“Kenapa tidak kau nikahi saja wanita tadi? Dia cantik, dan sepertinya sangat menyukaimu.” Julia menatap Samuel yang duduk di seberang meja, fokus pada layar ponselnya.
Sesekali dahinya mengerut, entah karena sesuatu yang penting atau hanya kebiasaan berpikir keras. Keheningan di antara mereka terasa berat, dan Julia memutuskan untuk membuka suara.
Samuel perlahan mengangkat pandangannya dari ponsel, matanya menatap Julia dengan datar. “Dia terlalu murahan,” ucapnya singkat, tanpa nada emosi.
Julia tertegun, mengatupkan bibirnya rapat. Kalimat Samuel menusuk dengan dingin dan tajam, tanpa belas kasih. Selain sikapnya yang dingin, Julia kini tahu suaminya ini juga sangat frontal jika sudah tidak menyukai seseorang.
“Begitu rupanya,” gumam Julia, lebih kepada dirinya sendiri.
Samuel menghela napas panjang, seolah pembicaraan itu mengusik kesabarannya. “Jangan gunakan ponselmu yang lama. Batasi hubunganmu di luar sana, dengan siapa pun,” ujarnya dengan nada perintah, kembali memusatkan perhatian pada ponselnya.
Julia menaikkan kedua alisnya, menatap Samuel dengan ekspresi tidak percaya. “Kenapa kau mengatur hidupku?” tanyanya, nadanya mulai meninggi.
Samuel mendongak, tatapannya tajam. “Masih ingat perjanjian yang telah kau tandatangani?” ujarnya datar, mengingatkan Julia akan persetujuan yang telah ia tanda tangani pagi tadi.
Julia mendengus sebal, melipat kedua tangannya di d**a. “Kau hanya boleh menghubungiku, Pram, orang tuaku, dan juga sahabat dekatmu yang berisik itu,” tambah Samuel dengan nada tegas.
Julia menghela napas kasar, mencoba menahan rasa frustrasi yang mulai mendidih. “Aku ingin tetap bekerja. Aku tidak ingin menggunakan semua fasilitas yang kau berikan padaku,” ucapnya, mencoba menawarkan opsi yang menurutnya masuk akal.
“No!” sergah Samuel dengan cepat. Mata dinginnya menatap tajam ke arah Julia, menghentikan segala bentuk protes sebelum terlontar.
Julia mengerutkan keningnya, menahan dorongan untuk membalas. Namun, Samuel melanjutkan dengan nada tegas. “Gajimu yang tidak seberapa itu akan menjadi pertanyaan besar jika kau masih bekerja di sana. Statusmu di hotel itu sudah dinonaktifkan sejak satu bulan yang lalu.”
“What?!” Mata Julia membulat sempurna. Ia benar-benar tidak menyangka.
Samuel, seperti biasa, tetap tenang. “Kebetulan pemilik hotel itu teman dekatku. Mudah bagiku mengubah apa pun, termasuk statusmu di sana,” jelasnya tanpa rasa bersalah.
Julia mendengus sebal, emosinya semakin memuncak. “Rupanya kau telah sejauh ini, Samuel. Bahkan sampai pekerjaanku pun kau kendalikan,” ucapnya dengan nada penuh kejengkelan.
Samuel hanya mengangkat bahu, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah. Baginya, segalanya harus sesuai dengan rencana, bahkan jika itu berarti menyingkirkan kehendak Julia.
“Kau pikir aku main-main, Julia? Aku tidak pernah setengah-setengah dalam apa yang aku lakukan. Dan mulai sekarang, kau harus menerima kenyataan bahwa hidupmu sudah terikat denganku. Setidaknya, selama satu tahun ke depan.”
“Kau hanya boleh menghubungiku jika sedang darurat. Selebihnya, jangan menggangguku,” ujar Samuel dengan nada datar, matanya kembali tertuju pada layar ponselnya, seolah tidak peduli dengan reaksi Julia.
Julia menatapnya dengan tajam, jantungnya berdegup kencang karena amarah yang mulai menguasai dirinya. “Siapa juga yang mau menghubungimu! Lebih baik aku mengobrol dengan ikan, daripada bicara denganmu,” ucapnya dengan nada penuh kecemasan yang berubah menjadi sarkasme.
Dengan cepat, Julia beranjak dari duduknya, berniat meninggalkan Samuel yang hanya membuatnya muak. Sebelum ia melangkah lebih jauh, suasana hati yang panas membuat darahnya naik. Tanpa berpaling lagi, ia melangkah menuju pintu depan rumah, ingin menjauhkan diri dari pria yang kini menjadi suaminya tanpa cinta.
Samuel hanya menggelengkan kepala, menatap punggung Julia yang menghilang dari pandangannya. “Apakah dia akan bicara dengan ikan?” gumamnya pelan, meski ada sedikit senyuman terukir di wajahnya yang tidak terlihat serius.
Namun, tak lama setelah itu, ponselnya berdering. Samuel meraih ponselnya, menyapa orang yang meneleponnya tanpa ekspresi.
“Ya, Pram?”
Pram di seberang sana terdengar sedikit cemas. “Tuan, saya baru saja mendapatkan beberapa informasi tentang Nona Julia. Dia berasal dari panti asuhan yang cukup jauh dari kota ini. Tidak memiliki banyak kerabat, dan hanya memiliki satu sahabat dekat saja. Saya akan menemuinya dan memberikan uang tutup mulut agar tidak mengatakan apa pun.”
Samuel mendengus pelan, lalu menghela napas panjang, sesaat menimbang apa yang baru saja didengar. “Jadi benar, Julia seorang yatim piatu?”
“Menurut data yang saya dapatkan, Nona Julia dibuang oleh ibunya di depan panti asuhan tersebut, Tuan.” Pram menjelaskan lebih lanjut, seperti biasa, penuh dengan detail yang disusun rapi.
Samuel terdiam mendengar penuturan Pram. Rasa geli dan sesal sedikit terasa, tapi ia menelan salivanya, berusaha mengendalikannya.
“Jika Anda berkenan, saya akan mencaritahu keberadaan orang tua kandung Nona Julia. Media masih ramai membahas tentang pernikahan Anda dengan Nona Julia.” Pram melanjutkan, tanpa menyadari betapa berat topik yang baru saja ia ungkapkan.
Samuel kembali mendengus, kemudian berbicara dengan nada serius. “Cepat atau lambat, orang tua Nona Julia akan datang menemuinya karena dia tahu, ini akan menjadi keuntungan besar untuk mereka.”
Pram sejenak terdiam, namun tidak lama kemudian, ia kembali menjawab dengan hati-hati, “Apakah Anda ingin saya melakukan sesuatu terkait hal itu, Tuan?”
Samuel menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tak bisa dipahami dengan mudah. “Dan jangan sampai hal itu terjadi!”