Julia tertawa ringan, namun ada getir yang melintas di sudut bibirnya. “Cinta pertama? Kau pikir si manusia empat musim itu akan jatuh cinta? Apalagi padaku? Itu hanya angan-angan konyol yang lebih rapuh dari embun pagi, Jerico.” Suaranya bergema lembut, seperti senandung angin yang berbisik sebelum badai. Ia menggeleng pelan, lantas mencuci tangannya di bawah aliran air dingin yang terasa seperti beban kecil yang tak kasatmata. Jerico berdiri di hadapannya, pandangannya tajam namun lembut, penuh rasa ingin tahu yang tak kunjung reda. “Kenapa kau tidak berharap bahwa Samuel akan berubah?” tanyanya, suaranya merayap di antara kesunyian seperti bayangan di senja hari. “Aku, sebagai sahabat sejatinya yang sudah bersamanya sejak kecil, merasa sangat bersyukur melihatnya menikah. Kau tah

