Dhigo membohonginya, itulah yang Sissy tahu. Dhigo bohong, dia bilang hanya pergi 2 tahun tapi ini adalah tahun ke 5 dan Dhigo belum kembali. Sissy sudah lelah menunggu, tapi hatinya tak bisa berbohong bahwa dia sangat merindukan Dhigo.
"Udah siap, Sy?" suara Ryan membuat Sissy terkejut.
"k*****t lo, ngagetin gue aja." sembur Sissy, Ryan terkekeh.
"Makanya jangan mikirin Dokter Cinta lo terus."
"Dih dasar onta sotoy."
"Ya ampun, tega amat lo. Cowok seganteng dan seketche Ryan Erwando ini lo katain onta? Kalau sampe Ryanlicius denger, parah lo Sy. Bakalan di bully habis-habisan."
"Lebay." cibir Sissy pada sahabatnya. "Ryanlicius pala lo. Lo pikir lo itu seorang Aliando Syarief artis terkenal yang multitalenta itu punya fansbase segala? Kalau Aliando sih wajar secara dia artis dan ganteng, nah apa kabar lo? Aduh Ryan, wake up. Jangan ketinggian mimpinya, tar kalau jatoh sakit."
Ryan memajukan bibirnya cemberut mendengar perkataan Sissy. Dia mengenal Sissy 4 tahun yang lalu. Sissy tipe pribadi yang asik dan mudah bergaul. Ryan kagum pada wanita cantik satu ini, dia adalah kebanggaan Indonesia dalam bidang olahraga taekwondo dan juga motogp. Pembalap wanita dengan banyak piala yang sudah dia dapatkan.
"Udah ah, ayo buruan sebentar lagi giliran lo tanding."
Hari ini ada pertandingan amal di Sirkuit Autodromo Termas de Rio Hondo, Argentina. Sudah jadi rutinitas Sissy mengikuti acara amal seperti ini.
Pandangan Sissy terkunci pada mata hitam sehitam malam yang memandangnya penuh dengan kerinduan.
Gue cuma mimpi. Yakin Sissy memejamkan matanya. Dia nggak mungkin ada di Argentina, dia ada di Jerman.
Sissy membuka kembali matanya dan mendapatkan pelukan selamat dari Ryan, lalu melihat kearah di mana dirinya melihat mata tajam hitam itu...kosong, di sana tak ada orang.
"Lo ngeliatin apa sih?" tanya Ryan.
"Ah, em. Nggak kok, gue nggak ngeliatin apa-apa."
"Lo nggak bisa bohong sama gue, Prissy Athar Domani."
"Gue lihat dia, Yan."
"Dhigo?" tanya Ryan memastikan, Sissy menganggukkan kepala, membenarkan pertanyaan Ryan. "Mana? " kali ini Sissy hanya menggelengkan kepalanya. "Mungkin itu hanya harapan lo, Sy. Tapi harapan itu keluar dan seolah lihat Dhigo ada di sini."
"Gue nggak tahu." balas Sissy lelah. Lelah hati dan pikiran, lebih tepatnya.
Ryan mengantar Sissy ke hotel. "Gue ada di kamar gue kalau lo butuh apa-apa. "
"Ya, thanks Yan. "
Ryan tersenyum pada Sissy. "Itulah gunanya gue sebagai sahabat lo. " Lalu menutup pintu dan membiarkan Sissy istirahat.
°•°•°•°
"Mau sampai kapan lo sembunyi terus dari Sissy?"
"Gue nggak tahu."
"Jangan jadi banci deh, qtau lo mau gue yang gantiin lo?"
"Jangan macam-macam deh, Yan."
"Cepat keluarlah, sebelum terlambat. Karena kalau lo terlambat, jangan harap cinta itu masih ada di hati Sissy buat lo."
"Gue khawatir dia nggak mau maafin gue karena udah nggak nepatin janji."
"Ya lo jelasinlah begooooo. Haaaaah, ampun kesel gue, punya sepupu kok b**o dan gobloknya nggak ketulungan kayak lo sih? Lagian lo juga nggak ada maksud buat ingkarin janji lo ke dia. Kalau kecelakaan sialan itu nggak terjadi, gue yakin sekarang lo udah nikah sama dia."
"Ya, semoga ketika gue ngasih dia penjelasan, dia mau maafin gue."
"Tenang, sebagai sepupu yang baik, gue akan bantuin lo buat jelasin semuanya ke Sissy."
"Thanks, Yan."
"Anything for you, Dhigo."
Ryan adalah sepupu jauh Digo yang tinggal di Jakarta namun 4 tahun yang lalu dia rela pindah dan menetap di Singapura demi sang sepupu membantu sepupunya menjaga bidadari hati Dhigo. Suatu malam Dhigo meminta tolong pada Ryan untuk pindah ke Singapura menjaga Sissy, karena Dhigo mendengar kabar dari Cilla kalau Sissy akan menetap sementara di Singapura. Untungnya Ryan mempunyai cabang usaha juga di Singapura jadi selain menjaga Sissy dia juga masih bisa mengerjakan pekerjaannya.
Orang tua Dhigo adalah orang yang paling berharga selain kedua mendiang orang tuanya. Jika bukan karena kedua orang tua Dhigo, mungkin kini dia adalah salah satu gelandangan di Jakarta. Orang tua Dhigo satu-satunya keluarga yang dia miliki, hanya merekalah yang mau membantu Ryan saat kedua orang tuanya meninggal. Sedangkan keluarga kandungnya, semua malah sibuk berebut harta warisan tanpa memperdulikan Ryan kecil yang menangis di tinggal oleh kedua orang tuanya.
"Temui Sissy besok, jelasin semuanya sama dia. Gue bantuin lo." Dhigo menganggukkan kepalanya. "Sekarang lo istirahat, gue khawatir kaki lo ngilu lagi kalau kelamaan berdiri gitu. Ayo gue anter ke kamar."
"Ck, jangan kayak mama deh, Yan. Gue bukan orang lumpuh yang perlu bantuan. Gue masih punya kaki meski kaki sialan ini kadang gak bisa di akan kompromi."
Ryan terkekeh, mengangkat ke dua tangannya ke atas. Ryan sangat menyayangi Dhigo melebihi nyawanya. Bahkan dia bersumpah tidak akan menikah jika Dhigo belum bahagia. Kebahagian Dhigo adalah prioritas utama Ryan saat ini.
°•°•°•°
Paginya Ryan sudah mengetuk pintu kamar Sissy dengan kencang.
"Elah berisik amat lo. Lo kira ini hotel punya nenek moyang lo!?" gerutu Sissy kesal karna dia baru bisa memejamkan mata jam 3 dini hari dan sekarang baru jam 5. Oh Ryan benar-benar gila. "Kalau nih pintu rusak gimana? Nggak nyadar kalau tangan lo itu segede talas bogor? Bisa bolong nih pintu."
"Ngomel aja lo pagi-pagi. Eh iya, ada yang pengen ketemu sama lo."
"Ck, lo tahu sendiri gue nggak minat sama mereka." Sissy selalu mendapatkan tawaran sarapan, makan siang atau makan malam bersama dari pembalap lain.
"Bukan, gue yakin lo bakalan seneng deh."
"Oke, tunggu gue 30 menit."
Braaaaak. Sissy menutup keras pintu kamarnya tepat di depan muka Ryan.
"k*****t lo ya." maki Ryan kesal dan berjalan ke lift, turun ke restoran hotel untuk sarapan sekaligus mempertemukan Dhigo san Sissy kembali.
Ryan memesankan salad buah dan lemon tea hangat untuk Sissy.
Sissy memakai pakaian Kasual, dengan celana pendek, topi dan kaca mata. Ryan menganga lebar melihat penampilan Sissy. Mampus gue, kenapa lo pake baju kayak gitu, Sy? Ryan menepuk pelan keningnya.
"Mana orangnya?"
"Makan dulu." perintahnya pasrah. Habislah dia. Dhigo pasti akan menghajarnya.
Selesai makan Sissy menaikan alisnya seolah bertanya 'mana'. Ryan berdiri berjalan ke arah kursi yang di duduki seorang lelaki dan Sissy tak tahu mereka membicarakan apa. Mata Sissy terbuka lebar saat melihat siapa lelaki yang di panggil oleh Ryan.
"Dhigo." lirihnya
Dhigo bukan Dhigo yang dulu, dia, dia, dia berjalan dengan tongkatnya.
Ya ampun, apa yang sebenarnya terjadi pada Dhigo.
"Hai." sapa Digo, Sissy menubruk tubuh Dhigo, memeluk lelaki yang sangat di cintainya itu, lelaki yang setiap malam dia rindukan.
"I miss you, why are you lying to me?"
"Sorry." bisik Dhigo sambil mengeratkan pelukannya.