Akankah Samuel Menerimanya?

1291 Words

“Kak? Apa kau bisa datang menjemputku ke rumah?” Julia menghubungi Clara di pagi yang redup, ketika embun masih bergelayut manja di ujung dedaunan dan matahari malu-malu menembus celah tirai kamarnya. Pagi itu, lagi-lagi mual menyergapnya, menyesakkan kerongkongan seperti gelombang laut yang mendadak pasang. Ia tak sekadar yakin; ia merasa bahwa badai kecil sedang tumbuh di dalam rahimnya. Benih itu—mungkin benih Samuel—mulai menunjukkan keberadaannya dengan penuh keangkuhan. “Ada apa, Julia? Aku baru saja tiba di sekolah anak-anak. Aku akan ke sana secepatnya,” suara Clara terdengar lembut namun cemas, seperti aliran sungai yang tergesa menyusuri bebatuan. “Jangan buru-buru, Kak. Sekolah anak-anak ke rumah Samuel kan, dekat. Jadi, santai saja. Kita bicara setelah kau tiba di sini,” u

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD