bc

Kehidupan Kedua: Nyonya, Musuh Suamimu Menuntut Kencan!

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
contract marriage
HE
time-travel
mafia
billionairess
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
serious
rebirth/reborn
like
intro-logo
Blurb

Diandra Giselle telah mengorbankan segalanya demi sang suami—karier gemilang, waktu, bahkan dirinya sendiri. Ia mendukungnya hingga sukses, hanya untuk dikhianati dengan perselingkuhan keji. Racun di cangkirnya merenggut nyawa, namun takdir memberinya kesempatan kedua, kembali satu hari sebelum ajal menjemput.“Kali ini, aku tidak akan menjadi korban. Aku akan menceraikannya dan menghancurkannya dengan cara mengencani musuhnya!”Tetapi tanpa ia sadari, pilihannya justru membawa dirinya masuk kedalam putaran permainan yang lebih berbahaya. Tentang wajah ganda yang menipu dengan senyuman.

chap-preview
Free preview
Bab 1. Kematian Penuh Dendam Sang Nyonya
Tubuh Diandra Giselle terhempas di lantai marmer dingin ruang makan mewah yang setiap detailnya dulu ia bangun bersama Haris Renjana. Napasnya terengah, d**a naik-turun tak beraturan, sementara cairan merah pekat bercampur kopi beraroma pahit mengalir dari bibirnya. Pandangannya kabur, namun kedua matanya yang dipenuhi genangan air mata masih mampu memandang jelas dua sosok di hadapannya. Haris berdiri tegak, dengan wajah datar yang sama sekali tidak menyiratkan penyesalan. Di sampingnya, seorang perempuan berperut sedikit menonjol, Bianca, tersenyum sinis sembari menyandarkan tubuhnya manja pada lengan Haris. “Ka—kalian…,” suara Diandra parau, darah kembali mengalir dari sudut bibirnya, membuat lantai semakin ternoda. Tangannya yang lemah bergetar, berusaha meraih kursi terdekat, tetapi kekuatannya tak lagi cukup. Ia hanya mampu terbaring, tubuhnya perlahan terasa dingin menjalar ke seluruh nadi. Bianca mengangkat dagunya angkuh, jemari lentiknya mengelus perutnya dengan penuh kebanggaan. “Sayang sekali, ya. Wanita seanggun dirimu harus berakhir seperti ini. Kau terlalu naif, Diandra.” Haris menoleh sekilas ke arah istrinya yang sah, lalu mendengus. “Sudah cukup, Bi. Dia hanya buang-buang tenaga. Sebentar lagi semuanya selesai.” Mata Diandra terbelalak. Napasnya semakin pendek. Batin kecilnya menjerit tak percaya. Begini caranya ia harus mati? Setelah segala yang ia lakukan untuk lelaki yang kini menatapnya tanpa seulas belas kasihan? Diandra Giselle. Nama itu pernah bersinar terang di dunia bisnis, terutama di bidang pemasaran dan strategi keuangan. Sebelum mengenal Haris, ia adalah seorang eksekutif muda yang disegani banyak perusahaan besar. Wajahnya kerap muncul di majalah bisnis, dan banyak orang menganggapnya salah satu wanita paling berpengaruh di negaranya. Namun semua itu berubah ketika Haris Renjana melamarnya. Haris, pria tampan dengan karisma luar biasa, meyakinkan Diandra untuk meninggalkan kariernya. “Aku ingin istriku fokus padaku, pada rumah tangga kita. Aku bisa menafkahimu. Kau tidak perlu lagi bekerja keras, cukup di sisiku,” begitu katanya kala itu. Diandra yang sedang dilanda cinta, menuruti permintaan itu. Ia rela mengundurkan diri dari jabatan prestisiusnya demi membaktikan diri kepada suaminya. Meskipin kenyataannya, setelah Diandra resmi menjadi Nyonya Renjana, ia tetap diam-diam mengulurkan tangan bagi suaminya. Tanpa diketahui banyak orang. Saat Haris merintis perusahaannya, Renjana Corp, dari bawah, Diandra-lah yang menyusun strategi pemasaran, menjalin koneksi dengan investor, hingga menulis ulang proposal-proposal besar agar terlihat lebih meyakinkan. Semua ia dilakukan atas nama Haris. Semua demi kejayaan Haris. Tak seorang pun di luar sana mengetahui bahwa di balik gemilangnya Renjana Corp—perusahaan nomor satu di negeri ini—tersimpan tangan tersembunyi Diandra. Ia rela menjadi pekerja tanpa nama, tanpa gelar, bahkan tanpa ucapan terima kasih. Semua hanya demi cintanya pada sang suami. Namun kini, saat kejayaan itu sudah di tangan Haris, balasan yang ia terima hanyalah racun di dalam secangkir kopi pagi. “Kenapa, Haris?” suara Diandra bergetar, penuh luka. “Apa aku… tak cukup bagimu? Apa pengorbananku begitu tak berarti?” Haris menatapnya dengan pandangan penuh kejenuhan. “Kau terlalu banyak bertanya, Diandra. Kau memang pernah berguna. Tapi waktumu sudah habis. Aku butuh sesuatu yang baru. Bianca… dia memberiku keturunan yang kau tak pernah bisa berikan.” Kalimat itu menikam jantung Diandra lebih dalam daripada racun yang kini melumpuhkan tubuhnya. Ia terisak, darah bercampur air mata. Bianca terkekeh, suaranya merdu namun menyakitkan. “Kau pikir Haris akan terus bertahan dengan wanita mandul sepertimu? Lihat aku, Diandra. Dalam rahimku, tumbuh pewaris Renjana yang sejati. Kau hanyalah batu pijakan sementara. Dan sekarang… saatnya kau disingkirkan.” Tawa Bianca terdengar bagai cambuk bagi Diandra. “Dasar… wanita jal**g…” gumam Diandra, suaranya hampir tak terdengar. Bianca tersenyum lebih lebar, lalu menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Diandra. “Aku memang jal**g. Tapi jal**g yang akan mengambil segalanya darimu.” Haris hanya diam, menatap istrinya yang perlahan kehilangan kesadaran. Tak ada secuil rasa bersalah dalam sorot matanya. Justru ada ketenangan, seolah semua ini memang sudah direncanakan dengan matang. Diandra tersedak, tubuhnya bergetar hebat, darah kembali memuncrat dari bibirnya. Namun, dengan sisa tenaga terakhirnya, ia menatap tajam kedua manusia yang telah menghancurkannya. “Aku… bersumpah… kalian akan membayar semua ini. Darahku… deritaku… tidak akan pernah hilang… sampai aku menagihnya kembali…” Mata Diandra perlahan tertutup. Tubuhnya kaku, kemudian terkulai tanpa daya. Suara detak jam dinding menjadi satu-satunya saksi bisu kepergian seorang istri sah yang telah dikhianati. Gelap. Hening. Diandra merasa tubuhnya tenggelam ke dalam lautan dingin yang menusuk tulang. Kesadarannya samar, nyaris lenyap. Namun tiba-tiba, dari dalam kegelapan itu, ia merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti dirinya. Rasa dingin yang mematikan tadi perlahan mereda. Dengan terkejut, kelopak matanya terbuka. Cahaya menembus masuk. Ia mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk, dengan seprei putih bersih yang sangat dikenalnya. Jantungnya berdegup kencang. Ini… kamar pribadinya? Pintu kamar diketuk pelan. Lalu masuklah seorang wanita muda, Julia, asisten pribadi yang selalu setia menemaninya. Julia membawa segelas air putih di atas nampan perak. “Selamat pagi, Nyonya. Anda sudah bangun? Saya bawakan air putih seperti biasa,” ucap Julia sopan. Diandra tertegun. Tangannya refleks meraih selimut, matanya liar menatap sekeliling, memastikan ia benar-benar masih di tempat yang dikenalnya. Tubuhnya masih hidup, segar, tidak ada darah, tidak ada rasa sesak karena racun. Dengan suara gemetar, ia bertanya, “Ju… Julia… sekarang… tanggal berapa?” Julia menatapnya heran. “Tanggal sepuluh, Nyonya. Ada apa dengan Anda? Wajah Anda pucat sekali…” Tanggal sepuluh. Itu berarti—satu hari sebelum kematiannya! Darah Diandra berdesir deras. Matanya membelalak, seakan-akan dunia baru saja terbalik. Air mata jatuh membasahi pipinya, kali ini bukan hanya karena sedih, melainkan karena marah. Tuhan benar-benar memberinya kesempatan kedua. Ia bangkit dari ranjang dengan langkah gontai, lalu berdiri di depan cermin. Bayangan dirinya terpampang jelas, wajah anggun dengan rambut hitam panjang, mata bening yang kini berkilat dipenuhi bara dendam. “Haris… Bianca… kalian pikir aku akan mati sia-sia? Tidak. Kali ini, aku yang akan membalikkan permainan.” Tangan Diandra mengepal. Tubuhnya bergetar, tetapi bukan karena lemah, melainkan karena api kebencian yang membakar setiap urat nadinya. Ia menoleh cepat ke arah Julia. “Cepat hubungi Tuan Leonhard. Katakan bahwa aku ingin bertemu dengannya secara pribadi.” Julia terkejut. “Tu—Tuan Leonhard? Seingat saya, Anda tidak memiliki jadwal pertemuan dengannya, Nyonya. Lagi pula, beliau adalah musuh besar Tuan Haris, bukankah—” “Cepat, Julia!” potong Diandra dengan suara dingin, penuh tekad. “Aku akan menikahi musuh suamiku tersayang!” Julia terdiam membeku, air muka berubah bingung bercampur takut. Namun ia tidak berani membantah, karena sorot mata Diandra kini berbeda, bukan lagi seorang istri lembut yang penuh bakti, melainkan seorang wanita yang baru saja lahir kembali dengan dendam yang siap mengubah segalanya. Diandra Giselle baru saja kembali dari kematian. Dan kali ini, dialah yang akan menjadi algojo.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
316.1K
bc

Too Late for Regret

read
331.2K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
146.0K
bc

The Lost Pack

read
447.4K
bc

Revenge, served in a black dress

read
155.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook