1. Kencan Buta

1000 Words
Namanya Dirgantara Elang Samudra. Seorang CEO berusia 29 tahun yang namanya cukup dipertimbangkan di dunia perbisnisan. Siapa yang tidak tahu dengan Samudera Company. Bahkan di seluruh penjuru negeri perusahaan milik Dirga tersebut selalu menjadi perbincangan. Namun dibalik gemerlapnya seorang Dirga, pria itu tak pernah berhasil dalam percintaannya. Selalu saja ada masalah setiap ia ingin memulai hubungan dengan seorang gadis. Bahkan berita mulai beredar jika Dirga seorang gay. __ "Kau ingin ikut kencan buta yang direncanakan ibumu?" Dion duduk di sofa ruang kerja Dirga. Dirga yang sejak tadi sibuk dengan dokumen di depannya, langsung mengalihkan pandangannya pada Dion. "Kau tahu aku tak tertarik lagi dengan itu semua." "Tapi kau belum mencoba kali ini. Siapa tahu pilihan ibumu ini cocok denganmu." Dirga mendengus. "Sudah berapa kali ibuku mencarikan perempuan padaku. Mulai dari yang biasa sampai yang kaya raya tujuh turunan, tapi ujung-ujungnya mereka hanya memanfaatkanku." Dion diam kali ini. Apa yang Dirga ucapkan itu benar. Semua perempuan yang mendekati Dirga, hanya ingin harta pria tersebut. Tak ada yang benar-benar tulus ingin menjalin hubungan dengan Dirga. "Oke. Kali ini coba dulu. Anggap ini yang terakhir. Jika hasilnya tetap sama, kau bebas memilih sendiri ingin menikah atau tidak. Biar aku yang bicara pada Tante Ratna jika yang kali ini juga gagal." Dirga menaikkan sebelah alisnya. Ia menutup dokumen yang tadi terbuka lalu bersandar di kursi kebesarannya, "Kenapa kau begitu semangat ikut rencana ibuku?" Tanyanya curiga. "Ha? Itu karena, karena, ya karena aku peduli padamu. Kau tahu kan? Kita sudah bersahabat sejak lama. Bahkan saat kita ceboknya masih di cebokin. Jadi, ini sebagai ungkapan sayangku padamu, aku harus membantumu." Jawab Dion sekenanya bahkan Dirga tak percaya sama sekali. Tapi tak apa. Kali ini ia benar-benar ingin melihat, apa yang sedang direncanakan oleh ibunya dan sahabatnya tersebut. _ Malam sudah menyapa. Dirga juga sudah rapi dengan pakaian casual yang ia kenakan. Walaupun terkesan santai, namun tak mengurangi ketampanan Dirga sama sekali. Ia sudah tiba di restoran yang disebutkan ibunya. Di dalam, Ia hanya menemukan satu meja yang berisi selebihnya kosong dan ia tahu ini semua karena ulah ibunya yang membooking satu restoran. Dengan santai ia melangkah menuju perempuan yang sedang membelakanginya. "Maaf saya telat. Tadi saya," Dirga terdiam tiba-tiba saat gadis itu berbalik badan. "Kinan?? Kamu, kamu ngapain di sini?" Melihat keberadaan Kinan ada di restoran itu, membuat mood-nya tiba-tiba hilang. Ia bahkan tak semangat lagi untuk mengikuti kencan buta yang direncanakan ibunya. Namun Dirga tetap penasaran dengan perempuan yang dijodohkan ibunya padanya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut resto namun ia tak menemukan siapapun ada di kursi pelanggan. Saat ia menyusuri setiap sudut, perasaannya tiba-tiba tak nyaman. Ia spontan menatap cepat pada Kinan "Jangan bilang kamu perempuan yang diminta ibuku untuk ketemuan?" Tebak Dirga. Kinan menatap Dirga dengan tatapan tak percaya. "Kamu anaknya tante Ratna?" "Kamu kenal ibuku?" Kali ini Dirga tak bisa mentoleransi apa yang dilakukan oleh ibunya. Dari mana ibunya bisa tiba-tiba mengenal Kinan. Dirga menghela napas kesal. Tanpa banyak bicara lagi, Ia memutuskan untuk pergi dari restoran tersebut. Melihat Dirga yang tiba-tiba cabut, Kinan seketika panik. Ia langsung mengejar Dirga dan menghentikan pria tersebut keluar dari restoran. "Dirga, Dirga, tunggu dulu bentar. Main cabut aja." Dirga menatap tajam lengannya yang digenggam oleh Kinan. Menyadari itu, Kinan pun langsung melepaskan genggamannya. "Sorry." ucapnya. "Tunggu bentar dulu. Kita belum makan." "Apa?" Dirga menghadap Kinan sembari berkacak pinggang. "Kamu tadi ngajak apa? makan? nggak salah denger?" "Enggak. Aku beneran ngajak kamu makan. Aku lapar Dirga. Dari tadi nungguin kamu di situ, dan sialnya aku nggak pesan apa-apa." "Itu derita kamu. Sekarang kalau kamu mau makan, silahkan." Dirga kembali melangkah. Namun lagi-lagi Kinan menahannya. "Apalagi sih?" Dirga nyaris berteriak saking kesalnya. "Aku nggak suka makan sendiri." "Hah? Akal-akalan. Dibayar berapa kamu sama ibuku? Biar aku balikin uangnya." "Dibayar apaan sih. Aku bahkan nggak tahu kalau Tante Ratna itu ibunya kamu. Kalau aku tahu juga nggak bakalan mau Dirga." "Ya udah, sekarang udah jelas kan. Kamu bilang sama ibuku, kamu menolak kencannya. Selesai!" Kinan menatap Dirga dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Entah kenapa sekarang Dirga jauh lebih keras kepala dibandingkan Dirga yang dulu. "Kita makan dulu ya." Kinan benar-benar tak patah semangat. Dirga mendekatkan wajahnya pada Kinan, "Ogah. Kamu makan aja sendiri." Dirga lalu melirik ke arah beberapa pelayan yang menatap mereka. "Mbak, siapin semua makanan menu restoran ini dan taruh di meja itu! dia laper katanya." Kinan mengepalkan tangannya kuat. Jika bukan karena uang yang ibunya Dirga berikan padanya, ia akan memilih menjauh dari pria dihadapannya ini. Namun perjanjian itu sudah dibuat. Dan ia memilih menerima tawaran Dion dan ibunya Dirga juga karena satu hal. Ia merindukan Dirga. Bohong jika ia tak tahu kalau Tante Ratna itu ibunya Dirga. Ia pernah bertemu saat ada pertemuan orang tua di sekolah dulu. Ya, dia dan Dirga satu SMA dan mereka musuh bebuyutan. __ Kinan berlari mengejar Dirga yang hampir masuk ke mobilnya. Ia berhasil menahan pria tersebut. "Masuk dulu!" "Apaan sih!" "Masuk nggak. Kamu pikir berapa uang ibu kamu habis buat nyewa satu restoran itu." "Dan aku bilang aku bisa ganti uang itu." Kinan benar-benar dibuat kesal. Ia sangat ingin menghajar pria yang ada di hadapannya saat ini. "Kita makan dulu Dirga. Aku udah bilang sama kamu aku lapar. Aku nggak mau makan sendirian." "Akal-akalan." Kali ini kesabaran Kinan benar-benar sudah habis. "Kamu kok keras kepala banget sih. Aku tahu kamu sibuk, aku tahu kamu bos besar dan aku tahu kamu kaya raya Dirga. Tapi tolong hargai orang. Kamu nggak mikirin apa semua pekerja yang ada di dalam itu, mereka udah capek-capek nyiapin makanan. Setidaknya kamu makan dulu di dalam Kamu hargai mereka yang sudah buatkan kamu makanan. Setelah itu kamu mau pergi silakan." Kali ini Dirga melunak, namun pria itu masih belum mau bergerak. Kinan menghela nafas panjang. Dengan berani Kinan kembali menggenggam jemari Dirga dan menarik pria itu untuk masuk ke dalam. Awalnya Dirga memberontak dengan melepaskan genggaman Kinan, namun gadis itu kembali meraih tangannya dan digenggam lebih kuat. Menghadapi satu Dirga, sama seperti menghadapi sepulu bocah tantrum ditempat umum. Kinan benar-benar dibuat gila. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD