4; Yellow Heart

1232 Words
"Too easy to play, too hard to say. Dont stop it, just try it." - Edgar A.B. Replaying music: Yellow hearts === “Laris, Laris, LARIS!” Abas mengibaskan tangan ke barang-barang di hadapannya. Belum sampai tiga detik, para siswa sudah berkerumun memilah barang penjualan-nya. “Mao nggak lu semua? gue kasi diskon lima puluh persen.” Abas memukul semua tangan yang hendak mengambil jualannya. “E-eh sentuh bayar bego. Barang mahal ini. Sukur lu gua kasi diskon. Beli woi.” “Ini apa?” Seorang gadis menarik sebuah kaset kecil. Muka Abas berubah dengan drastis, pucat pasi. “Wadu, itu ilegal sayang. Itu banyak yang lebih menarik atuh.” katanya. Abas mengedipkan mata sebelah. Kemudian menghela napas panjang saat gadis itu menaruh kembali kaset miliknya. Abas bego. “Bro, kita tungguin juga di—ANJING BARANG GUE LU APAIN.” Bentak Jayson menarik paksa semua barang miliknya. Terutama Kaos kesayangan miliknya, yang ber-warna pink. “Eh tai, dagangan gue kandas gara gara lu. Customer gue, eh customer guee.” kata Abas sembari menatap naas ke para siswa yang melenggang pergi begitu saja. “Siapa suruh lu jualin barang gue? Aduh, my pinky supreme.” ucap Jayson sambil mencium berkali-kali kaos miliknya. “Lu nginep mulu dirumah gue, udah kayak penumpang gelap. Barang lu gue jualin aja, siapa suruh ditinggalin.” “Bangsad.” umpat Jayson langsung mencekik leher Abas. “Gue bakar rumah lu.” "ABASSSSSSSS! PANTESAN JUALAN GUE NGGAK LAKU! LO NYURI PELANGGAN GUE!" Jeritan dari Amel pun membuat Bram menoleh. Pasalnya cowok itu hendak menyapa dan memberikan sesuatu ke Amel saat baru saja datang ke sekolah, namun gadis itu malah berlari mengejar Abas sekarang membuatnya pasrah. "Goblog lo malah jualan. Nael sama Edgar lagi baku hantam di lapangan!" Osman tiba-tiba datang dan menyeret kerah baju Jayson dan Bram dari belakang. Udah kayak nyeret kucing. "Baku hantam mah siang aja, pagi gini dapet apaan? Piring?" Celoteh jayson dengan cengonya. "Jakun gue keteken oncom, ntar jakun gue ketelen gimana?" Ucap Bram dengan randomnya membuat tarikan kerah dari Osman mengendur. Cowok itu menatapnya dengan sinis. BUGH "Udah bro, siang aja kalo mau tempur. Gue siap bantu." Kata Jayson sambil melerai keduanya. Bram menarik tubuh Nael mundur, sedangkan Osman mendorong mundur tubuh Edgar. Napas keduanya tersengal, masih mencoba melawan dan mengelak. "Bantu apa lo?" Bram menatap Jayson dengan penuh curiga. "Bantu doa." BUGH Bram memukul Jayson karena emosinya ikut tersulut. Nael yang terlepas dari penahanan tubuh Bram langsung mendorong dan menghempaskan Osman ke tanah dan langsung menyambar si Edgar. Perkelahian jadi membara karena Osman ikut gelut diantara mereka. "Apa-apaan kalian? Pagi-pagi udah mau silaturahmi di ruang BK?" Suara Bu Legit, Guru Bimbingan Konseling, tidak diindahkan. Malahan saat Bu Legit mendekati Jayson, ia kena pukul. Barulah saat itu mereka berhenti baku hantam karena merasa ada yang ganjil. "KABURRRRRRR!" Seru mereka berlima berpaspasan dengan suara bel masuk berbunyi. Bu Legit ingin menangkap namun mereka berlarian ke arah yang berbeda. Akhirnya ia hanya mengejar Jayson. "Relain aja Amel buat gue, lo mundur." Bram berhenti melangkah. Ia menoleh cepat keasal suara dengan napas ngos-ngosan. Disana Abas sedang bersidekap menyender di dinding. Senyum miringnya mengembang. Tak lama Abas berjalan mendekat dan menepuk bahu Bram pelan kemudian berlalu tanpa kata lagi. Pikiran Bram kosong. Ia tak merasa ingin emosi atau apapun. Perlahan ia membuka pintu kelas dan betapa terkejutnya saat teman sekelasnya sedang berkumpul heboh jadi satu. "Apaaan nih apaan? Ada yang meninggal?" Tanya Bram penuh kepanikan. Salah satu teman sekelasnya menoleh malas, "Tugas kimia yang kemaren dikasih, kudu dikumpulin pagi ini." "Gue belom sia." Bram berjalan cepat ke mejanya dan mendapati Nayla yang tertidur nyenyak. Ia bangunkan dengan sekali suara. "Muka beler banget pagi-pagi." "Sumpah? Beneran?" Panik Nayla seraya mengambil cerminnya dan berkaca disana. "Masih cantik gue, Bohong lo ya?" "Lo nggak ikut nyalin Kimia?" "Ngapain?" Tanya Nayla dengan nada remeh. "Gue mah dah kelar." "Ternyata lo berguna juga jadi teman sebangku." Kekeh Bram dengan senyum mengembangnya. "Sini, gue mau nyalin." === Nayla berjalan mengendap-endap menuju kelas XII-IPS 2. Kedua tangannya membawa s**u strawberry untuk Nael. Cowok itu memang pecinta s**u rasa strawberry. Hitung-hitung Nayla bisa basa-basi jika cowok itu menolak untuk berbicara dengannya. Atas wejangan dan nasihat Bram sebelum istirahat, Nayla pergi ke kelas Nael karena cowok itu akan menyendiri disana. Dan... benar saja. "Assalammualaikum." Ucap Nayla sambil mengetuk pintu beberap kali kemudian menerobos masuk. Nael sempat melirik, lalu membuang muka lagi. "Nael..., Nayla minta maaf." Nael tak merespon. Ia tetap sibuk melihat keluar jendela. Nayla tahu kalau cowok itu sedang ngambek. "Nael... Nayla bingung daridulu jujurnya gimana. Iya, Nayla salah. Nael boleh benci Nayla. Maaf." Nael masih tidak bergeming. Malah dia sempat melirik ke tangan Nayla yang memegang s**u kotak strawberry. Nayla yang peka akan hal itu langsung tersenyum dan menyodorkan kedua kotak s**u itu ke Nael. "Ini Nayla beliin buat Nael..., ambil ya?" Raut wajah Nael datar. Namun cowok itu tidak membuang mukanya kali ini. Nayla pun mengeluarkan senyuman andalannya, senyum mematikan. Nael buru-buru mengambil kedua kotak s**u strawberry itu lalu membuang mukanya dengan wajah merah padam. "Nael udah maafin. Nayla boleh pergi sekarang." "Nayla mau tetep disini nemenin Nael." "Nael masih ngambek. Ntar aja." Jujur Nael lalu memasang earphone-nya, bermaksud untuk mengusir Nayla secara halus. Nayla menganggukkan kepala lalu melenggang pergi begitu saja. Misinya adalah menemui Edgar maka segalanya bisa diluruskan. Namun dimana ia bisa bertemu dengan Edgar? Hape Nayla bergetar membuat langkahnya terhenti. Brameswara Edgar, lt. 2 kls 12 IPA 1                                                                                                                                        Dia sendirian? Brameswara G. Td gmn?                                                                                                                                                Berhasil. Nayla langsung berlari memutar menuju kelas yang ditunjukkan Bram. Merasa dipantau, Nayla menoleh dan mendapati Bram berdiri di balkon tepat disebelah Edgar. Cowok itu sedang asik mengobrol, namun tatapannya tak teralih sedikit pun dari Nayla yang berada di gedung seberang. === Dari kejauhan, tampak Bram yang beradu tos dengan Edgar dan melenggang pergi. Edgar pun yang sendirian memilih masuk ke dalam kelasnya. "Edgar!" Seru Nayla membuat cowok itu kembali melangkah mundur dan tersenyum "Hai sayang, kangen gue?" Tanyanya dengan pede. "Kangen palalo!" Refleks Nayla langsung menutup mulutnya. Harusnya baik-baikkin dulu biar Edgar nggak marah lagi. Tapi aneh, kenapa Edgar bersikap seperti biasa? "Jadi... ada apa?" Tanyanya dengan suara lembut membuat Nayla mengerutkan dahi. "Nggak ada apa-apa sih, cuman soal waktu itu gue minta maaf. Harusnya gue nggak bilang gitu. " jelas Nayla sambil menunduk dengan rasa penyesalan. Ia tahu kejadian tadi pagi tentang berantemnya Edgar dengan Nael, semua pasti karena dia. "Lo nggak perlu minta maaf. Lagian hati nggak bisa dibohongin. Iya kan?" "Iya--eh, apa?" Nayla langsung mendongak menatap Edgar menyengir. Loh, cowok ini kemarin menghina dirinya sesukanya, sekarang kenapa jadi manis begini? "Gue sebenernya masih suka sama lo, daridulu nggak pernah berubah." Edgar merangkul bahu Nayla tiba-tiba. "Nael waktu itu duluan nembak lo sih, jadi gue mundur aja." "Ternyata lo suka sama gue." Lanjutnya lagi dengan pede. "Lo udah putus kan? Pacaran aja yuk?" Lanjutnya lagi penuh semangat. Nayla melebarkan matanya bukan main. Bukannya menjawab, ia malah terdiam mematung. "Lo nggak jawab, gue anggap iya berarti, ya kan?" Tangan kanan Edgar langsung menggenggam jemari Nayla. Perlakuannya begitu cepat membuatnya terkejut lagi bukan main. "Harusnya Nael habisin Edgar pagi tadi, harusnya Nael nggak maafin Nayla tadi." Nayla langsung mendorong bahu Edgar hingga membuat cowok itu menabrak dinding sedangkan ia terpaku melihat iris mata Nael yang menggelap dibelakangnya. Baru kali ini, Nael si cute dan softboy memiliki sisi menyeramkan. Edgar tergelak. Oh, jadi Edgar udah sadar keberadaan Nael sedari tadi? ===
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD