Rahel hanya diam, matanya seakan terus mencari celah kebohongan dari ucapan Darel, namun ia tidak menemukannya.
“Eh acaranya sudah selesai?” Tanya Rahel
Darel mengangguk “Kuharap kau merasa terhibur, dengan semua ini”
Rahel tersenyum “Terima kasih” ujarnya seraya berdiri dari duduknya
“Kau akan pulang?”
Rahel mengangguk “Ya”
Darel segera berdiri dari duduknya “Biar kuantar”
“Gak usah, gue mau sama temen-temen yang lain” ujarnya sambil mencari-cari orang yang ternyata hanya mereka berdua yang tersisa, tanpa Rahel sadari.
Darel menarik tangan Rahel “Udah, biar aku yang anterin”
Rahel pun mengikuti langkah kaki Darel di belakangnya. Darel berhenti tepat di depan mobil Lamborghini kuning dan segera membukakan pintu mobil untuk Rahel.
“Untukmu sang mentariku”
Rahel tersenyum “Apaan sih”
Darel pun bergegas memasuki mobil dan mulai mengendarainya dengan kecepatan yang standar.
“Ke rumah sakit?” Tanya Darel
Rahel mengangguk “Kenapa kau bersikeras terus mengejar gue? Padahalkan loe sendiri banyak banget yang menyukai loe, apalagi loe udah terkenal. Tapi kenapa loe pengen gue?”
Darel membuang nafas pelan massih dengan tatapannya yang mengunci mata Rahel “Karena dari awal kau sudah membuat Darel nyaman dan sangat merindu pada Rahel. Rahel yang dulu selalu menemani Darel”
Rahel mengalihkan pandangannya “Mengapa loe mau sama cewek yang sudah bernotabe hancur?”
“Pendirianku tetap pendirianku, takkan ada satu orangpun yang mengubahnya”
Sesampainya di depan halaman rumah sakit, Darel segera membukakan pintu untuk Rahel dengan senyuman yang sejak tadi masih terpancar.
“Darel, mau langsung cabut?”
“Engga, aku mau temenin kamu dulu sampe ruangan. Ayo!” sahut Darel yang langsung menarik lengan Rahel
Rahel menatapi Darel dari belakang Mengapa aku nyaman bersamanya, Bu?
Mereka kini telah memasuki ruangan yang ditinggali ibu Rahel, Rahel segera duduk di kursi dekat ibunya berbaring. Ia langsung menciumi punggung tangan ibunya yang pucat.
“Bu, ini Darel temanmasa kecilku. Apa ibu mengingatnya? Pasti ibu ingat, karena Darel kan tak pernah ingin jauh dariku, hihi bahkan sampai sekarangpun tetap begitu’’
Darel tersenyum “Ibu pasti masih mengingatnya, tentu saja anak tampan yang selalu merengek ingin bertemu dengan Rahel”
“Loe jangan kepedean deh”
Darel tersenyum menatapi Rahel begitupun dengan Rahel. Kring-Kring suara telepon seluler milik Darel berbunyi cukup nyaring.
Darel segera mengeceknya “Manto” ujarnya sambil langsung mengangkat telepon dari orang tersebut
“Halo tuan? Ini kado-kado sudah ada diluar rumah sakit. Saya harus mengantarkannya kemana?”
“Tanya saja pada suster”
“Oiya, baik-baik tuan”
Tut-tut sambungan telepon terputus “Mereka sedang membawakan kado-kado milikmu”
Rahel tersenyum “Terima kasih. Pertama kalinya gue mendapatkan hadiah sebanyak itu”
Darel mengangguk “Apapun untukmu Rahel”
Tak lama kado-kado yang jumlahnya mencapai 30 biji itu datang ke dalam ruangan temat ibu Rahel dirawat. Senyuman dai bibir Rahel kian mengembang, begitupun dengan Darel yang jauh lebih senang melihat mentarinya bahagia.
Keempat orang suruhan Darel itu akhirnya pergi setelah semua kado tersusun rapi di sudut sana.
“Darel loe mau nginep disini?”
Darel nampak berfikir “Entahlah, memangnya boleh?’
“Hm, boleh-boleh aja sih. Pas juga ada sofa dua disini. Emang loe mau tidur di sofa?”
Darel mengangguk sambil tersenyum “Kadang cinta bisa membuat siapapun gila bukan?”
Rahel tertawa “Bisa aja”
Waktu menunjukkan pukul 3 subuh, sepertinya badan Rahel sangat kelelahan sehingga sudah terlelap di sofa.
Darel menyelimuti Rahel penuh kasih sayang. Menatapnya dalam penuh cinta, lalu menatapi ibunya Rahel. “Selamat tidur kedua wanita tangguh ku”
Darel pun menyiapkan dirinya tidur di sofa sebelah Rahel, hari ini ia beruntung hari ini dirinya benar-benar bahagia, tak diduga perlakuan Darel kali ini diterima dengan senang hati oleh Rahel.
Pagi berikutnya Darel terbangun dengan mata yang sedikit terbuka, ia melihat seseorang yang dicintainya memberikan segelas s**u hangat. Ternyata yang dialaminya malam tadi bukan mimpi, begitulah fikir Darel.
Darel terbangun dari tidurnya ia memberikan senyuman hangat pada Rahel, begitupun dengan Rahel.
Darel membawa gelas itu namun menaruhnya diatas meja, Darel meraih tubuh Rahel dan memeluknya dalam-dalam.
Rahel tersentak, entah mengapa tangannya yang lembut itu tidak berani menolak pelukan dari Darel, ia hanya diam dan masih diam dengan mata yang melotot.
Darel menenggelamkan wajahnya dibahu Rahel “Terima kasih telah memberiku satu tujuan hidup”
Rahel masih terdiam ia bingung harus menjawab apa, Darel lalu melepaskan pelukannya.
Ia menatapi Rahel dalam-dalam “Ku pikir kau akan menjadi sebuah patamorgana untukku”
“Minum susunya, jangan banyak berkhayal” desis Rahel lalu pergi dengan senyuman malu-malu
Darel menggelengkan kepalanya “Dia masih sangat manis, seperti dulu”
Darel meminum susunya sampai habis “Dia masih tahu kebiasaan ku setelah bangun tidur”
Tak berselang lama Rahel datang dari luar, ia duduk di kursi samping ibunya. Darel mendekati Rahel.
“Rahel kurasa ibumu harus dirawat di Singapur, agar mendapat perawatan yang lebih serius”
Rahel menggeleng “Dari mana gue dapat uang? Gue juga mau banget ibu dirawat disana, karena dokter disini pun menyarankan seperti itu”
Darel membuang nafasnya “Kan disini ada aku, lagian kami memegang salah satu rumah sakit besar disana, jadi kau tak perlu memikirkan soal biaya”
“Darel jangan, gue gak ingin melibatkan siapapun untuk ibu. Ibu itu tanggung jawab gue” lirihnya menunduk
Darel memegangi bahu Rahel “Jangan egois Rahel, aku juga sudah menganggap ibumu seperti ibuku sendiri. Bukankah beliau dulu berkata kalau dia serasa memiliki dua anak?
Rahel mengangkat kepalanya “Loe yakin mau bantu gue?”
“Tentu saja, apapun yang bisa membuat Rahelku bahagia”
Rahel tersenyum “Terima kasih, dan maaf atas perlakuan gue selama ini” tunduk Rahel penuh penyesalan
“Jangan menunduk di depan ku Rahel. Aku tak menyukainya” Darel memegangi kepala Rahel dan menatapinya dalam
“Aku akan terus di sampingmu, dan terus mencintaimu. Meski terlalu banyak penolakan dari dunia. Ingat itu!” ujarnya langsung memeluk Rahel lagi
Tak terasa air mata Rahel turun membuat Rahel sesenggukkan.
Darel menatapinya lagi “Jangan menangis Rahel, aku tak suka”
kring-kring ponsel Darel berdering, ia langsung mengangkatnya.
“Halo?”
“Tuan, hari ini ada meeting dengan klien”
“Tunda saja”
“Oh, eumh kenapa mendadak sekali tuan? Bagaimana kalau mereka membatalkan kerja samanya?”
“Saya bilang tunda!”
“Oh baik tuan, saya akan sampaikan kepada klien”
Darel mematikan sambungan teleponnya, Rahel mengangkatkan satu alisnya. “Kenapa di tunda?”
“Hari ini aku akan mengurusi berkas-berkas untuk perawatan ibu ke Singapur”
“Tapi bagaimana dengan kerjaan?”
Darel hanya tersenyum “Sudah ku katakan kau terpenting”
“Jangan belakangkan pekerjaan loe” sahut Rahel
Darel melihat jam tangannya “Baik aku urusi sekarang juga keberangkatan ibu, agar besok ibu bisa langsung ditangani di sana”
“Oke terima kasih lagi Darel”
Darel tersenyum lalu pergi keluar ruangan meninggalkan Rahel dan ibunya. Darel berjalan cukup tergesa-gesa ia sangat cekatan mengurusi berkas-berkas yang ditangani nya langsung. Hingga tak berselang lama dirinya mampu menyelesaikan semuanya.
Darel berjalan kembali menuju ruangan ibu Rahel. Ia membuka pintu dan terlihat Rahel yang sedang membereskan jas miliknya, hingga senyuman Darel terukir diwajahnya.
“Rahel kamu gak perlu beresin itu, kamu diem”
Rahel tersentak kaget “Eh ini ko sekalian aja gue beresin semuanya”
Darel mendekatinya “Udah gausah, lagian semuanya sudah beres. Aku akan pergi untuk mengurusi pemberangkatan besok. Jadi, aku akan pergi”
“Maaf merepotkanmu” ujar Rahel
Darel hanya tersenyum, lalu bergegas pergi. Rahel hanya menatapi kepergian Darel dengan tatapan datar. Rahel diam-diam tersenyum saat menatapi kepergian Darel. Mungkin hatinya hamper terbuka untuk Darel.
Seperti biasa Rahel menemani ibunya sampai tengah hari, selanjutnya Rahel bergegas menuju basecamp Angel Ride. Disana Rahel membicarakan seputar agenda kegiatan untuknya dan gengnya.
Tapi untuk hari ini Rahel terlihat lebih bersemangat dan tidak murung seperti hari-hari biasa.
”Eh lu semua sadar gak sih si bos hari ini beda banget?” ujar salah satu anggota yang berawak mungil itu
Marsha pacar Jee tersenyum “Ya siapa coba yang engga bahagia dikejar-kejar cowok tampan, tajir dengan notabenya calon CEO ErikLusi, gila kan? Kalo gue mah rela ninggalin apa aja demi itu cowok kalau gue yang posisinya jadi Rahel”
“Bener banget, siapa coba yang engga kenal ErikLusi. Pengusaha sukses satu-satunya dikota ini” tambah seseorang di samping Marsha
Rahel berjalan menemui mereka, mereka sontak langsung terdiam. “Eh kalian uruskan soal balapan gue minggu depan ya! Dan juga gue udah tunjuk Jesi nemenin gue dibalapan nanti”
Mereka semua menagngguk paham, kecuali Marsha. “Lhaa? Kenapa Jesi yang ditunjuk sih ko bukan gue?”
“Loe akan masuk balapan minggu depannya lagi”
Marsha membuang nafasnya berat “Fyuh”
“Ya sudah gue cabut ya, banyak kepentingan. Urus anak-anak didik kita untuk beberapa hari” tambahnya lagi sambil mengenakan jaket
Mereka menganga “Emangnya bos mau kemana?”
“Singapur, untuk merawat ibu untuk beberapa hari” jawabnya lalu pergi keluar dari Basecamp
Mereka saling bertatapan “Gue curiga Darel yang tanggung semuanya, yekan?”
“Sudah pasti” jawab Marsha
“Gue curiga kepentingan geng akan dinomor duakan”