Sedikit Cemas

1270 Words

Satu bulan telah berlalu sejak pernikahan Samuel dan Julia. Bagi Julia, waktu terasa berjalan seperti angin yang membawa dedaunan—tak terasa, namun diam-diam terus bergerak. Ia bahkan tidak menyangka bahwa pernikahan ini, yang awalnya terasa seperti permainan tanpa arah, akan bertahan hingga sejauh ini. “Aku harus pergi keluar kota. Mungkin malam baru pulang ke rumah,” ujar Samuel tiba-tiba, suaranya datar namun tegas, memecah keheningan di antara suara dentingan sendok Julia yang menyentuh piringnya. Julia mendongak, menatap suaminya dengan pandangan tenang, meski sorot matanya menyimpan secercah sindiran halus. “Ya. Kau memang selalu pulang tengah malam. Bahkan pukul dua pagi pun pernah,” jawabnya, suaranya seperti angin yang membawa kabar dingin. Samuel menaikkan sebelah alis, ek

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD