Samuel duduk di minibar dapurnya, jari-jari tangannya memutar-mutar gelas berisi bir, seolah mencoba mencari sesuatu yang tak bisa ia temukan di dalam cairan itu. Matanya kosong, menatap hampa ke depan, meresapi setiap jejak pikiran yang berkelana tanpa arah. Pikirannya terjebak pada permintaan kedua orang tuanya, kata-kata mereka yang terus berputar di dalam kepalanya, mengaduk emosi yang tak mudah untuk diterima. “Aku belum siap jadi ayah. Aku belum bisa jadi suami yang baik. Aku belum siap dalam semuanya,” gumamnya, suaranya serak, penuh keraguan yang menggema dalam ruang sepi. Tubuhnya sedikit miring, menundukkan kepala, seolah berharap agar beban itu bisa hilang begitu saja. “Tapi, aku sudah menjadi seorang suami yang sangat dibenci oleh istriku sendiri. Tidak mungkin dia menc

