Pagi itu, embun yang melapisi dedaunan di luar jendela kamar Julia seolah-olah mencerminkan kegelisahan hatinya. Cahaya matahari yang menyusup malu-malu melalui celah tirai tidak cukup menghangatkan perutnya yang bergolak. Dengan langkah tergesa, Julia menuju kamar mandi, perutnya terasa seperti lautan badai yang siap meledak kapan saja. Tak lama, suara muntahan menggema, menggantikan harmoni pagi yang seharusnya tenang. “Ah! Morning sickness ini sangat menyiksa,” gumam Julia dengan napas yang tersengal, keringat dingin membasahi dahinya yang pucat. Tubuhnya menggigil, seolah-olah sedang melawan badai tak terlihat. Ia meremas sisi wastafel dengan jemarinya yang gemetar, mencoba menemukan pijakan di tengah pusaran rasa mual yang tak berkesudahan. “Julia. Di mana kau menyimpan dasi me

