“Orang tuaku mengundangmu makan malam,” ucap Samuel, menghampiri Julia yang duduk di tepi kolam ikan.
Senja menorehkan warna emas di atas permukaan air, memantulkan gemerlap dari ikan-ikan koi yang beraneka warna seperti potongan pelangi yang berenang dengan anggun.
Julia, dengan sikap tenangnya, menaburkan pakan, membuat air bergelombang kecil, seolah setiap ikan berebut memamerkan keindahan siripnya.
Julia menoleh perlahan, tatapannya datar namun setajam ujung jarum yang menyentuh relung jiwa. “Aku tidak punya pakaian bagus untuk bertemu dengan orang tuamu. Mereka akan menilai buruk jika aku mengenakan pakaian seadanya,” ujarnya, nada suaranya terdengar bagai bisikan angin dingin yang menelusup.
Kening Samuel mengerut, membentuk kerut-kerut ketidaksenangan. “Kau menilai orang tuaku seorang yang pilih-pilih?”
“Ya. Kebanyakan orang kaya selalu seperti itu,” jawab Julia santai, seolah lontarannya adalah kebenaran mutlak yang tak butuh pembelaan.
Samuel menghela napas panjang, berat dan dalam seperti menahan beban tak kasatmata. “Tidak semua keluarga kaya raya seperti itu. Pakai saja pakaian yang sopan dan bersih. Orang tuaku bukan seperti yang ada di otakmu!” katanya, nadanya tajam namun tak melukai, seperti ombak yang menghantam batu karang.
Ia berlalu pergi, meninggalkan Julia yang hanya menyunggingkan senyum tipis, setipis kelopak mawar layu yang tertiup angin. “Anaknya saja seperti ini, bagaimana dengan orang tuanya?” gumamnya, nada suaranya lirih namun penuh sindiran halus.
Pikirannya melayang, menyusun sketsa imajiner tentang orang tua Samuel yang mungkin menilainya rendah, seolah dirinya tak lebih dari setitik debu di antara gemerlap permata keluarga mereka.
Namun, siapa yang menyangka jika prasangkanya akan begitu salah?
Kini, dirinya telah berdiri di depan pintu rumah keluarga Evander, sebuah istana kecil dengan taman yang dipenuhi bunga bermekaran, aromanya manis seperti musim semi yang abadi.
Sambutan hangat keluarga Samuel membuat Julia terpaku, mulutnya sedikit terbuka, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
“Selamat datang di rumah kami, Julia. Aku Dania, ibu Samuel, dan ini Clara, kakak Samuel. Stevan, menantuku. Itu pria yang sangat tampan adalah Mark, suamiku,” ujar Dania, senyumnya lembut seperti sinar bulan yang memeluk malam.
“Salam kenal. Aku Julia,” jawab Julia dengan sopan, mengulurkan tangannya menjabat tangan Dania. Hawa tangan Dania terasa hangat, seperti api kecil yang membakar prasangka dingin di hatinya.
“Ayo, masuk. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua,” ucap Dania riang, nadanya seperti lonceng kecil yang berbunyi di tengah kesunyian.
Julia mengulas senyum, meski hatinya masih bergejolak. “Pasti masakanmu sangat enak, Nyonya Dania.”
“Nyonya? Apa aku tidak salah dengar?” Dania terkejut, namun tawanya pecah seperti bunga yang merekah di pagi hari. “Panggil Mommy saja.”
“Dan panggil aku Daddy,” tambah Mark dengan suara berat namun bersahabat, seperti batu karang yang kokoh di tengah samudra.
Julia meringis kecil mendengar perkataan itu, seolah sebuah duri halus menyusup ke hatinya. Ia mengangguk perlahan, pandangannya melirik ke arah Samuel. Namun pria itu, seperti sebuah patung yang terukir sempurna, hanya diam membatu. Bahkan sekadar menoleh padanya pun, sepertinya enggan, seperti jarak yang tak kasatmata telah membentang di antara mereka.
“Well, Julia. Aku tahu pertemuan kalian sangat mendadak,” suara Mark mengalun, rendah dan dalam seperti guruh yang menggema dari kejauhan.
“Dan Samuel tiba-tiba memperkosamu, menjadikanmu istri. Itu pasti sangat mengguncang hatimu.” Kata-katanya terucap bagai bilah pisau yang mengiris udara, menyisakan keheningan yang menggantung berat di ruangan itu.
“Samuel membutuhkanmu,” lanjut Mark, menatap Julia dengan mata yang seolah menyiratkan harapan sekaligus beban. “Dia harus menjaga nama baik perusahaan kami, dan aku sangat berterima kasih padamu.”
“Dad!” Samuel akhirnya bersuara, nada datarnya seperti es yang tak kunjung mencair. Ia menatap ayahnya dengan pandangan tajam, penuh ketegasan.
“Tidak perlu berterima kasih padanya. Aku sudah memberinya fasilitas mewah selama menjadi istriku,” ujarnya dingin, seolah setiap kata yang diucapkannya hanyalah fakta kosong tanpa perasaan.
“Selama menjadi istrimu?” Dania, ibunya, mengerutkan kening. Wajahnya yang lembut kini menyiratkan kebingungan yang mendalam.
“Apa maksudmu, Sam? Kenapa kau berkata seperti itu?” tanyanya, suaranya seperti melodi halus yang terdistorsi oleh rasa cemas.
Samuel menghela napas panjang, seperti ingin mengusir beban yang menyesaki dadanya. “Kalian tahu kan, jika aku tidak berniat untuk menikah? Dengan siapa pun, termasuk Julia. Kalau bukan karena terdesak, aku tidak akan membawanya dalam masalahku,” ucapnya, nada suaranya seperti guratan dingin dari angin musim dingin yang menggigit kulit.
“Sam! Kau sudah berjanji padaku—“ Mark berusaha menyela, namun Samuel memotongnya, nadanya semakin tegas.
“Ya! Aku sudah berjanji padamu agar Julia tidak terseret dalam masalahku. Namun, bukan berarti aku harus bertahan dengannya selamanya, kan? Bahkan sampai saat ini aku masih memegang teguh prinsipku.”
Kata-kata Samuel terucap seperti palu yang menghantam meja, menggema di ruangan itu. Keheningan sejenak menyelimuti mereka, hanya terpecah oleh suara helaan napas yang berat.
Samuel, dengan keangkuhan yang seperti tembok tinggi, semakin menunjukkan sisi dingin dan arogannya, bahkan kepada kedua orang tuanya sendiri.
“Oh my God, Sam! Mau sampai kapan kau tidak percaya bahwa pernikahan itu bisa membuatmu bahagia?” Clara, kakaknya, akhirnya ikut campur, suaranya yang biasanya penuh keceriaan kini terdengar getir.
“Bahkan kedua orang tua kita saja membuktikan bahwa pernikahan itu tidak menyeramkan!” serunya, nadanya penuh frustrasi, seperti seseorang yang mencoba menerobos dinding yang tak tergoyahkan.
“Shut up, Clara! Aku tidak membutuhkan nasihat darimu.” Suara Samuel menggema dingin di ruangan, tajam seperti pecahan es yang menghantam permukaan kaca.
Tatapannya menusuk ke arah Clara, mata gelapnya dipenuhi kemarahan yang terpendam, seolah ingin memadamkan segala perlawanan dengan pandangan itu saja.
Clara menggelengkan kepalanya perlahan, napasnya berat seperti seseorang yang baru saja menelan kepahitan yang tak terelakkan. Ia kemudian beralih menatap Julia, wajahnya melunak, mencoba menawarkan pelipur lara di tengah badai.
“Jangan dengarkan ucapan gila Samuel, Julia. Aku yakin dia akan termakan ucapannya sendiri,” ucap Clara lembut, meski nadanya mengandung ketegasan yang terselubung. Julia yang duduk di sana tampak tegang, tubuhnya kaku seperti daun yang tertahan sebelum jatuh.
Namun, senyuman kecil muncul di bibir Julia, tipis namun penuh ironi. “Sejak awal aku diseret pun, dia hanya berniat meluapkan amarahnya karena dijebak oleh rekan kerjanya.
“Membawaku ke dalam pernikahan yang tidak dia inginkan dan aku harus bertahan hingga satu tahun sesuai kontrak yang sudah kami sepakati,” katanya, suaranya tenang namun setiap kata yang keluar seperti pisau tajam yang memotong keheningan.
“What? Astaga, Sam. Apa kau gila?” Dania, yang sejak tadi diam mendengar, akhirnya berseru.
Suaranya pecah seperti cermin yang dihantam keras, penuh keterkejutan dan rasa tak percaya. Wajahnya kini memerah, mata yang biasanya lembut kini penuh dengan kekecewaan.
“Sebaiknya tidak perlu ikut campur dalam urusan rumah tanggaku,” balas Samuel, nadanya penuh kehampaan, seolah-olah setiap kata yang ia ucapkan adalah dinding yang menutup dirinya dari dunia.
“Aku melakukan ini agar tidak ada lagi masalah yang harus aku selesaikan! Karena membawanya ke dalam hidupku saja sudah menjadi beban yang harus aku bawa.”
“Sam!” Mark, yang biasanya tenang seperti lautan di pagi hari, kini kehilangan ketenangannya.