3; Pernyataan Mengejutkan

1795 Words
"Dont cry, they just want to see your tears. They are Monster and you the princess." - Naylaanjani Dwirahartika Replaying music: Dance monkey == "Jadi ini cafe punya lo sendiri? Boleh juga." Nayla manggut-manggut sambil meminum viatnamese coffe-nya yang diberikan oleh Bram. Keduanya berjalan keujung hingga tiba di suatu pintu dan Bram membukakannya agar Nayla bisa masuk ke dalam. Semenjak kejadian Nayla menangis, Bram mendadak gelagapan sendiri. Dia pun langsung menarik lengan gadis itu untuk mengikutinya ke parkiran dan menaiki motor ninjanya. Karena tak tahu dimana alamat rumah Nayla sedangkan gadis itu masih sesegukan, Bram langsung mengajaknya ke cafe miliknya sendiri. Yah, diam-diam Bram membuka usaha. "Berapa tahun cafe lo berdiri? Pemberian ortu lo? beneran lo yang mimpin? Serius?" Tanya Nayla tanpa henti. Bram menatap sinis lalu mengambil duduk diatas meja kerjanya. Nayla pun diam menyengir. "Nael ngambek pasti sama gue besok." Desahnya Bram sambil bersidekap dan menatap Nayla dari ujung kaki sampai atas kepala. "Puas lo nangisnya?" "Puas banget. By the way, minumannya gratis kan?" Tangan Nayla bergerak ke kanan dan kiri membuat minuman itu sedikit teraduk. Bram menggeleng. "Pala lo peyang. Bayar. Money its everything." "Hilih, sok jual mahal. Harga elo mah lebih murah dari gue." "Oh gitu?" Bram mencibir membuat Nayla tersadar dan mendadak bungkam. "Yakin? Kaca gede noh disebelah lo." "ISH IYA TAU GUE. MAKANYA LO DIEM SEKARANG." Seru Nayla sambil mengeluarkan duit selembar lima puluh ribuan dengan paksa, lalu berjalan keluar ruangan dan membanting pintu. "Buset si cabe lagi PMS." Gumam Bram refleks. Setelah terdiam lama selama sepuluh menit, Bram melepas jaket denimnya dan menyampirkannya ke kursi. Ia pun melepas kemeja sekolahnya hingga menyisakan celana sekolah yang masih bertengger ditubuhnya. "ANJIR ANJIR ANJIR!" Seru Nayla tiba-tiba membuka pintu membuat Bram langsung berteriak karena tangannya sedang membuka resleting celana. "TUTUP BEGO! OTAK LO KEMANA?!" Nayla langsung menutup mata dan buru-buru menutup pintu. Pipinya merah tak karuan. Tadi nggak sengaja lihat sesuatu yang tak sepatutnya dia see. Jantungnya jadi berdebar-debar. "Sorry gue gatau lo lagi ganti baju." Cicit Nayla. "Udah belom?" Dilain sisi, Bram menahan malu tak karuan. Ia pun menyambar dengan paksa kaos hitam bekas kemarin yang sengaja ia tinggalkan diruang kerja. Celananya pun tak jadi ia ganti. Dengan segera Bram keluar ruangan. "Udah. Apaan yang anjir anjir?" Nayla masih menutup matanya. Namun tangannya bergerak menunjuk sesuatu. "Kamar mandi? Kenapa?" Tanya Bram heran. Otaknya mulai kemana-mana. "Eh bukan!" Refleks Nayla menepuk jidatnya lalu memutar badan ke kiri dan menunjuk-nujuk kearah sana. Bram mengikuti arah tunjukkannya. Menyipitkan matannya sebentar, lalu tersentak. "Ih anjir anjir anjir!" "Bener kan? Anjir." "Iya anjir." "Anjir." Nayla sudah membuka matanya lalu mengerjap, berniat memperjelas pandangannya. "Itu mereka lagi jalan berdua? Di cafe gue?" Tanya Bram yang jelas jawabannya sudah di depan mata. Cowok itu malah melangkah maju dengan kesal, namun Nayla langsung menahannya membuat cowok itu menatap tajam. "Ngapain lo nahan gue? Ini cafe gue, suka-suka gue ngusir pelanggan." "Gini nih kalo pas bayi dikasih s**u kucing bukan asi." Nayla geleng-geleng kepala. "Lo diem aja disini ngamatin. Gue yang kesana." Bram tak terima namun Nayla memberi peringatan maut membuatnya diam. Gini kata Nayla: "lo diem atau gue tendang punya lo." Bram sudah ngeri mendengarnya sehingga dia mengambil duduk dipojokkan sambil meminta pelayannya menyiapkan minuman favoritnya, seperti biasa. "Loh, kalian berdua disini? Kebetulan banget gue kesini beli minuman kesukaan gue." Basa basi Nayla yang langsung dibalas sambutan baik oleh Amel. "Sini duduk bareng kita, Abas katanya mau curhat. Gue nggak yakin bisa ngasih solusi." Ucap Amel polos. Nayla menatapnya tak percaya. Jadi Amel diajak kesini karena Abas ingin curhat sesuatu? Nayla menatap temannya tak percaya. Kok bisa sih mau aja diajak. "Gue ditraktir, lumayan lah, lo juga sini ditraktir Abas." Ucap Amel lagi dengan polosnya. Sebenarnya agak ragu dikatakan polos, because lebih mengarah ke bego. Abas tampak tersenyum malu. Ia juga mendadak kelu. Dengan cepat ia mengubah topik. "Kita diliatin sama semua orang disini, pindah tempat aja ya?" Tanyanya ke Amel tanpa mempedulikan sosok Nayla yang duduk dengan kesal. Nayla pun mendelik, "Oh iya gimana produk make up lo yang baru? Kan katanya gue endorse dulu sekalian bikin tutorial vlog nya." Amel langsung mengangguk semangat, lalu menatap Abas sambil mengetukkan jarinya diatas meja. "Traktirnya kapan kapan aja ya? Gue mau ngurusin sesuatu sama Nayla." Nayla langsung menoleh dengan tatapan bangga. Bagi Abas, itu tatapan nyari ribut. Tapi demi menjaga image dihadapan degemnya satu itu, Abas terpaksa berdiri dan mengangguk. "Oh oke, perlu gue tungguin sampe urusan lo selesai biar gue anter lo pulang?" "Gausah. Lo pulang aja." Terlihat sorot kecewa dari Abas dan Nayla langsung melambaikan tangannya, membuat cowok itu membalas melotot. Tapi Nayla malah menyunggingkan senyuman kemenangan. Emang enak? Deketin sahabat Nayla, harus langlahin mayat Nayla dulu. Tiba-tiba handphone Amel berdering membuat gadis itu mengangkat teleponnya dan membalas seseorang di seberang sana kemudian mengucap salam dan menoleh kearah Nayla. "Gue harus pulang," terdengar nada sedih. "Besok aja ya? Gue duluan." Dengan tergesa-gesa Amel langsung keluar cafe tidak menghiraukan Nayla yang menanyakannya akan pergi kemana. "Jiah, dua duanya balik." Gumam Nayla. "Yaelah, kok lo biarin Amel balik sih? Gue belom gerak." Suara bariton milik Bram terdengar membuat Nayla terkejut bukan main. "Serah ah, gue mo balik." Nayla mengambil tasnya dengan kasar lalu berjalan keluar cafe. Sesaat sebelum ia melangkah ke trotoar, hujan deras membuatnya kembali ke cafe. Tapi ia malah berdiri diluar. Enggan masuk. "Lo kalo mau jadi pelayan yang ngucapin selamat datang buat pengunjung masuk sih boleh, tapi gada gaji." Ujar Bram tiba-tiba sudah disebelah Nayla. "Masuk ah, ntar orang ngira gue jadiin lo SPG. Kan lo tante muda." "Sembarangan lo ya!" === "Seriusan lo bawa skincare sebanyak ini ke sekolah?" Bram menatap tak percaya melihat meja kerjanya kini penuh barang skincare berserakan. Ceritanya Nayla ingin membuat video tutorial maskeran buat ngelembapin wajah, jadi dia udah nyiapin jel aloevera. "Nah sini lo duduk." Nayla yang sudah merapikan tata letak kameranya langsung menarik lengan Bram yang masih cengo hingga duduk ke sofa. "Lo diem ya, gue jadiin lo guest gue di video. Biar banyak viewers-nya, gue maskerin elo." "APA?!" "Udeh diem, udah nyala itu kameranya." "Ngomong dulu kek buset dah. Gamau gue." "Diem nggak lo? Gue live!" "SUMPAH DEMI APA?!" Nayla langsung mengambil bandana dan memakaikannya ke kepala Bram mumpung cowok itu masih terkejut. "Tapi boong." "Udah lo diem aja. Paling boleh bilang iya, ngangguk-ngangguk, sama senyum. Biar penonton gue baper sama lo." Perintah Nayla dengan datar. Bram malas berdebat, jadi ia mencibir pelan isi umpatan. Nayla pun langsung menyalakan kameranya dan siap merekam. "Hallo guys! Welkom bek to may channel! Sekarang aku ajak temen aku buat kolab di video satu ini. Itung-itung buat kalian yang cowok pengen punya muka mulus tapi malu. Nah, ini dia temen aku namanya Bram! Wajahnya bagus banget ya kan? Dia rutin tau maskeran." Bram melotot tak percaya. Pembohongan publik macam apa ini. Nayla langsung menabok punggung belakang Bram membuat cowok itu mendadak batuk. "Iya, hehe." Dengan berat hati Bram berkata. "Nah, sekarang aku masu ngasih tahu buat kalian yang punya kulit kering. Aku saranin maskeran dengan gel lidah buaya. Boleh kok beli yang udah jadi, tapi usahain kandungan aloe veranya tinggi minimal sembilan puluh tujuh persen. Kalau aku, pakai aloe vera yang alami." "Iya, hehe." Balas Bram lagi sambil senyum-senyum gajelas. "Nah, Bram sekarang tutup mata ya karena aku mau maskerin ke wajah kamu." Bram rasanya ingin muntah mendengar aku-kamu, namun lagi-lagi Nayla memukul punggung belakangnya. Ia langsung menutup mata dan membiarkan Nayla melakukan eksperimen dengan wajahnya. "Nah, kalau udah, tunggu lima belas menit lalu bilas!" Nayla langsung mematikan rekamannya dan menatap sinis Bram. "Sono lo cuci muka." "Kan katanya nunggu lima belas menit." "Serah, tapi ini kan buat video jadi biar cepet lo bilas." "Iya dah iya bacot bener." Bram melangkah gontai ke pintu. "Baru pertama kali gue lihat pembohong publik, tepat depan mata." Katanya sebelum menutup pintu. Rekaman itu tak lama berakhir dengan kata, "Ngomong-ngomong Bram masih jomblo. Kalau mau boleh kok kontaknya. Bye bye! Makasih udah mau nonton di channel Naylaaanjani!" Bram menatap ngeri. Namun Nayla tidak memperdulikannya. Malahan gadis itu sibuk merapikan peralatannya. Bram yang bosan langsung menyalakan hapenya dan begitu terkejutnya ia melihat sebuah pesan dari Grupchat Galantara. Edgarara: sini lo sialan ketemu gue! Bram panik bukan main, kemudian ia membuka grupchat. Ia kira dirinya yang membuat Edgar emosi. GALANTARA Jaysono: Udah goblog Abasabasi: hareudang hareudang panas panas panas Naelele: JWB ANJNG KALO PUAS MAH Edgar: w udh gsuka sia. Bkan godain cewek lo mulu. Eh, mantan mksudnya. Osman.onta: bacot bener gegara Nayla doang. Ngapadah? Abasabasi: hei sob, jadi korban Nayla jg? Apasi? Jayson: kls gue ribut mulu Os, Airin dibully habis-habisan sama Tiara. Diem aj lo? Osman.Onta: bukan urusan gue. Savage. Naelele: w sring liat lo jln sm dia dblkng, t***l. Nikung tmn lo. Edgarara: niat w buat minta maaf njir kok lo nyolot. Mantan pacar lo noh, cabe. Abasabasi: kutunggu kalian berdua dilapangan. Ayo baku hantam! Osman.Onta kicked Abasabasi from GALANTARA Osman.Onta: sampah masyarakat tuh dibuang jangan dipelihara. === "Bram?" Nayla sudah mengambil duduk disebelah cowok itu. Dahinya berkerut melihat Bram yang tampak fokus melihat layar hape. "Lecek amat muka lo kayak kanebo kering." Bram mematikan layar hapenya lalu menatap Nayla penuh selidik. "Lo punya masalah apasih?" "Masalah? Masalah apa?" Tanya balik Nayla. Bram mendengus sebal. "Antara lo sama Edgar dan Nael, ada apa?" Nayla lansung ber-oh ria karena paham maksud Bram. "Lo inget kan dulu Edgar sama Nael ngejar-ngejar gue?" "Hm." Bram bangkit berdiri merapikan seragam sekolahnya, lalu memakai jaket denim hitamnya. "Tiba-tiba Edgar berhenti ngejar gue trus Nael nembak gue. Gue kira nerima Nael bakal ngasih hal manis di hidup gue." "Trus lo suka sama Edgar gimana ceritanya?" Tanya Bram sambil menyisir rambutnya ke belakang juga sembari bercermin di kaca. "Suka itu sebenernya kayak apasih?" Ucapan Nayla membuat Bram kaget bukan main. "Gue ngerasa bergantung aja gitu, balas budi mungkin, mungkin karena itu gue berpikir suka sama Edgar?" "Lo pernah suka sama orang?" "Penasaran, artinya suka kan?" Tanya balik lagi Nayla membuat Bram makin menatap tak percaya. "Mantan lo berapa?" "Satu, itupun kalau Nael beneran jadi mantan ?" "Gue nggak tahu ya harus nyebut lo b******k atau ngga punya hati nurani. Lo pacaran tanpa perasaan." Bram membantingkan tubuhnya di sofa tepat disebelah Nayla. Matanya menatap langit-langit. "Trus soal lo jalan bareng Edgar dibelakang Nael gimana ceritanya?" "Hah? Kapan? Biar gue pacaran tanpa perasaan, gue nggak mungkin jalan sama orang lain dibelakang pacar sendiri." Akui Nayla dengan serius. "Coba inget-inget. Lo pernah dianter jemput atau apa nggak gitu, berduaan sama Edgar?" "Waktu itu kali ya?" Jeda sebentar, "Gue kabur dari rumah karena orang tua gue lagi-lagi berantem. Gue kehujanan dan berhenti dipinggir halte. Edgar dateng tiba-tiba dan nolongin gue." Bram mulai mengerti, lalu ia terpikir sesuatu. "Lo 'kan sekarang tau nggak pernah suka sama siapapun. Cinta pertama, berarti lo nggak punya sama sekali?" Nayla menggeleng pelan membuat Bram jadi gusar. ===
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD