“Tidak seharusnya kau bersikap seperti itu pada orang tuamu, Samuel.”
Langit malam yang menyelimuti perjalanan pulang mereka terasa sepekat suasana hati Samuel.
Julia menatap lelaki itu dengan perasaan campur aduk, antara geram dan prihatin, setelah makan malam yang berakhir dengan perdebatan panjang dan menegangkan.
Samuel berdiri kaku, seperti sosok patung marmer dingin yang enggan menerima cahaya. Tatapan matanya yang kelam menolak setiap upaya nasihat, baik dari orang tuanya maupun dari Julia.
“Kau boleh membenci pernikahan yang entah apa alasannya. Tapi tidak harus membentak orang tuamu juga!” suara Julia terdengar tajam, namun ada kegetiran yang tak mampu ia sembunyikan.
Samuel berbalik dengan gerakan lambat, seolah gerakan itu merupakan ledakan emosinya yang tertahan.
“Apa pedulimu, huh? Tidak perlu menasihatiku hanya karena aku telah memenangkan debat tadi, Julia!” katanya dengan nada datar yang menyayat.
“Tentu saja aku tidak peduli padamu. Aku hanya memperingatimu agar tidak terlalu kasar pada orang tuamu!” sergah Julia, suaranya bergetar, bukan karena takut, tetapi karena amarah yang mendidih di nadinya.
Ia muak melihat sikap dingin Samuel yang menusuk hati kedua orang tuanya seperti belati tanpa ampun.
“Kau membela mereka?” Samuel tertawa kecil tanpa sukacita. “Apa kau sedang mencari muka agar semakin dianggap keluarga?” Tudingan itu seperti petir yang menyambar jiwa Julia.
Ia menghela napas panjang, mencoba meredam perasaan yang bergolak di dalam dirinya. “Terserah kau saja. Kau memang kepala batu!” Ia berbalik hendak pergi, membawa serta segala kepedihan yang tak mampu lagi ia tahan.
Namun tangan Samuel menangkap pergelangan Julia dengan cengkeraman yang kasar, memaksanya berhenti. Rasa nyeri menjalar dari tangannya hingga ke jantungnya.
“Lepaskan, Sam. Sakit...” bisiknya lirih, suaranya nyaris hilang di antara tarikan napas tertahan.
Samuel tidak langsung melepaskannya. Matanya, yang biasanya kosong, kini penuh dengan bara amarah yang membara tak terkendali.
Ia mendorong tubuh Julia ke sofa dengan gerakan yang kasar, menciptakan ketegangan yang membakar udara di antara mereka.
Tatapannya seperti serigala yang memandang bulan—liar, tajam, dan penuh sesuatu yang tak terkatakan.
“Katakan sekali lagi. Aku ini apa?” bisik Samuel, suaranya rendah dan serak, seolah menyatu dengan malam yang pekat.
Matanya yang gelap menyapu wajah Julia, menelusuri setiap lekuk ketegangan yang tampak di sana.
Jarak mereka begitu dekat hingga setiap napas yang terembus dari bibir Samuel terasa membakar udara di antara mereka.
Julia menelan salivanya dengan susah payah, tenggorokannya terasa tercekat oleh campuran takut dan amarah.
Pria itu mencengkeram kedua tangannya erat, tubuhnya menjulang di atas Julia, seperti bayang-bayang yang menolak menghilang meski siang tiba.
“Kepala batu!” jawab Julia dengan nada menantang, meski hatinya berdegup tak beraturan.
Tatapan Samuel semakin tajam, kilatan emosi yang bercampur aduk menari di matanya.
Rahangnya mengeras, sementara tangannya beralih menelungkup dagu Julia dengan cengkeraman yang cukup untuk membuatnya menyadari siapa yang sedang memegang kendali.
Bibirnya nyaris menyentuh bibir Julia, namun pria itu menahan diri, hanya menyisakan napas yang memburu dan panas yang menggantung di udara.
“Ingat perjanjian yang sudah kita sepakati, Sam. Tidak ada seks, tidak ada cinta, atau apa pun yang berbentuk hubungan suami istri pada umumnya!” Suara Julia terdengar tegas meski napasnya mulai tersengal.
Samuel menyeringai sinis, nadanya setajam pisau yang menusuk hati. “Tidak perlu diingatkan. Aku lebih tahu apa yang harus aku lakukan,” gumamnya penuh ancaman yang terselubung.
“Kalau begitu lepaskan aku. Kau menindihku dan membuatku engap,” desak Julia, nada suaranya penuh tuntutan meski tubuhnya dipenuhi kecemasan.
Dengan gerakan mendadak, Samuel melepaskan tangannya dari Julia. Wanita itu segera bangkit dan berlari ke kamarnya tanpa menoleh ke belakang, seolah bayangan gelap Samuel akan menyergapnya lagi jika ia tidak cukup cepat.
Dadanya naik turun, mencoba mengusir ingatan pahit saat pria itu menyeretnya ke hotel dengan cara yang tak pernah ingin ia ingat lagi.
Samuel berdiri diam, hanya desah napasnya yang terdengar, seperti badai yang mereda namun masih menyimpan ancaman di cakrawala.
“Ck!” Ia mengusap wajahnya dengan kasar, tangan kirinya berkacak pinggang sementara tatapannya menancap pada pintu kamar Julia yang kini tertutup rapat, seakan menjadi perisai dari segala godaan dan kehancuran yang bisa saja terjadi.
“Kenapa aku harus bertemu dengan wanita polos dan menyebalkan sepertinya?” gerutu Samuel, suaranya menggema dalam kehampaan malam yang sunyi.
Langkahnya berat saat keluar dari rumah, seolah bebannya bukan hanya amarah, tetapi juga sesuatu yang tak ingin ia akui—seberkas perasaan yang mencengkeram lebih erat dari rantai besi.
“Sepertinya otakku sudah tidak beres. Bisa-bisanya aku ingin menyentuh wanita itu.” Kalimat itu bergema di benaknya seperti mantra yang menolak dilupakan.
Mobilnya melaju dengan kecepatan penuh, membelah jalanan malam yang semakin larut.
Jarum jam telah melewati angka sebelas, namun kota seolah masih bernapas dalam denyut gemerlapnya.
Angin malam menerobos celah kaca yang terbuka sedikit, menyapu wajah Samuel dengan dinginnya yang menusuk.
Namun, bukan angin yang membuat dadanya terasa sesak, melainkan sesuatu yang mendidih di balik ketenangan semu yang ia pertahankan.
Akhirnya, mobilnya berhenti di depan sebuah klub malam, tempat yang biasa menjadi pelariannya dari segala kekacauan yang bersarang di pikirannya.
Cahaya neon berkilau tajam, memantulkan bayangan samar pada genangan air di jalan. Samuel berjalan masuk tanpa ragu, langkahnya mantap seperti prajurit yang menuju medan perang batin.
“Berikan satu botol vodka untukku,” pintanya datar kepada bartender sambil duduk di kursi tinggi dekat meja bar.
Axl, sahabat sekaligus pemilik bar itu, memperhatikannya dari sudut mata sebelum menyapa dengan suara penuh canda. “Sepertinya wajahmu sangat tidak bersahabat malam ini, Sam.”
Samuel hanya menatap gelas kosong di depannya tanpa berkata apa-apa, namun keheningan itu lebih bercerita daripada kata-kata.
“Ini pasti karena berita yang sedang booming sekarang, kan?” Axl menyeringai jahil. “Aku yakin, wanita itu pasti hanya wanita bayaranmu.”
Helaan napas kasar keluar dari Samuel, menyapu udara di antara mereka seperti badai kecil. Matanya menatap tajam ke arah Axl. “Bukan urusanmu.”
Tawa Axl menggema, penuh dengan nada menggoda yang membuat suasana semakin tegang. Matanya kemudian tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Samuel.
“Wow! Rupanya kau memang menikahi wanita itu,” serunya, suaranya penuh nada tak percaya bercampur keingintahuan.
Samuel merentangkan tangannya, menatap cincin perak itu dengan senyuman tipis yang lebih seperti bayangan misterius daripada kebahagiaan sejati.
“Ini hanya formalitas,” gumamnya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Aku tidak pernah berniat menikah, apalagi sampai mencintai wanita itu.”
Tawa Axl kembali pecah, lebih keras kali ini. “Hati-hati, Sam. Jangan sampai aku melihatmu berubah jadi bocah t***l yang jatuh cinta secara ugal-ugalan.” Ia menyipitkan mata dengan penuh ejekan. “Aku akan mengawasimu.”