datang?” gumamnya, berjalan menuju pintu utama.
Ketika ia membuka pintu, seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat seksi berdiri di sana. Wajahnya dihiasi senyum tipis, tetapi ada kesan arogan dalam sorot matanya.
“Oh! Istri Samuel rupanya yang membukakan pintu untukku.” Wanita itu memandang Julia dari atas ke bawah dengan tatapan menilai, kemudian melanjutkan, “Di mana suamimu, Julia?”
Julia mengerutkan kening, bingung sekaligus terganggu oleh cara wanita itu berbicara. Dari mana dia tahu namanya?
Julia menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan wanita itu. “Dia sedang mandi,” ucapnya dengan nada datar.
Claudia, wanita cantik dengan pakaian yang terlalu mencolok untuk kunjungan pagi hari, mengangkat alis. “Apa kau tidak mengizinkanku masuk?” tanyanya, menyematkan senyum tipis yang tidak menyenangkan.
Julia menatapnya ragu sejenak, tapi akhirnya membuka pintu lebih lebar, isyarat bagi wanita itu untuk masuk. Claudia melangkah dengan percaya diri ke dalam rumah, sementara Julia mengikuti dari belakang, mengamati setiap gerak-geriknya dengan cermat.
Siapa sebenarnya wanita ini? pikir Julia, tatapannya menelusuri setiap langkah Claudia yang tampaknya sangat akrab dengan tempat itu.
Claudia berjalan menuju ruang tengah, matanya memindai sekeliling sebelum berseru dengan nada manis, “Hi, Sam!”
Samuel keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai, handuk melingkar di lehernya. Dia berhenti di ambang pintu ruang tengah, tatapan dinginnya bertemu dengan Claudia. “Ada apa? Kau sedang mencari informasi tentang istriku? Bukan di sini tempatnya,” katanya dingin sambil mendekati Julia. Tangannya menarik Julia mendekat hingga wanita itu kini berada dalam pelukannya.
Julia terkejut, tetapi Samuel tidak memberinya waktu untuk protes. Claudia, di sisi lain, menahan napas sejenak melihat keintiman yang Samuel pamerkan. Namun, dengan cepat dia mengulas senyum ramah kembali.
“Jangan salah paham, Sam. Aku hanya ingin melihat dengan jelas wajah istrimu. Siapa tahu aku mengenalnya,” ucap Claudia dengan nada ringan, meski matanya berkaca tajam pada Julia.
Samuel tidak bergeming. Dia mengibaskan tangannya, sikapnya jelas-jelas menunjukkan rasa muak. “Pergilah. Aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun,” ujarnya dingin.
Claudia menatap Samuel, raut wajahnya sempat berubah kecewa, tetapi dia tidak memperlihatkan kemarahan. “Baiklah, kalau itu maumu,” ucapnya, sebelum berbalik dan berjalan keluar dari rumah dengan langkah santai.
Namun, sesampainya di mobil mewahnya, Claudia mengeluarkan ponsel dan dengan cepat menelepon seseorang.
“Samuel tidak bohong. Wanita itu ada di rumahnya!” katanya dengan nada tegas, menekan setiap kata seperti laporan mendesak.
Suara pria di seberang telepon terdengar gusar. “Sial!” desisnya. “Singkirkan wanita itu. Jangan sampai rencana kita gagal, Claudia!”