“Kak? Apa kau bisa datang menjemputku ke rumah?” Julia menghubungi Clara di pagi yang redup, ketika embun masih bergelayut manja di ujung dedaunan dan matahari malu-malu menembus celah tirai kamarnya. Pagi itu, lagi-lagi mual menyergapnya, menyesakkan kerongkongan seperti gelombang laut yang mendadak pasang. Ia tak sekadar yakin; ia merasa bahwa badai kecil sedang tumbuh di dalam rahimnya. Benih itu—mungkin benih Samuel—mulai menunjukkan keberadaannya dengan penuh keangkuhan. “Ada apa, Julia? Aku baru saja tiba di sekolah anak-anak. Aku akan ke sana secepatnya,” suara Clara terdengar lembut namun cemas, seperti aliran sungai yang tergesa menyusuri bebatuan. “Jangan buru-buru, Kak. Sekolah anak-anak ke rumah Samuel kan, dekat. Jadi, santai saja. Kita bicara setelah kau tiba di sini,” u

