2. Masa Lalu

998 Words
Mereka makan dalam diam. Tanpa keduanya sadari, di luar restoran ada Tante Ratna dan Dion yang memantau. "Kamu benar Dion. Kenapa nggak dari dulu sih kamu bilang kalau ada cewek yang bisa melawan moodnya Dirga. Kalau gitu kan Tante nggak perlu repot-repot cari perempuan ke sana kemari untuk dijodohin sama Dirga." Ucap Tante Ratna. Dion nyengir kuda, "Sorry Tante. Dion lupa." "Ya udah nggak papa. Yang penting Dirga sekarang punya pawangnya. Haaahh, lega rasanya." Dion meringis, "tapi Tante, kalau nanti Dirga tahu kalau keberadaan Kinan di sini dibayar sama tante gimana.?" "Itu kamu tenang aja. Selagi kamu nggak ngomong, dia nggak bakalan tahu." Dion hanya mengangguk. Mereka kembali fokus menatap Dirga dan Kinan yang sedang menyantap hidangan yang disediakan. Walaupun aura wajah Dirga tak bersahabat, tapi Dion tahu bagaimana Dirga dan dan Kinan. Hanya karena Kinan tanpa sengaja menghilangkan file berharga milik Dirga saat mereka sedang melakukan olimpiade sains, keduanya jadi tak akur sama sekali sampai sekarang. Pasalnya, mereka kalah telak dalam olimpiade sains tersebut. Dan olimpiade itu adalah impian Dirga saat itu. Sementara itu di dalam sana, suasana dingin masih menyelimuti. Dirga bahkan tak berniat sama sekali mengajak Kinan berbicara. Sementara gadis itu sudah beberapa kali melirik Dirga. "Sibuk apa kamu sekarang?" Tanya Kinan mencoba memecah keheningan. Namun tak ada respon sedikitpun dari Dirga. Kinan menghela nafas panjang. "Soal olimpiade itu aku benar-benar minta maaf. Aku nggak sengaja Dirga." "Bisa diam nggak?" "Nggak bisa. Aku tahu saat itu aku salah, aku ceroboh, gara-gara aku kita kalah, tapi aku benar-benar nggak sengaja. Aku," "AKU BILANG DIAM YA DIAM.!!! Kamu tuli?" "Dirga," Kinan tak bisa melanjutkan ucapnya lagi. "Aku juga kehilangan mimpiku saat itu Dirga. Kamu masih bisa melanjutkan hidupmu dengan baik. Sementara aku," - ucapnya dalam hati. Kinan tertunduk. Ia ingin menangis tapi air matanya seolah sudah habis menangisi nasibnya yang buruk. Ia kesulitan bekerja selama ini. Negara menganggapnya sudah mati, semua itu karena orang tuanya. Karena mereka kecewa dirinya kalah olimpiade sains itu. Ia harus berjuang seorang diri tanpa identitas. Kinan menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Ia mengangkat wajahnya kembali dan detik itu juga ia kembali tersenyum. "Jangan marah terus." Ucapnya. Kinan mengambil satu potong ayam lada hitam saos tiram, "Wah, ini enak lho." Ia menikmati enaknya gigitan tiap gigitan yang masuk ke mulutnya. "Kamu mau? Nggak mau ya? Buat aku aja ya." Kinan mengangkat piring tersebut dan memindahkannya ke hadapannya. Ia benar-benar menjatuhkan harga dirinya di depan Dirga. Dan ia tahu saat ini Dirga menatapnya dengan tatapan jijik. Makan malam sudah selesai. "Haaah kenyangnya." Dirga mendengus. "Dasar Babi." Ucapnya yang tentu saja terdengar oleh Kinan. Kinan sempat terdiam namun detik berikutnya ia kembali seperti biasa. Dirga berdiri dari duduknya. "Kamu bisa pulang sendiri kan? Karena aku nggak bakalan nganter." Tanpa menunggu jawaban dari Kinan, Dirga melenggang pergi begitu saja. Saat lonceng pintu terdengar, ia tahu Dirga sudah keluar dari restoran. Kinan tersenyum. Ia melirik ke luar dan mobil Dirga sudah pergi. "Kinan berdiri dan ikut keluar dari restoran. Ia melirik jam di ponselnya. Sudah pukul sembilan. Lagi-lagi ia hanya bisa menghela nafas panjang. Hari ini ia akan kembali ke taman dulu, besok ia akan mencari kontrakan untuk ia tempati. Kinan berjalan kaki setengah jam menuju taman tempat biasa ia istirahat. Di taman itulah ia menghabiskan malam. Disebuah wahana rumah-rumahan yang terbuat dari beton. Walaupun tak nyaman di sana, setidaknya ia bisa beristirahat. Gila bukan? Kehidupan sial yang ia alami sejak kekalahannya dalam olimpiade sains tersebut. Tak ada satupun yang tahu, ia berjalan di negara yang sudah menganggapnya mati. Dirga baru saja sampai di rumah orang tuanya. Dan yang pertama Ya cari adalah ibunya sendiri yang sudah merencanakan kencan butanya dengan Kinan. "Ibu mana mbak?" Tanyanya saat dia memasuki rumah dan bertemu dengan asisten rumah tangga di rumah orang tuanya itu. "Ada den, di dalam." "Ya udah saya ke dalam dulu." Dirga masuk ke dalam dan mendapati ibunya sedang bersantai di ruang keluarga. "Eh anak ibu datang. Gimana kencannya?" Dirga memejamkan matanya menahan kesal. "Ibu tahu Kinan dari mana?" "Ha? Maksud kamu?" "Ibu jangan bercanda sama Dirga Bu. Ibu tahu Kinan dari siapa? Dari Dion kan?" Ratna menatap anak semata wayangnya itu. Ia melangkah mendekat dan menarik Dirga untuk duduk di sofa. "Iya. Tapi kamu jangan marah sama Dion." "Bu, ini bukan masalah marah atau nggak marah. Percuma ibu atur kencan buta Dirga sama dia, nggak bakalan mempan." Ratna menghela nafas tenang. Ia meraih jemari Dirga dan menggenggamnya, "Nak, ibu ngelakuin ini bukan untuk mempermainkan kamu. Sudah banyak perempuan yang ibu kenalkan sama kamu tapi nggak pernah sanggup menghadapi sikap kamu yang selalu curigaan sama mereka." "Tapi sikap curiga Dirga benar kan bu? Mereka semua deketin Dirga cuma untuk morotin uangnya Dirga doang." "Ya terus kamu pikir kamu kerja buat apa? Ya buat calon kamu lah." "Dirga nggak bisa sembarangan buat naruh hati ke orang. Kamu tahu Dirga orangnya nggak pelit kan. Tapi kalau jatuhnya Dirga dimanfaatkan seperti ini siapapun juga bakalan marah Bu. "Makanya ibu bawa Kinan kembali ke kehidupan kamu." "Ha, maksud ibu?" "Dion cerita sama ibu kalau dulu ada seorang gadis yang bisa counter kamu. Dia bisa menghadapi kekonyolan kamu. Marahnya kamu, hebohnya kamu dan egoisnya kamu. Ya dengar cerita Dion, ibu nggak tinggal diam lah." Ucap Ratna santai Dirga mengeram kesal. Ia Akan memberi perhitungan pada Dion setelah ini. "Lagian, menurut ibu anaknya manis kok." "Ck, jangan mulai Bu." "Ibu nggak mulai kok. Anaknya memang manis." Dirga menghela nafas panjang. "Ibu tahu, dia yang bikin Dirga gagal olimpiade sains. Dia ngilangin file penting itu." "Nak. Saat itu, bukan kamu saja yang kecewa. Dia juga pasti kecewa. Ibu sudah dengar dari Dion kalau olimpiade saat itu, dia juga ikut. Dan dia menghilangkan barang penting yang sudah kamu susun satu Minggu penuh sebelum berangkat olimpiade. Tapi apa kamu pernah tanya gimana dia? Jangan melihat kecewa kamu saja." "Nggak bisa Bu. Nggak cuma Dirga aja, ada dua siswa lainnya yang ikut tereliminasi gara-gara dia. Padahal kami punya mimpi besar setelah olimpiade ini." Dirga tetap bersikeras. Baginya, Kinan adalah mimpi buruk yang muncul dalam hidupnya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD