"The true hurts for awhile, but a lie hurts forever."
- Bram G.
Replaying music: playdate
===
"OSMAAAAAAAAAAAN! GUE ADA PUISI KHUSUS BUAT LO!"
suara teriakan melengking sekaligus cempreng milik Tiara membuat seisi kantin diam menatapnya dengan berbagai pengertian. Sebagian bersuara menyoraki Tiara, sebagian berseru untuk membacakan puisinya ditengah Kantin. Itung-itung tontonan seru melihat ratu julid berulah.
"OKE, OKE, DENGERIN LO SEMUA JANGAN BANYAK BACOT!"
Osman disudut kantin bersama Bram, Edgar, dan Jayson sudah mendelik geli. Mereka menyantap semangkuk bubur ayam penuh nikmat, terkecuali Osman yang sudah mulai mual gajelas. Akhirnya, Jayson mengacungkan jari jempol kearah Tiara. Maksudnya membiarkan perempuan itu membacakan puisinya.
"CINTA PERTAMA KALI DICIPTAKAN ADAM DAN HAWA." Ujar Tiara sembari mengibas rambutnya ke belakang.
"Cakeppp!"
"DIBAWA TERBANG OLEH RAMA DAN SINTA." kata Tiara sembari membalik kertas halaman pertama.
"Hoakssss!"
"DIBAWA TENGGELAM OLEH ROSE DAN JACK." Lagi, Tiara membalikkan kertas halaman kedua.
"Haluuuu!"
"DIBAWA MATI OLEH ROMEO DAN JULIET." Lanjutnya lagi sambil membalikkan kertas halaman ketiga.
"Dongenggg!"
"BACOT LO SEMUA, DIEM!" Sentak Tiara membungkam seisi kantin. Kemudian gadis itu tersenyum lebar. "LALU DIHIDUPKAN KEMBALI OLEH AKU DAN KAMUUU!"
"EAAAAAA!"
"Gue eneg makan, lo pada aja yang abisin." Ujar Osman sambil menggebrak meja. Ia pun mengambil tisu dengan kasar dan mengelap bibirnya lalu melompat keluar jendela kantin.
"OSMANN LO MAU KEMANA??" Suara jeritan Tiara mengisi gelak kantin hingga gadis itu hilang dari peredaran--mengejar Osman.
"Bah, dengan senang hati perut karung ini menerima." Ujar Edgar memekik girang. Tak butuh waktu lama ia mengkokop satu mangkuk hingga ludes.
"Berapa tahun lo ga makan? Butuh duit?" Sindir Jayson menatap jijik Edgar.
"Butuh," kata Edgar mantab yang langsung dihadiahi uang gocap oleh Jayson. "Wah, tengkyuu bebeb."
"Segitu doang mah, hah, kecyil." Balas Jayson sambil menyentil jarinya, memperagakan seberapa little-nya.
Bram yang sedari tadi sibuk dengan hapenya karena menonton hasil rekaman Tiara tadi, akhirnya menoleh. "Nael sama Abas kemana?"
Edgar langsung berhenti mengibaskan duit gocapnya, ia menunduk kelu. "Gue gatau gimana caranya buat Nael ga sakit hati..."
"Baru kali ini gue dipermainkan cewek! Sumpah, tuh fakgirl ajib bener." Lanjutnya sambil mengacak-acak rambut.
"Nggak kebayang lo kalau misal nikah sama playgirl." Bram manggut-manggut gajelas karena punya pemikiran aneh. "Playgirl nikah sama playboy, anaknya jadi apaa?"
"Playstore, BAHAHAHAHA ANJING." Tawa Edgar sendiri, nggak sadar itu sindiran buat dirinya.
"Lo bego, Nael kan hatinya lembut banget daripada keset rumah lo. Gue panggil, dia ngambek." Jayson memijit pelipisya. "Masalah sepele aja dia bisa ngambek selama tiga bulan. Ini masalah perasaan anjir. Gue ga respect sama Nayla."
"Gue salah?" Tanya Edgar sambil menunjukki dirinya sendiri.
"Iya, makanya dulu jangan baperin Nayla mulu. Kena karmanya kan lo." Bram menunjuk Edgar dengan garpunya. "Trus Abas?"
Jayson dan Edgar salin tatap lalu mengangkat bahu tak peduli. Keduanya malah mabar, padahal bel masuk sudah berbunyi.
Biasanya, Bram akan ikut bermain game. Secara dia anak gamer diantara teman-temannya, tapi pikirannya jadi kalut sekarang. Permainan malam dua hari yang lalu membuatnya takut. Dia merasa ada yang berubah, tapi semoga saja itu hanya dugannya saja. Buktinya di bis saat pulang kemah, semua terlihat seperti biasanya. Hanya berbeda di... mereka lebih banyak terdiam.
"Bram,"
Bram melebarkan matanya saat kerah bajunya ditarik dan tubuhnya didorong hingga menabrak loker yang entah milik siapa. Alisnya berkerut sedang ia menatap selidik perempuan dihadapannya. "Loh, Nayla?"
Wajah Nayla tampak pucat. Bahkan kantong matanya juga tampak, ditambah lagi matanya sembab. Gadis itu menghela napas lalu, "Lo tau? Karena permainan lo, gue sama Nael putus! Edgar jauhin gue! Terlebih lagi... sekarang anak Primadona pecah jadi dua kubu!"
Bram membalas dengan kekehan, "Salah siapa? Lo kan bisa bilang nggak kemaren."
"Kalau gue bilang nggak, gue kesetrum, minum alkohol, apa ada yang berubah? Gue jawab jujur karena permainan bala kemaren."
"Lo harus tanggung jawab!" Seru Nayla lagi membuat Bram bungkam. "Gada yang sama. Satu berubah, semua juga. Lo nggak sadar?"
"Y-ya gue ngerasain juga sih...," Beo Bram mulai terlihat merasa bersalah. "Bisa lo jelasin masalah lo sama anak Primadona?"
"Masalah gue sama anak Galantara, di Primadona gue nggak memihak. Lo tau kan Tiara suka sama Osman? Tapi pas Osman bilang dia suka sama Airin. Tiara sekarang bully Airin. Sasa dipihak cewek itu. Sedangkan Amel ikut mendukung Tiara karena merasa Airin itu tebar pesona. Gue golput."
"Gimana? Gimana?"
Nayla mengepal tangan kanannya, kesal. "Intinya, Airin Sasa. Tiara Amel. Sekarang musuhan parah."
"Gini dah, sebagai imbalan. Gue bantu lo deketin Amel. Tapi lo harus nolongin gue biar Nael dan Edgar ga marah lagi sama gue!" Jelas Nayla lagi dengan napas tersengal-sengal.
Bram terdiam lesu. Setelahnya ia mengerutkan dahi.
"Lo beneran suka kan sama Amel? Sadar ga Abas ngejauh dari lo? Dia lagi serius ngejar Amel." Celoteh Nayla lagi membuat Bram menahan lengannya meminta penjelasan. Nayla pun mengangguk mantab. "Gerak boy, keburu ditikung temen."
"Masalahnya, rasa bersangkutan dan hati gabisa dipermainkan." Kata Bram tak lama kemudian dengan bijaknya.
"Gimana caranya?" Tanyanya lagi.
Nayla jadi keki.
===
Disinilah Bram dan Nayla berada. Mendadak jadi teman sebangku. Guru-guru yang mengajar pun mendadak curiga. Pasalnya anak Galantara nggak ada yang bisa akur sama anak Primadona. Yah dia tahu nama geng-gengan itu dari salah satu anak murid kesayangannya. Lagian juga, kenapa teman sebangku Nayla mau duduk bareng teman sebangku Bram. Itu jadi pertanyaan dipikirannya.
"Biasa bu, teman sebangku mereka cinta monyet dari lama. Bram sama Nayla bantuin mereka pedekate." Kata salah satu murid saat guru bahasa inggriss, Bu Rani, bertanya dengan berbisik.
Bu rani menatap tajam lalu menyuruh murid itu kembali ke tempatnya. "Dasar darah muda." Helanya panjang.
"Jadi gimana setuju?" Tanya Nayla sambil menopang dagunya diatas meja dengan kepala menoleh kearah Bram.
"Terpaksa. Gue juga ngerasa bersalah." Bram berhenti menulis. Ia menatap Nayla intens. Kemudian pikirannya larut kembali saat di loker tadi.
"Gini deh. Pertama biar gampang gue tuker tempat jadi duduk disebelah lo. Lagian teman sebangku gue cinta diam sama teman sebangku lo. Biar ada kemajuan lah mereka, itung-itung kita bantuin. Dapet pahala." Jelas Nayla yang langsung ditoyor kepalanya oleh Bram.
"Kalo mereka pacaran jadinya zina, lo dapet karcis vvip ke neraka bodoh."
"Ish, au ah gelap."
"Terang ini cuman mendung aja mau ujan."
"SERIUS DIKIT BRAM!"
"Iya buat lo apasi yang nggak serius."
"Sorry yes, gue udah kebal." Nayla mengibas kedua tangannya dihadapan Bram. Keduanya pun mulai berjalan ke kelas.
"Yayaya, trus gimana?"
"Hmm, lo harus cari cara biar gue bisa ngomong secara jujur ke Nael sama Edgar. Selama itu juga gue bakal ngasih tau apapun tentang Amel biar lo bisa dapetin dia." Nayla menjentikkan jarinya dengan cerdas.
"Memang bener ya jiwa fakgirl lo dari ubun-ubun. Pantes ahlinya." Bram geleng-geleng kepala sambil memasang earphone ke telinga namun langsung ditarik oleh Nayla.
"Ayolah Bram. Tolongin gue. Iya gue ngaku gue brengsek." Nayla wanti-wanti sambil memeluk lengan Bram membuat cowok itu jadi kesal.
"Masalah anak Primadona gimana? Lo ga peduli soal mereka?" Tanya Bram. Pusing dengan pola pikir Nayla.
"Gue peduli lah. Coba nih, lo bayangin." Jeda, "buat bantu elo gue kan harus deketin Amel. Secara ga langsung gue dikubu dia sama Tiara. Nah biar Sasa sama Airin ga benci gue, gue harus bantu Airin biar ga dibully sama Tiara lagi. Jadinya gue tetep golput. Gimana?" Nayla mengerjapkan matanya membuat Bram mencebik kesal.
"Rumit banget otak cewek." Katanya.
Nayla terkekeh, "Gue anggap lo setuju. Jadi kita jalanin misi pertama. Selagi lo mikirin gimana caranya gue sama Nael dan Edgar bisa baikkan, gue bantu lo deketin Amel pulang sekolah."
"WOI, gue cantik ya? Emang sih pake banget. Pantes aja lo liatin terus. Udah jatuh hati sama gue? Belum apa-apa lo." Celoteh Nayla membuyarkan lamunan Bram.
Bram langsung menatap ke depan papan tulis. Matanya langsung mengedar, bingung karena kelas mendadak kosong. Cowok itu langsung menoleh kearah Nayla yang sudah duduk rapih disebelahnya sambil memakai cardigan hitam.
"Lo mau kemana?" Beo Bram membuat dahi Nayla berkerut.
"Bantuin elo lah boyot. Udah pulang sekolah ini." Tangannya langsung menarik dasi Bram dan mengajaknya keluar kelas.
BRUKK
"Aduh," rintih Nayla saat tubuhnya menabrak d**a bidang seseorang. Kemudian ia mendongak dan terkejut bukan main saat yang berada dihadapannya adalah Nael. Spontan ia langsung melepas tarikan tangannya dari dasi Bram.
"Dari gue, Edgar, sekarang Bram ya?" Ucap Nael dengan dingin. Awalnya ia berniat mengajak Nayla pulang bareng dan membahas masalah mereka. Tapi, semuanya terasa tak perlu saat melihat gadis itu.
Nael pikir, Nayla tampak sakit hati sekali setelah ia memutuskannya.
Bram langsung menyentak. "Eh, ngaco aja lo gue mau sama cabe kayak dia!"
"Nael, nggak kayak gitu!" Seru Nayla sambil berlari dan berhenti dihadapan Nael. "Lo liat Jay? Ternyata bener."
Nayla tersentak lalu melirik dengan sayup ke belakang. Disana Jayson dengan seragam lepek karena mandi keringat langsung tertawa. "Bener kan kata gue, coba lo samperin. Siapa tau ada something-something."
"Basket ga lo ntar?" Jayson langsung mengangkat dagunya kearah Bram. Tak lama ia berjalan mendekati dan memegang sebelah bahu Bram. "Noh kelakuan pacar, ralat, mantan pacar Nael. Lo jangan sampe jadi korbannya juga."
Bram membalas dengan senyum tipis. "Sans bro. Oh iya hari ini gue ga basket dulu. Lo duluan aja."
Jayson menganggukkan kepala lalu merangkul pundak Nael. Tak butuh waktu lama hingga keduanya hilang setelah membelok diujung koridor. Bram langsung memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tak kunjung mendengar suara Nayla, ia melirik.
Loh kok?
Nayla nangis?
===