° Dokter Cinta Sissy - 3 °

1435 Words
Keadaan Cilla semakin membaik. Tapi karena kejadian itu kini Cilla agak sedikit pendiam. "Ke mall yuk." ajak Sissy "Teteh aja. Cilla males ah." "Kamu masih mikirin kejadian itu?" tanya Sissy lembut. Cilla menggelengkan kepalanya. "Cilla takut kalau keluar nanti ketemu b******n itu atau yang serupa dengan b******n itu." "Kan Cilla keluar sama teteh." Sissy masih coba membujuk Cilla. Setelah lumayan lama membujuk, akhirnya Cilla menyetujui ajakan Sissy. Cilla memakai celana jeans dan t-shirt putih yang juga dilapisi jaket jeans, lalu menggerai rambut panjangnya. Sedangkan Sissy memakai tanktop yang di lapisi dengan kemeja tipis, sewarna dengan tanktopnya. Rambut pendeknya dia gulung ke atas dan menyisakan sedikit anak rambut. "Naik mobil aja." ucap Sissy saat melihat Cilla berjalan ke motornya. "Nggak asik teh." "Oh ya udah kalau gitu teteh telepon papa dulu." "Eeeeh, jangan. Iya naik mobil." Cilla mencegah Sissy menelepon Xavier, karna kalau Cilla masih nekat mengendarai motor. Xavier akan membakar motor-motor ke sayangan Cilla. Kata sang papa, biar bagaimanapun mereka berdua perempuan, jadi papanya melarang mereka terlalu sering mengendarai motor. °•°•°•° Sesampainya di mall keduanya jadi pusat perhatian. Siapa yang tidak akan memperhatikan Sissy dan Cilla. Keduanya memiliki body sexy, wajah cantik dan kulit putih mulus. "Mau kemana dulu?" tanya Sissy. "Makan es kriiiiiiim." teriak Cilla semangat. Bila menyangkut es krim dan cake dia akan bersemangat. "Dasar, kenapa nggak kamu buat sendiri dek?" "Kan beda teh rasanya. Hehehe" Sissy dan Cilla sama-sama memesan banana split "Curang masa yang teteh ada lovenya yang aku nggak ada." protes Cilla melihat tampilan ice cream miliknya. "Ya udah sih. Sama-sama di makan ini, dek." Posisi Cilla yang menghadap ke arah pintu membuatnya dapat melihat siapa saja yang masuk ke cafe ini. Saat menyuapkan ice creamnya kembali, mata Cilla menangkap seseorang yang sudah berjasa baginya. Cilla melambaikan tangannya memanggil orang itu. Dhigo, terlihat tampan dengan kupluk dan jaket yang melapisi t-shirt berwarna biru "Hai." sapa Dhigo pada Cilla. Sissy masih diam sejak melihat siapa yang di panggil oleh Cilla. Dia masih sibuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang saat melihat lelaki yang kini mengisi seluruh ruang hatinya. Apa lagi ketika mengingat ciuman mereka tempo hari, pipi Sissy akan otomatis memerah. "Hai Sy." sapanya sambil tersenyum. "Ha...hai" Cilla terkikik geli mendengar jawaban Sissy yang gugup. "A Dhigo sendiri?" tanya Cilla ketika Dhigo mengambil duduk persis di sebelah Sissy. "Nggak, tadi janjian sama Wingky, Andre dan Andhika." "Gabung aja dulu di sini." usulan Cilla, sontak membuat mata Sissy melotot tajam pada Cilla. "A Dhigo mau pesen apa?" "Latte aja deh." Tak lama setelah pesanan Dhigo datang, Cilla melihat lelaki yang biasanya sering bersama Dhigo. "A, itu temen A Dhigo bukan?" tunjuknya pada seorang lelaki yang memakai kemeja levis. "Ah ya, itu Andre." ujar Dhigo. "Sini bro." panggilnya "Wuuiiiih, asik nih ada cewek-cewek cantik." ucap Andre ketika sampai di meja Dhigo, Sissy dan Cilla. Cilla menundukan wajahnya, jujur dia masih sedikit trauma pada orang baru. Dhigo yang menyadari ketidak nyamanan Cilla meminta Andre menjaga jarak dari Cilla. "Hai, gue Andre." Andre mengulurkan tangannya dihadapan Cilla. Cilla melirik kearah Dhigo seolah meminta pendapatnya. Dhigo menganggukan kepalanya. "Pricilla." balasnya dingin tanpa menerima sambutan tangan dari Andre. "Jadi lo kapan berangkatnya, Dhig? " Sissy langsung memalingkan wajahnya ke arah Dhigo dengan mengerenyitkan keningnya. Dhigo menatap tajam pada Andre. b**o. Rutuk Dhigo dalam hati. Belum sempat Dhigo menjawab lelaki yang sama tampannya menghampiri meja mereka. "Hai." sapanya. "Sorry bro, macet gue." ucapnya "Andhika mana?" tanya Andre "Noooooh." tunjuknya pada lelaki yang baru saja memasuki pintu dengan topi dan jaketnya sambil tersenyum lebar ke arah mereka. "Tuh anak dandanannya kayak nggak keurus aja." celetuk Andre saat memperhatikan tampilan sahabatnya. "Sorry gue telat, jemput si kunyuk satu ini dulu nih." tunjuknya pada Wingky. "Lo yang b**o, udah gue bilang jangan pake mobil eh ngeyel." "Jadi maksud lo gue harus pake motor dan boncengin lo, gitu?" Wingky menganggukan kepala santai. "Diiiih ogah banget gue. Ntar yang ada pasaran gue turun." gerutunya "Lah apa hubungannya sama pasaran lo sih, An?" tanya Andre "Ya iya lah, tar gue di kira suka sama batangan lagi. Hiiiih." Andhika bergidik ngeri membayangkan apa yang baru saja di ucapkannya. "Apa lagi sekarang pada heboh noh, yang tempat gym di gerebek ternyata isinya pecinta batangan semua. Lagian mereka kok pada b**o, mereka juga kan punya. Ngapain cari lagi sih." ucap Andhika panjang lebar. "Si bego." seru Dhigo, Andre dan Wingky bersamaan saat melihat wajah Sissy dan Prilly yang memerah. Andhika menolehkan kepala begitu mendengar seruan ketiga sahabatnya. Kini bukan hanya wajah Sissy dan Cilla yang memerah tapi juga wajah Andhika. Dirinya memang ceplas ceplos, tapi baru kali ini dia merasa malu. Dhigo, Andre dan Wingky tertawa melihat wajah sahabatnya yang memerah. "Udah kayak cewek aja lo." ejek Wingky. "Sorry, gue kan nggak tahu ada cewek di sini. Hehehe" "Nggak apa, kita juga udah selesai. Ayo dek." jak Sissy karena melihat Cilla yang tambah tidak nyaman dengan kehadiran sahabat Dhigo yang lain. "Lo belum ngomong sama Prissy?" tanya Wingky. Diantara ketiga sahabatnya, Wingky memang orang yang paling dekat dengan Digo. "Belum." "Lebih cepat itu lebih baik, bro. Apa lagi lo bakalan pergi jauh." saran Wingky. "Iya, Dhig. Dari pada entar ada salah paham antara lo sama Prissy." sambar Andhika. Dhigo diam merenungkan apa yang di katakan oleh sahabatnya. Ya, secepatnya dia harus bicara dengan Sissy. °•°•°•° Setelah makan malam, Xavier menemani ketiga bidadarinya bersantai menonton televisi. Eva, bersandar dalam pelukannya, lalu Cilla menjadikan pahanya sebagai bantal, sedangkan Sissy tidur di pangkuan Eva. Saat asik menonton berita terdengar suara bel. "Buka gih teh." "Dih malah nyuruh teteh, kamu tuh." "Ini kok malah pada ribut? Kasian itu tamunya." Seru Xavier. "Bukain sana dek." "Kok papa nyuruh Cilla? Teteh aja deh." "Udah buruan sana, kasian mbok Yem lagi nyuci piring. Nanti dia lari-lari lagi denger suara bel." "Iya deh." jawabnya pasrah "A Dhigo! Masuk A." ucapnya mempersilahkan Dhigo masuk. "Bentar ya aku panggilin teteh dulu." Cilla kembali ke ruang keluarga. "Teh, itu tamunya buat teteh." "Siapa?" tanya Sissy. "Liat aja sendiri, aku buatin minumnya dulu." Sissy melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Sissy mengamati sosok lelaki yang membelakanginya. "Lo siapa?" Dhigo memutar kepalanya menghadap Sissy. Tenggerokannya terasa kering seketika melihat penampilan Sissy yang bisa di bilang sexy. Piyama berwarna merah hati itu nampak kontras dengan kulit putih Sissy. Sissy juga tak kalah kagetnya dengan Dhigo. Mau memakai baju apa saja Digo terlihat tampan. "Kenapa lo nyari gue?" tanya Sissy sambil berjalan dan duduk. "Eh, em ya. Ada yang mau gue omongin sama lo." "Mau ngomong apa?" suara Sissy memecahkan keheningan yang sempat terjadi. Dhigo menarik nafas dalam. Ini masalah besar baginya. Tak akan mudah meninggalkan hatinya yang sudah di sesaki oleh Sissy. "Lusa gue berangkat." "Berangkat? Kemana? Ngapain?" tiga pertanyaan dari Sissy membuat Dhigo tersenyum. Dhigo berdiri dan mengambil duduk di sebelah Sissy. "Gue mau ngelanjutin kuliah, ambil spesialis bedah di Jerman." jelasnya. Sissy tertunduk sedih. Berarti Dhigo akan meninggalkannya dalam waktu yang lama. "Gue nggak lama, paling cuma 2 tahun." ungkapnya saat menangkap raut sedih dari pancaran mata Sissy. Digo memeluk wanita yang sangat dicintainya itu. "Gue pergi buat lo dan demi lo, Sy. Gue harap lo mau nungguin gue. Gue nggak bisa ngejanjiin apapun buat lo tapi gue akan selalu jaga hati gue buat lo." "Lo mau ninggalin gue." itu adalah sebuah pernyataan bukan pertanyaan, Dhigo tahu itu. "Ya gue bakalan ninggalin lo, tapi gue akan kembali." Digo mengangkat dagu Sissy dengan jarinya. "Bisa gue titip hati gue di lo?" Sissy menganggukan kepalanya. "Ya." bisik Sissy "Suatu saat gue akan kembali dan ambil hati gue lagi." Saat jarak bibir keduanya tinggal beberapa centi lagi. Suara deheman membuat mereka menjauhkan diri satu sama lain. Xavier mengangkat sebelah alisnya ketika melihat wajah Sissy merah merona. Eva memukul pelan lengan suaminya. "Iseng banget." Omelnya, Eva tersenyum pada Dhigo "Malam om, tante." "Malam. Tumben malem-malem ke sini, Go?" tanya Xavier to the point "Papa, iiiish. Anak gadisnya di apelin cowok malah nanya gitu." rutuk Eva. "Ya, papa kan cuma nanya, Bun. Lagian Dhigo juga udah lama nggak maen ke sini malem-malem." "Saya cuma mau pamitan sama om dan tante." "Pamit ke mana?" "Saya mau lanjutin kuliah saya di Jerman, ambil spesialis bedah di sana, tante." "Wah hebat. Calon dokter muda nih." Saat jam menunjukan pukul 10, Dhigo pamit pada Xavier dan Eva. Sissy mengantar Dhigo kedepan. Sebelum memasuki mobilnya, Dhigo membalikan badan ke arah Sissy. Sissy menutup rapat matanya ketika sesuatu yang basah dan hangat menyentuh dahinya. "Jaga hati lo buat gue. Love you." ucap Dhigo sebelum masuk mobil dan meninggalkan kediaman Domani. "Gue akan selalu jaga hati gue buat lo, dan akan jaga hati lo agar selalu gue genggam."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD