Mulut Ryan terbuka lebar saat melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Sissy. Dia mengira Sissy akan menghajar Dhigo habis-habisan karena telah membohonginya. Ryan tak menyangka ketika satu tetes air mata jatuh dari mata sahabatnya.
Sissy benar-benar merindukan Dhigo. Simpul Ryan dalam hati.
"Kamu bohong, Dhigo."
"Maafin aku, maaf." bisik Dhigo masih dengan memeluk Sissy.
"Mending duduk dulu, Go. Ingat kaki lo."
Ryan membantu Dhigo duduk di sebelah Sissy. Sissy menatap Dhigo dengan kening berkerut.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian kayak orang yang saling kenal."
"Emang gue kenal Dhigo." sahut Ryan santai.
"Maksud lo?"
"Dhigo sepupu gue."
Mata Sissy melebar. Ryan sepupu Dhigo? Kenapa disini dia terlihat seperti orang bodoh? Sahabatnya adalah sepupu Dhigo.
"Kalian berdua, coba buat mainin gue?" tanya Sissy dengan wajah memerah menahan emosi.
"Nggak gitu, Sy." kini giliran Digo menyahuti Sissy dengan suara lembutnya dan berusaha menggenggam tangan Sissy tapi buru-buru di tepis oleh Sissy.
Tanpa mendengar penjelasan dari Dhigo atau Ryan, Sissy berdiri dari duduknya meninggalkan Dhigo dan Ryan.
Bruuuuk
"DIGOOOOO."
Suara sesuatu yang terjatuh dan teriakan keras dari Ryan membuat Sissy menghentikan langkahnya dan berbalik. Sissy berlari ke arah Dhigo yang terjatuh di samping kursi yang di dudukinya, Sissy membantu Dhigo bangun.
"Please, dengerin penjelasan aku dulu. Setelah itu aku pasrah kalau kamu mau pergi dari hidupku. Aku sadar, aku sekarang cacat. Mungkin kamu malu punya kekasih yang berjalan dengan 3 kaki. Gak ada yang bisa kamu banggakan dari orang cacat kayak a..."
Ucapan Dhigo terhenti saat tangan Sissy menutup mulutnya. "Kalau ngomong jangan ngelantur kemana-mana." ketus Sissy.
"Gue tinggal dulu, kalian selesaikan masalah kalian."
"Enak aja lo asal pergi. Lo juga harus jelasin semuanya sama gue, oncom."
"Astaga banyak amat panggilan gue. Kemaren onta sotoy, sekarang oncom. Besok apaan lagi, Sy?"
"Entar gue pikirin dulu." ucapnya, cuek. "Ngapain lo ketawa?" sembur Sissy saat mendengar suara kekehan kecil di sebelahnya.
"Kok pake lo-gue lagi?"
"Bodo, terserah gue. Mulut juga mulut gue. "
Dhigo menghela nafas mendengar nada ketus Sissy. Dia sadar, seharusnya tidak menyembunyikan keadaanya saat itu pada Sissy. Tapi dia juga tak mau jika Sissy khawatir padanya.
"Aku minta maaf untuk semuanya. "
"Gue nggak butuh maaf lo. Gue butuh penjelasan kenapa lo bohongin gue? Kenapa dengan kaki lo? Dan kenapa bisa lo dan Ryan sepupuan?"
Dhigo mulai menjelaskan semuanya pada Sissy.
3 tahun yang lalu.......
Dhigo sudah tak sabar ingin memberikan kejutan untuk Sissy. Dia mendapatkan gelar cumlaude, kini dia sudah bisa menjadi dokter hebat. Dia juga sudah siap melamar Sissy untuk jadi istrinya. Apa lagi yang dia dengar Cilla akan menikah.
"Makasih ya pak sudah nganterin mobil Dhigo." ucapnya pada Ujang, Sopir pribadi yang sudah mengabdi pada keluarganya sejak mang Ujang muda.
"Sama-sama den, mamang pulang duluan atuh ya den. Takutnya nyonya butuh mamang."
Dhigo mengendarai mobilnya menuju tempat Sissy berlatih. Dari kabar yang dia dapat dari sepupunya, jika hari ini Sissy latihan di Sentul, Bogor. Beberapa kali Dhigo menguap menahan kantuk. Dhigo tersentak kaget ketika di depannya ada mobil yang salah jalur, Dhigo sudah membanting stir tapi sayang dia terlambat. Mobil Dhigo menghantam mobil di depannya. Dhigo menjerit kesakitan karna kaki kanannya terjepit. Saat orang mengeluarkannya dari mobil, Dhigo melihat dengan jelas jika yang ada di dalam mobil itu adalah seorang lelaki dan anak kecil.
Apa mereka baik-baik saja? Pikir Dhigo.
Benturan di kepalanya serta kaki kanan yang patah membuat kondisi Dhigo memburuk Desiana sempat pingsan saat mendengar Dhigo koma. Dokter yang menangani Dhigo mengatakan jika sebelum tak sadarkan diri Dhigo berpesan untuk tidak memberitahukan kondisinya pada wanita yang bernama Sissy.
Dua tahun lamanya Digo tak sadarkan diri. Di sampingnya selalu ada wanita yang menemani Dhigo. Saat sadar orang yang pertama kali Digo sebut adalah Sissy.
Dua tahun koma membuat saraf-saraf di beberapa bagian tubuhnya mati rasa. Digo bingung saat seorang wanita yang tak dia kenali selalu menemaninya terapi. Kebingungannya terjawab ketika maminya, Desiana. Memberitahu kalau wanita itu adalah istri dan ibu dari korban yang mobilnya Dhigo tabrak.
Wanita itu meminta pertanggungjawaban keluarga Wirawan, karena dia tak memiliki keluarga lagi selain almarhum suami dan putranya.
Sissy menutup mulutnya, shock dengan kenyataan yang baru saja di sampaikan Dhigo.
"Siapa wanita itu?" tanya Sissy
"Kalau nggak salah nama tuh janda gatel. Aaaaaw, sakit bego." Ryan meringus sakit saat Digo menjitak kepalanya.
"Jangan sembarangan kalau ngomong."
"Gue gak sembarangan kali, Go. Apa coba namanya kalau bukan janda gatel? Tiba-tiba ada di kamar lo, terus bilang salah kamar. Ada lagi dia bilang kalau gue ngegodain dia. Hiiiiih, mana nafsu gue sama janda gatel model gitu." Ryan terus bersuara tanpa memperdulikan ekspresi marah Sissy. Dhigo menyikut kuat perut Ryan. "Anjing, b**o lo. Sakit nih, tadi kepala sekarang perut sekalian aja lo..." perkataannya terhenti saat Sissy berdiri dan meninggalkan mereka berdua. "Sorry bro. Kelepasan gue."
"Ck, heran gue kok lo lemes bener sih Yan jadi cowok."
"Ya sorry abis gue sebel banget sama tuh janda."
"Sekarang bantuin gue kejer Sissy. Gue tunggu di kamar dia aja."
Dhigo berdiri dengan bantuan tongkatnya. Berjalan perlahan ke arah lift.
Sementara itu Sissy tak menyangka jika Dhigo tinggal satu atap dengan wanita yang di panggil Ryan 'janda gatel' itu. Apa saja yang sudah mereka lakukan? Sissy menggelengkan kepalanya saat satu pikiran terlintas di kepalanya.
Pletaaak.
"Aduuuh." Ringis Sissy mengusap keningnya yanh baru saja di sentil.
"Gue tahu lo mikirin yang iya-iya tentang Dhigo sama si janda gatel."
"Sok tahu banget hidup lo." cibir Sissy
"Gue tahu lo, Prissy Athar Domani. Meskipun baru 4 tahun tapi gue tahu lo." ucap Ryan pasti. "Gue tahu apa yang ada dikepala lo. Dhigo selalu jaga hatinya buat lo, dia nepatin janjinya. Sama kayak lo yang selalu jaga hati buat dia." Ryan menarik nafas panjang sebelum menceritakan semuanya pada Sissy. "Wanita itu bernama Anita Shalina. Janda dari Riko, lelaki yang meninggal saat kecelakaan itu terjadi. Nita menganggap kematian suami dan putranya karna kesalahan Dhigo yang ceroboh dan tidak hati-hati. Mami Desiana yang memang memiliki tingkat keperdulian tinggi, merasa kasihan pada Nita yang kini hidup sebatang kara. Darilah itu mami dan papi mengizinkan Nita tinggal di kediaman Wirawan sampai dia sukses karena saat ini mami mendanai Nita berbisnis fashion. Nita sering menyusup masuk ke kamar Dhigo. Pernah sekali gue mergokin dia masukin obat perangsang ke minuman Dhigo, untung gue tahu dan Dhigo batal meminumnya. Bahkan dia pernah fitnah gue mau perkosa dia. Untung saat itu ada mbok Yun yang jadi saksi kalau gue ada di ruang gym karena mbok Yun yang anter minum buat gue. Dari situ, mami mulai kurang respek sama dia. Tapi dasar ular, dia manfaatin rasa bersalah Dhigo dan memanfaatkan kelemahan Dhigo itu. Gue mohon, bantu Dhigo bangkit. Cuma lo yang akan jadi alasan untuk Dhigo bisa jalan lagi, Sy."
"Jadi Dhigo masih bisa sembuh? "
"Bisa, tapi sayang dia terlalu pesimis. Dia khawatir lo nggak akan mau sama lelaki cacat kayak dia."
"Bego." ucap Sissy kesal
"Ya, sepupu gue emang b**o dan dia b**o karena dia terlalu cinta sama lo."
Sissy berjalan meninggalkan Ryan yang berteriak memaki dirinya karena pergi tanpa mengatakan apa-apa. Sesampainya di kamar dia menginap, Sissy cukup terkejut melihat seseorang tengah tertidur di sofanya. Sissy memandangi wajah damai lelaki yang di cintainya itu.
Kenapa kamu nhgak jujur sama aku, Go? Apa aku kurang berharga sampai kamu menyembunyikan semuanya dari aku? Aku selalu jaga hatiku sesuai permintaan kamu. Sampai kapanpun pemilik hati Prissy Athar Domani adalah Ardigo Rusmana Wirawan.
Sissy terkejut ketika ada tangan yang mengusap lembut pipinya.
"Jangan nangis." pinta Dhigo
"Gue nggak seberharga yang gue kira." lirih Sissy sambil menundukan wajahnya.
"Kamu lebih berharga dari apapun. Aku rela kehilangan kedua kaki aku atau isi dunia sekalipun asal kamu ada di samping aku, Sy."
"Dih, receh banget gombalan lo." ucap Sissy sambil terkekeh.
"Aku serius." Dhigo berkata dengan tegas, menatap Sissy dengan tajam.
"Buktikan. Gue nhgak butuh cowok bermulut manis tapi gue butuh cowok yang tegas dan bisa ngelindungin gue."
"Aku akan berusaha untuk sembuh, asal kamu selalu ada di samping aku." Sissy tersenyum manis, membuat bibir Dhigo ikut tertarik.
Nafas Dhigo terasa dekat dengan wajahnya, membuat Sissy reflek memejamkan matanya.
"Woooooi, belum mahrom lo berdua. Kalau setan lewat terus gue dapet ponakan karena kebobolan, kan nggak lucu."
Digo memejamkan mata, menahan kesal. Ryan memang tipe orang yang jail dan cempreng. Sementara Sissy sudah terkikik kecil melihat wajah kesal Dhigo.
"Lo..." tunjuk Dhigo kesal. Sedangkan Ryan hanya memberikan cengiran bodohnya.
"Udah, lebih baik lo berdua keluar. Gue mau istirahat." usir Sissy
"Aku mau di sini sama kamu, beiiibh. " rengek Digo manja, membuat Ryan berpura-pura muntah sedangkan Sissy sudah mendelik kesal.
"Keluar sekarang atau jangan pernah lagi temuin gue." ancamnya dengan tajam.
Dengan pasrah Dhigo bangkit dan meninggalkan kamar Sissy. Ryan terbahak-bahak melihat wajah murung Dhigo.
"Lo juga keluar curut."