Samuel tiba di rumah tepat pukul delapan malam. Langit di luar tampak memeluk malam dengan jubah gelap bertabur bintang, namun pikirannya justru dipenuhi kekosongan. Saat melangkah masuk, wangi omelet yang menggoda indra penciumannya seperti tali yang menariknya menuju dapur. Aroma itu menyeruak, hangat dan memikat, mengundang kenangan sederhana yang menenangkan hatinya yang lelah. “Sedang apa, Julia?” tanyanya dengan nada datar, suaranya bergema lembut di dapur kecil itu. Tanpa menunggu jawaban, ia menjatuhkan tubuhnya di kursi meja makan, seolah mencari pelipur dari hari yang melelahkan. Julia menoleh, sedikit terkejut dengan kedatangan Samuel yang tiba-tiba. “Membuat omelet. Apa kau mau?” tanyanya ringan, kembali memusatkan perhatian pada masakannya yang hampir matang. “Boleh.” J

