Sejenak

1015 Words
Di dalam mobil gua selalu teringat dan terbayang-bayang dengan kejadian di parkiran dimana Fikri yang sangat sangat akrab dengan seorang wanita. Karena gua terus menerus memikirkannya perasaan cemburu mulai menguasai tubuh, pikiran-pikiran negatif mulai muncul dan mengganggu suasana hati dan pikiran gua. Rasa kesal dan bete ini terus menghantui entah kenapa aku malas saja melihat mereka berdua kompak dan begitu dekat. Amel yang melihat ekspresi wajah gua mencoba menegur dan mengajak bercanda. "Lu kenapa Putri, terlihat banget dari wajah Lu kesal kaya gitu ada apa?"tanya Amel. "Enggak, gua gak kenapa-kenapa."kata gua. Namun, Amel masih belum percaya kalo gua baik-baik saja. "Gua gak kenapa-kenapa Amel, makasih udah perhatian tapi gua emang baik-baik aja."kata gua. "Ya sudah, apa kata lu aja tapi kalo punya masalah jangan di pendam ya, cerita sama gua anggap aja gua kakak Lu jangan malu-malu,"kata Amel sambil mengusap kepala gua. Kejadian tersebut membuat gua nyaman dan hal tersebut mengingatkan gua dengan masa kecil kita, gua yang terkadang manja mampu dibuatnya tenang dan bahagia. Gua dan Amel memang seperti anak kembar namun, kita hanya sebatas teman sekelas saja. Brem ...bunyi suara mobil gua yang meninggalkan kampus dan pastinya meninggalkan Fikri bersama wanita tersebut. Pikiran gua saat ini menjadi tidak fokus sikapnya Fikri benar-benar membuat aku bingung serta labil. Pikiran gua saat ini sangat terganggu dengan sikapnya Fikri yang aneh itu. Kejadian sebelumya dia mampu memberikan kejutan yang benar-benar gua sendiri tidak mengira nya. Fikri bisa berubah menjadi seromantis itu namun, kini aku melihat dia sangat akrab dengan wanita lain. Sebenernya Fikri itu suka atau tidak sih sama gua benar-benar sikapnya sangat menyebalkan. Karena pikiran gua sedang tidak baik dan hati gua ingin menangis namun, perasaan ini hanya bisa gua pendam dia adalah pria menyebalkan yang mampu membuat gua labil dengan sikapnya. Gua sangat ingin menangis untuk saat ini dan mengatakan kepadanya kalau gua sangat membencinya. Sikap yang labil tanpa rasa bersalah tertawa bersamanya dihadapan gua. Gua yang kesal sudah tidak bisa lagi mengontrol emosi untuk tidak marah, mobil yang gua bawa menjadi semakin tidak terkendali dan arahnya menjadi tidak beraturan seperti perasaan ini. Amel yang melihatnya terus mencoba menenangkan dan memperingatkan untuk tetap berhati-hati atau berhenti sejenak untuk bertukar posisi. Namun, gua yang dalam keadaan marah tidak bisa dikendalikan karena gua sendiri sudah berada dibawah tekanan emosi sendiri.Perasaan cemburu sudah menguasai tubuh. Pengendara lain yang melihat mobil kita pun berusaha untuk memberhentikannya tetapi gua justru menambah kecepatan mobilnya hingga ada lampu merah di depan dan gua melakukan rem dengan mendadak. Karena gua melakukan rem mendadak akibatnya mobil kita menjadi semakin tidak terkendali dan melakukan akrobatik di udara lalu jatuh dengan keras ke tanah. Gua langsung tidak sadarkan diri dengan luka parah serta darah yang keluar namun, Amel masih sadar dan dia yang menjadi saksi kejadian tersebut. Kejadian tersebut pun berlalu, gua langsung terkejut ketika sadar ternyata sudah di rumah sakit dan di samping gua ada Laila, ternyata Laila lah yang membawa gua kerumah sakit. "Putri lu sudah sadar?"tanya Laila. "Laila, kok gua bisa ada di rumah sakit Amel gimana kemana dia?"kata gua dengan panik. Namun, tiba-tiba kepala gua di getok pake buku sama Amel. "Ih nyebelin lu udah tidur, sakit tau,"kata Amel sambil memukul kepalaku pakai buku paket. Tau sendiri buku paket buat ngampus kan lumayan tebalnya. Gua yang menerimanya langsung memegangi kepala sambil menangis. "Amel kamu mah, sakit kepala Putri."kata gua. "Biarin, lagian kebiasaan udah dibilang pelan-pelan aja bandel!"kata Amel dengan nada kesal. Laila yang melihatnya langsung tertawa. Dia langsung berusaha untuk memisahkan kita agar tidak bertengkar lagi. "Sudah-sudah kalian ada-ada aja lagi kaya gini kondisinya."kata Laila sambil tertawa. "Tau nih Amel rese!"kata gua dengan nada kesal. "Biarin lagian lu duluan."kata Amel. Gua juga menanyakan kepada mereka bagaimana keadaan di tempat kejadian. "Laila keadaan disan gimana, dan kok bisa di bawa kesini?"tanya gua. "Di sana tadi ada sedikit macet namun, saat ini sudah aman ada korban sih dia bernama Safri, sekarang lagi dirawat di ruangan gawat darurat kondisinya kritis dia kekurangan."kata Laila. "Kekurangan apa darah?"tanya gua dengan nada panik. Laila yang mendengarnya langsung menjelaskan maksud dari perkataannya. "Kekurangan cinta dan kasih sayang, banyak yang datang lalu menghilang di kasih hati minta jantung. Rasanya pengen banget dia mati gua gantung."kata Laila dengan nada puitis. "Cie, sering di kasih harapan palsu ya?"tanya Amel. "Iyah nih."kata Laila dengan nada bercanda. "Sama kita tos dulu dong,"kata Amel sambil tosan sama Laila. "Dasaran, pada bucin udahlah gua diam aja yang jomblo mah."kata gua. Namun, Laila dan Amel yang mendengarnya malah kompak untuk meledek gua, mereka berdua kompak melihat ke arah gua dan memanggil gua dengan nama Fikri. "Iya dah. Sttt Fikri!"kata mereka berdua. Gua yang mendengarnya langsung menutupi wajah dengan selimut karena malas. Tetapi ketika gua bersembunyi dibalik selimut karena kesal bukan mereka minta maaf malah menambah membuat gua kesal. Laila bertanya ke Amel kenapa gua bisa dirawat dan mengalami kecelakaan, Amel yang mendengarnya langsung menjelaskan dengan senang hati. Namun, ketika Amel ingin jujur kalau kecelakaan tersebut gara-gara Fikri gua terus memotong nya dan mengatakan sudah kehendak dan takdir tuhan. Amel yang mendengarnya menjadi sedikit kesal namun, dia malah menjahili gua dia terus menerus mengulang kalimat tersebut hingga gua sendiri yang justru mengatakan Fikri. "Jadi semua ini akibat Putri patah hati karena melihat,"kata Amel sambil memencet telapak kaki gua. "Fikri, aduh sakit Amel!"kata gua dengan nada kesal. Amel dan Laila yang melihatnya langsung tertawa karena gua keceplosan menyebut nama Fikri. Tentu saja hal itu membuat gua malu karena di depan gua ada Laila yang merupakan sahabatnya Fikri. Namun, gua tidak melihat keberadaannya Fikri disini. Sudahlah untuk apa gua memikirkan dia yang tidak memikirkan gua. Mau menanyakan ke Laila ada hubungan apa Fikri sama cewek tersebut tapi gua gak ada fotonya. cuman gua malu dan berasa gak enak juga untuk bertanya. Suasananya pun menjadi hening sesaat Amel pun pergi meninggalkan ruangan untuk menjenguk Safri yang keadaannya sedang kritis. "Putri, Laila gua pergi dulu ya mau lihat korban kecelakaan,"kata Amel sambil berjalan keluar kamar gua. "Iyah Amel, kabarin ya perkembangan kondisinya dia."kata Laila. "Jangan lupa kabarin."kata gua. Amel langsung pergi meninggalkan kamar gua. Melihat kondisinya sekarang gua cuman berdua dengan Laila, gua memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya dengannya. Bertanya tentang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD