“Ke salon,” jawab Julia dengan nada nasal, matanya sesekali mencuri pandang pada Samuel yang tampaknya masih ingin mengajukan pertanyaan lain. “Kenapa? Kakakmu tidak akan mungkin mengenalkan pria lain padaku, kan?” ucap Samuel, alisnya terangkat, nada suaranya setengah mengejek, namun matanya penuh tanya. Senyum kecil yang menyebalkan muncul di bibir Samuel. “Itu sama saja memulai perang denganku, Julia!” serunya dengan nada dramatis, seperti seorang raja yang baru saja mendengar ancaman dari musuhnya. Julia mendesah, merasa percakapan ini akan menjadi panjang jika ia tidak mengendalikannya. “Ya sudah, tidak perlu bertanya untuk apa Clara datang ke sini, kan? Kau tidak percaya pada kakakmu sendiri?” ucapnya sembari menghela napas panjang, seolah mencoba membuang sisa kesabaran yang mu

