Kinan menatap uang seratus ribu tiga ikat masih bersegel bank dan masing-masingnya terlabel 10 juta rupiah.
Uang ini pemberian ibu Dirga padanya kemarin. Hari ini, ia menemukan kontrakan murah yang bisa ia tempati setidaknya sampai dua tahun ke depan.
Tempat itu tak besar sama sekali. Bahkan bisa dikatakan cenderung kecil. Kamar tidur, dapur dan kamar mandi berada di satu ruangan yang sama. Walaupun kamar mandi masih dibatasi oleh pintu namun untuk dapur tidak. Sebelum menuju pintu masuk, hanya ada sedikit space yang tersisa untuk bersantai seorang diri.
Ia sudah selesai dengan kehidupan mewahnya saat masih sekolah dulu. Sebelum kejadian olimpiade sains itu terjadi, dia masih merasakan kehidupan yang super mewah yang diberikan orang tuanya.
10 tahun ia berjalan terombang-ambing tanpa identitas, karena kekuasaan orang tuanya mampu membuatnya mati di negaranya sendiri.
Tapi di balik beratnya semua yang ia rasakan, ia tak ingin 'pulang dengan tangannya sendiri'. Dan mungkin ini jawaban Tuhan dari semua doa yang ia lontarkan. Dia dipertemukan kembali dengan Dirga. Dan untuk pertama kalinya ia bisa merasakan tinggal di sebuah rumah.
Kinan tersenyum tipis. Ia mengambil delapan juta untuk membayar lunas kontrakan selama dua tahun ke depan.
"Terimakasih buk." Ucapnya pada pemilik kontrakan.
Setelah transaksi selesai. Kinan segera membersihkannya. Barang-barang peninggalan penyewa lama yang tak dibutuhkan, langsung ia buang. Setelah semuanya beres, Kinan bergegas menuju tempat jual perabotan. Ia ingin mengisi kamar dengan kasur lipat busa dan membeli sebuah meja lipat. Ia juga membeli lemari susun untuk ia gunakan sebagai lemari pakaiannya.
Setidaknya, ini saja sudah lebih dari cukup, sisanya akan ia beli nanti saja. Ia benar-benar berterima kasih pada ibunya Dirga. Jika bukan karena uang yang diberikan, ia tak akan pernah punya tempat tinggal seperti ini.
Seharian waktu yang ia pakai untuk membereskan semuanya. Dan kini, ia bisa bersantai.
Kinan memejamkan matanya. Ia lelah dan tanpa sadar ia tertidur.
___
Langit sudah gelap saat ia terbangun. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Dan sialnya, perutnya keroncongan.
Kinan menatap layar ponselnya dan betapa terkejutnya dia saat di ponselnya ada 14 panggilan tak terjawab. Enam diantaranya dari ibunya Dirga.
Dengan cepat ia menghubungi wanita itu. Ia tak ingin ibunya Dirga menganggap ia kabur setelah mendapatkan uang darinya.
"Selama malam Tante." Sapanya lebih dulu.
"Kinan, Tante pikir kamu kemana. Tante hubungi nggak diangkat. Kamu nggak apa-apa kan nak?" Terdengar suara cemas dari seberang sana.
Kinan merasakan perasaan hangat seketika. Perasaan yang sudah sangat lama tak ia rasakan.
"Kinan nggak apa-apa Tante. Seharian ini ada urusan."
"Syukurlah. Tante pikir kamu sakit."
Kinan terkekeh merespon. Ia teringat sesuatu, "Oh ya Tante, Kinan boleh minta nomornya Dirga?"
Mendengar Kinan menanyakan perihal Dirga, Ratna langsung bersemangat.
"Boleh dong sayang.. sebentar Tante kirimin ya. Oh ya, kamu jangan nyerah ya. Anak Tante satu itu memang gila kerja sekarang."
"Hahaha. Iya Tante. Aku sudah terbiasa dengan mood swing nya bos besar itu." Ucapnya sembari bercanda membuat Ratna tertawa.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu ya, nomornya Tante kirimin."
"Iya Tante. Selamat beristirahat."
Panggilan terputus. Setidaknya tak ada kesalahpahaman yang terjadi malam ini. Tak lama suara notifikasi berdenting di ponselnya dan itu adalah tante Ratna yang mengirimkan nomor Dirga padanya. Di bawah nomor tersebut tante Ratna mengirimkan pesan semangat padanya.
Kinan teringat kembali saat pertama kali ia bertemu dengan ibunya Dirga kemarin. Sebenarnya perjanjian yang mereka buat bukan untuk membuat Dirga jatuh cinta padanya, melainkan membuat dunia tahu jika Dirga bisa dekat dengan perempuan dan rumor gay yang ada pada Dirga bisa hilang.
Namun, untuk dirinya sendiri ia tak pernah berjanji untuk tak jatuh cinta. Karena faktanya, ia sudah memiliki perasaan itu sejak lama. Bahkan jauh sebelum mereka ikut olimpiade. Tapi ia sendiri tak yakin jika perasaannya akan berbalas, sampai kejadian pengusiran dari rumah itu dan ia putus sekolah yang membuatnya harus memendam segalanya.
Dan sekarang Ia hanya bisa menempatkan dirinya sebagai teman Dirga. Teman perempuan yang selama ini tak dimiliki oleh Dirga yang membuatnya dicap sebagai pecinta sesama jenis.
Kinan kembali menatap layar ponselnya. Ia berterima kasih pada tante Ratna. Setelah itu ia langsung mengirim pesan pada Dirga.
Hai Dirga. Ini aku Kinan. Kamu ada waktu luang? Temani aku makan. Aku tunggu di minimarket sebelah cafe Adiba. Jangan nggak datang ya.
Itulah bunyi pesannya. Ia memastikan jika pesan itu centang dua dan setelahnya ia bersiap.
Sementara itu di apartemennya, Dirga yang sedang asyik menonton terganggu oleh bunyi ponselnya. Ya segera melihat siapa yang mengirim pesan dan keningnya berkerut saat melihat pesan tersebut dari nomor tak ia kenal.
Dirga langsung buka pesannya dan lagi-lagi ya kehilangan mood-nya.
Ia menggeram kesal. Karena ia yakin Kinan pasti mendapatkan nomornya dari ibunya.
Dirga mengabaikan itu. Namun detik berikutnya pesan baru muncul lagi. Dirga mengintipnya dan masih dari Kinan. Ia tak melihat isi pesan tersebut. Malas jika harus berurusan dengan gadis itu lagi.
Waktu terus berlalu, dan jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rasa kantuk tak bisa lagi ia abaikan. Dirga mematikan TV dan berjalan menuju kamarnya. Sembari melangkah, ia melirik kembali layar ponselnya dan satu pesan dari Kinan satu setengah jam yang lalu masih belum ia buka.
Akhirnya ia memutuskan untuk membacanya saja.
Aku tunggu ya. Jangan sampai nggak datang. Aku nggak suka makan sendiri.
Ia menatap isi pesan itu cukup lama dan menatap jam di pojok atas layar ponselnya. Sebisa mungkin Dirga mengabaikan itu. Ia melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Ia segera mengambil posisi berbaring. Namun sialnya, otak pintarnya ini justru memikirkan isi pesan yang Kinan berikan.
Ia mencoba mencari posisi nyaman untuk tidur namun tak ia temukan.
"Aaiisshh sial!!" Umpatnya.
Dengan perasaan kesal, Dirga meraih kunci mobilnya dan keluar dari apartemen.
Ia tahu cafe itu dan posisinya tak jauh dari apartemennya. Dirga memacu laju mobilnya dengan cepat. Tak butuh waktu lama untuk Dirga bisa sampai di sana. Namun ia memilih berhenti di posisi jauh.
Dan benar saja, gadis sialan itu ada di depan minimarket. Dirga mengambil ponselnya dan mengetik pesan balasan
Malas.
Hanya itu yang pria itu kirim dan tatapannya langsung mengarah pada Kinan.
Senyum terbit dari bibir gadis itu namun hanya sebentar karena senyum itu lenyap kembali. Entah apa yang terjadi, Dirga seolah tertegun menatap senyum yang hanya sebentar itu.
Pesan balasan kembali masuk. Dirga dengan cepat membacanya
Pokoknya aku tunggu. Aku belum makan Dirga. Kita makan sama-sama ya.
*****