Keheningan

1161 Words
Gua yang ingat ada tugas yang harus dikerjakan, gua langsung melihatnya namun, sayangnya gua tidak terlalu mengerti karena tugasnya membuat puisi dan gua tidak pandai dalam membuat puisi. Hal itu membuat gua bosen dan sangat menyebalkan. Di kampus yang bisa membuat puisi hanya ada dua cowok yang sering menjadi juara yaitu Fikri dan Mike. Mike dan Fikri sangat dalam Kata-katanya ketika membuat sebuah puisi, tetapi baik Mike dan Fikri kita juga tau bagaimana sikap keduanya sama-sama kelamaan di kutub karena dingin banget. Fikri memang terkadang humoris sih dan itu hanya terkadang, Mike cowok dingin yang ekstrim sekali untuk kenal dengan dia, karena dia tidak segan-segan akan memukul ketika ada yang mengganggunya wataknya juga sangat emosian. Gua yang sudah mengantuk ini merasa bingung harus gimana, mau gak mau memang aku minta salah satu dari mereka untuk ngajarin karena ini tugas harus selesai. Gua memang sudah mencoba membuatnya sendiri tetapi puisi gua malah berantakan tidak karuan yang ada nanti malah kena omel dosen mendingan minta buatkan ye gak. Tiba-tiba ada notifikasi dari Instragram akun Fikri ngefollow akun gua, gua yang membacanya semakin bingung dan bertanya-tanya ini orang maksudnya apa kalo misalnya suka itu hal yang sangat minim sekali, karena dia aja kaya gitu. Gua berusaha untuk berfikir positif kalo dia hanya ingin temenan sama gua, jadi ya gua gak perlu berfikir macam-macam dengan dia, karena sudah semakin malam gua lebih memilih untuk beristirahat dalam tenang eh salah emangnya udah mati, dalam tidur maksudnya. Gua mau bobo cantik jangan ganggu ya, ketika mulai merem tiba-tiba ada suara pintu seperti ada yang mengetuknya dan suara cewek. Gua yang mendengarnya terkejut karena waktunya sudah malam hari namun, Bukan Putri namanya kalo penakut mah. Dengan perlahan-lahan gua membukakan pintu. Disaat membuka nya jantung berdebat kencang karena memang sudah malam pasti aja ada rasa takut dan mencurigakan namun, gua memberanikan diri untuk tetap membuka nya tetapi sambil membawa bantal. Gua bawa bantal jadi kalau kaget tinggal lempar. Krek ... Pintu kamar mulai terbuka secara perlahan, gua buka lagi perlahan mulai kelihatan ada bayangan terus menerus buka pintunya sampai terbuka. Setelah membukanya gua langsung kaget karena ada seorang perempuan yang berdiri didepan dan gua langsung memukuli nya. Perempuan tersebut langsung teriak hingga orang rumah terbangun dan seperti mengenali suaranya. Benar saja begitu dilihat ternyata itu Pepi adik kesayangan gua. Bapak gua dan ibu yang melihat ekspresinya Pepi langsung tertawa, begitu juga gua yang langsung menutup mulut menahan ketawa. "Kaka Putri mah masa adiknya sendiri digebukin pake bantal,"kata Pepi dengan nada kesal. "Yah maaf kan aku kaga tau, lagian kamu juga ngapain malam-malam malah ngagetin aku?"tanya gua. "Dih siapa yang ngagetin kakaknya aja kali penakut."kata Pepi sambil tertawa. "Dih, enak aja kamu ya kalo ngomong kamu yang bikin ulah malah ngeledekin aku,"kata gua sambil ngejahilin Pepi. Kedua orang tua sambil tertawa menyuruh kita berdua tidur dan bubar. "Udah bubar kalian ada-ada aja udah malam juga bukannya pada tidur. "Hehehehe, aku udah tidur kalo gak di gangguin Pepi. "Dih rese, uhhhh udah ah aku ngantuk dah,"kata Pepi sambil masuk kedalam kamar gua. "Dih, ini kan kamar aku kamu ngapain kesini?"tanya gua dengan nada kesal. "Oh iyah lupa ya sudah gpp aku tidur disini aja,"kata Pepi sambil tiduran dan memeluk guling. "Dasaran penakut, bilang aja takut tidur sendiri."kata gua sambil tertawa. Gua dan Pepi pun langsung tidur untuk menanti hari esok dan gua berharap gak serumit hari ini. Pagi hari tiba, gua langsung berangkat ke kampus dengan keadaan sedikit cemas karena tugas belum selesai. Seperti biasa gua dan Amel janjian berangkat bareng ke kampus. Ketika di kelas, tiba-tiba dosen memanggil gua dan menyuruh gua membacakan selembar kertas di atas mejanya yang ternyata adalah puisi atas nama gua. Gua sendiri bingung siapa yang menulisnya dan gua menebak satu nama yaitu Fikri. Puisi tersebut sangat menarik dan di apresiasi sama yang lain, bahkan dosen mengatakan gua bisa diajukan untuk mengikuti lomba bulan bahasa. Disaat gua mau pulang di depan mading ada banyak orang dan ramai, gua sama Amel yang penasaran langsung melihatnya. Setelah melihatnya gua langsung terkejut, karena di mading tersebut ada foto gua dengan Fikri ketika melawan geng motor Devil Army. Ada lagi yang lebih mengejutkan yaitu judulnya. Sang permata penakluk satria. Gua yang membacanya langsung terkejut tetapi, gua bingung siapa yang membuatnya dan menaruhnya di dalam mading itu. Tiba-tiba secara mengejutkan Fikri muncul dibelakang ku bersama geng motor mysterio yang berbaris disamping ku. "Renungan hangat cahaya mentari, harum dan indah bunga melati, semanis gula putih wahai gadis manis siapkah kau menjadi seorang kekasih?"tanya Fikri dengan nada yang lembut. "Lu nembak gua?"tanya gua dengan nada lembut. "Iyah."kata Fikri. "Serius beneran?"tanya gua. "Enggak bercanda."kata Fikri. "Ah, serius?"tanya gua. "Bercanda, serius deh."kata Fikri sambil tertawa. "Ih! Tau dah."kata gua dengan nada kesal. Fikri yang mendengarnya malah tertawa, memang nyebelin dan ngeselin anak satu ini. Suasananya berubah yang tadinya menyenangkan menjadi sangat menyebalkan. Sikapnya benar-benar bikin gua emosi dan bertanya-tanya tentang keseriusannya. Dia masih tersenyum dan mengajak bercanda padahal gua butuh kepastian darinya, tapi dia malah kaya gitu gua mulai berfikir untuk pergi dan meninggalkan bawaannya Pengen mengabaikannya karena kesal. Gua yang kesal dan semakin bete langsung meninggalkan tempat tersebut dan mengabaikannya. Fikri yang melihat ekspresi wajah gua dia juga sama sekali seakan-akan tidak peduli, gua yang melihatnya semakin berasa bete dan berfikir kalau dia hanya bercanda. Ketika gua dan Amel ke arah parkiran gua melihat ada seseorang wanita cantik menunggu di depan motornya Fikri. Gua yang melihatnya menjadi penasaran apa itu pacarnya, tidak lama kemudian Fikri datang dan menegurnya. Mereka berdua terlihat sangat dekat dan sangat akrab gua semakin yakin kalau itu adalah pacarnya. Tapi kalau dia sudah punya pacar kenapa dia malah nembak gua, jangan-jangan dasaran berati dia playboy berati dia juga cuman memainkan perasaan gua dari kemarin. Gua menjadi semakin kesal dan rasanya ingin melabrak dia. Namun, Amel yang berada di samping gua langsung mengingatkan gua untuk berfikir panjang dan jangan bertindak ceroboh bisa saja itu adalah adiknya Fikri. "Lu mau ngapain Putri?"tanya Amel. "Gua samperin Fikri, maksudnya apa coba dia nembak dan bikin kejutan buat gua kalau dia sudah punya pacar!"kata gua dengan nada kesal. "Jangan bertindak ceroboh dah, kan bisa saja itu adiknya."kata Amel. "Masa iya, gak mungkin lah."kata gua. Amel yang mendengarnya kembali menasihati gua. "Putri, lu aja kan baru kenal sama Fikri juga gak terlalu dekat jadi lu belum benar-benar kenal dengan dia."kata Amel. "Iyah juga sih, benar kata lu cuman tetap aja gua gak terima, masa iyah dia bisa berduaan sama cewek lain didepan cewek yang dia suka!"kata gua dengan nada kesal. "Emang dia ngeliat kita?"tanya Amel. "Enggak juga sih, belum tentu."kata gua. "Nah itu pinter, jadi kalau dia gak ngeliat terus lu mau ngomel-ngomel nanti malah malu sendiri lu."kata Amel dengan nada bercanda. "Iyah juga, ya udahlah ayuk pulang!"kata gua sambil cemberut. Amel yang melihat dan sadar kalau gua cemburu melihat Fikri sama yang lain, dia malah terus meledek gua. Amel juga menyuruh gua untuk menerima Fikri yang tadi menembak gua namun, sikap dia yang gak jelas membuat gua ragu untuk menerimanya. kira-kira gua harus gimana ya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD