19

1704 Words
Plung, tubuh Karel terjebur semuanya alhasil hal itu membuat Darel kembali tersenyum dari atas sana. “Dasar bocah” desisnya Mereka berempat tertawa keras dan saling merangkul satu sama lain. “Semoga Karel bisa menggantikan ku suatu saat” “Karel orangnya asyik ya” celetus Jee Niko membuang nafasnya “Semua orang memiliki kelebian dan kekurangan. Tugas seorang sahabat adalah harus bisa menerima keduanya” jelasnya Jee baru sadar bahwa Darel ternyata melihat mereka di balkon “Eh Darel, cepatlah kesini” teriaknya “Cepatlah Darel” tambah Martin Dari atas sana Darel hanya tersenyum, ya tidak ada yang tahu pertanda apa itu. Tapi sepertinya Darel menolak mereka dengan senyuman. “Abang tidak berenang di sore hari” desis Karel Niko tersenyum “Kau sangat tahu abangmu” ujarnya bangga Karel mengambil nafasnya dalam-dalam “Kau fikir apa? Di rumah aku selalu mendengar celotehan mom dan dad yang selalu saja membicarakan tentang abang Darel, Darel seperti ini Darel seperti itu, dan aku selalu dipaksa untuk sama dengannya. Padahalkan setiap orang memiliki karakter yang berbeda satu sama lain” Martin mengerutkan keningnya “Apa kau tidak merasa iri?” Karel tersenyum “Come on bro, kasih sayang orangtua terhadap anak-anaknya itu sama. Cuma mereka itu punya berbagai cara untuk menyampaikan kasih sayangnya, dan cara-cara itu selalu berbeda untuk setiap anaknya. Aku bangga menjadi diriku sendiri, dan aku juga bangga terhadap abangku yang selalu menjadi panutan. So, jadi disini masalahnya apa? Menurutku kita bisa membanggakan mereka dengan cara apapun, biarkan waktu dan tempat nanti yang mengungkapnya” panjang lebar Karel Jee menganga menatapnya “Akhirnya kutemukan wajah Darel yang bisa berbicara sangat panjang lebar” “Bagus, pemikiranmu sangat kusuka Karel” tambah Niko Martin nampak berfikir “Menurutku kau juga cerdas namun kau belum menyadarinya dan sebenarnya kecerdasan itu butuh sedikit perjuangan” “Ah aku berbeda jauh dengan abang, abang ku jauh lebih cerdas” ujarnya bangga Martin menghela nafas “Iya dia memang sangat cerdas. Tapi kau juga mampu untuk cerdas” “Sebenarnya siapapun mampu untuk cerdas” tambah Niko Jee dari tadi terdiam dan hanya menoleh kesana kemari “Sudahlah bahas yang lain saja, kalian seperti menyinggungku” “Dasar bulu hidung korea, begitu saja tersinggung. Alay kau” ejek Martin Karel hanya tersenyum melihat tingkah teman barunya itu, teman kakaknya maksudnya. Darel turun menemui mereka membawakan beberapa handuk. Darel memberikan handuk itu pada mereka dan kembali ke kursi cukup jauh dari kolam renang. Martin menolehnya kaget “Eh tumben Darel baik gini ya?” “Kurasa dia ada maunya” desis Jee dengan senyuman bodoh terpancar diwajahnya Karel nampak penasaran “Memangnya apa yang sering diinginkan abangku?” “Bertemu dengan Rahel lah apalagi?” jawab Jee Karel tersenyum ceria “Oh pantas saja Haha. Memangnya bagaimana Rahel?” “Dia itu badgirl, anggota geng juga. Maksudku ketua” tambah Martin Otomatis Karel tersentak “What’s wrong?” “Memangnya kau tidak tahu?” Tanya Jee Karel hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya. “Kau heran? Kadangkan pasangan itu harus saling melengkapi. Benarkan?” tambah Niko Darel terbangun, ia mengingat satu hal yang setiap hari difikirkannya. Apakah kali ini dirinya bisa? Kadang ia merasa tak percaya diri atas apa yang dilakukannya. Namun, meski terlihat bodoh dimata orang sekalipun ia tetap ingin melakukannya untuk Rahel. Darel mencari sesuatu hal yang menjadi tujuannya dari kemarin lusa, mengecek sebuah pesanan untuk perlengkapan party Rahel. Segalanya telah disiapkan untuknya mulai dari dekor party di gedung aset Darel, hadiah untuk Rahel dan hal lainnya. Rencananya Darel akan menjebak Rahel agar bisa masuk ke dalam gedung sendirian, Darel juga akan melibatkan teman-temannya dan teman Rahel yang sebelumnya sudah mengetahui rencana Darel. Dengan senyuman yang terpancar di wajahnya kini Darel bergegas untuk persiapan yang lebih matang. Ketika Darel keluar dari kamarnya, Karel menghalangi jalannya. “Eh abang mu kemana hayo?” Darel tak menggubris ia melangkahkan kakinya kearah lain, tapi adiknya yang super duper jail itu menghalanginya lagi. “Karel kau ini apa-apaan?” “Makanya jawab pertanyaan ku dulu” gerutunya sebal “Diamlah di rumah jangan mencampuri urusanku” ujarnya lagi sambil pergi meninggalkan Karel “Kau pasti akan menemui Rahel kan?” teriaknya membuat langkah kaki Darel terhenti Darel membuang nafasnya “Diamlah disini” “Bang aku bosan disini jika yang kulakukan hanya terus membaca buku. Biarkan aku ikut ya? Kumohon” “Baiklah cepat siap-siap” Malamnya Darel dan Karel sudah siap di gedung tepatnya pukul delapan malam mereka sudah stay disana, sebenarnya segala persiapan sudah 100% siap, hanya saja mereka menunggu para tamu yang lain. Ketiga teman dekat Darel sudah sampai dengan penampilan yang sangat menawan. Darel telah menyuruhkan anak buahnya untuk bisa membawa Rahel kesini, begitupun dengan teman-teman  Rahel yang terlibat karena tergiur oleh upah yang diberikan Darel. Darel masih menunggu tengah malam dan menunggu kehadiran Rahel. Selanjutnya, Janet dan Nella datang kesana. Jarak Darel dan Karel berjauhan membuat siapapun tak sadar kalau Darel ada dua. Begitu juga dengan Nella yang refleks mendekati seorang pria berjas hitam dengan tatanan rambut yang agak berantakkan. “Hai?” sahut Nella Pria itu menoleh, menatapi Nella dengan tatapan kaget sekaligus kagum. Dalam hatinya ia berbicara Wow gadis anggun ini menyapa gua? Manis sekali tuhan. “Hai?” ujar Nella lagi, membuyarkan lamunan Karel Karel menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal “Eh hallo?” Nella tersipu “Eh Darel selamat ya aku yakin kok Rahel kali ini akan menerima mu sepenuhnya. Semangat!” Karel mengerutkan keningnya “Hah? Jadi kau fikir aku Darel, kenalkan aku Karel kembaran Darel” ujar Karel seraya memberi salaman padanya Nella tersentak kaget “Hah? Jangan bercanda Darel” Karel tertawa keras “Kau tak percaya? Coba lihat yang dipanggung sana, itu Darel” Mata Nella terbelalak begitu melihat kebenarannya. “Oh iya, maaf aku baru tahu” “Gapapa, gimana kalau kita berbicara diluar aja biar makin akrab, soalnya disini bising” Aduh tuhan, kufikir dia Darel. Mengapa aku sangat tertarik padanya? Pikir Nella Karel melambai-lambaikan tangannya di depan mata Nella. “Eh” kaget Nella “Bagaimana?” Tanya Karel  “Bagaimana ya, soalnya kan aku baru mengenalmu” ragu Nella Karel tersenyum “Tenang aku tidak jauh berbeda kok dengan abang ku, kau akan aman-aman saja bersamaku. Jika terjadi sesuatu padamu, kau tinggal melaporkanku pada abangku Darel. Bagaimana?” Nella mengangguk-angguk “Ayo, tapi bentar ya aku mau ijin dulu sama Janet” “Baik, aku tunggu” Nella pergi menemui Janet dan kembali lagi pada Karel tanpa berselang lama. Mereka pun pergi keluar gedung menjauh dari keramaian, hanya untuk sekedar berbincang-bincang. Menjelang pukul dua belas malam, sebuah mobil terparkir di depan gedung. Mobil itu berisi anggota-anggota geng BIU. Rahel turun dari mobil, ia mengerutkan keningnya saat menatapi gedung megah itu. “Kalian yakin akan mengadakan party gua di gedung mewah gini?” Tanya Rahel Mereka semua mengangguk dengan senyuman “Ini semua demi Rahel kami, loe kan ketua kami” “Hmm, terharunya gua. Terima kasih ya gaes” ujar Rahel memeluk semuanya Mereka memberi kode satu sama lain “Cama-cama” “Ayo sekarang masuk!” ajak salah satu dari anggota BIU pacar si Jee itu. Mereka bergegas menuju gedung saat di depan pintu, langkah Rahel terhenti. “Kok gelap sih?” Tanya nya “Udah buka aja Rahel” Saat membuka pintu terdengar cukup jelas, saat itu pula keadaan berubah total. Gedung itu kini terang dan sangat indah. Semua dekoran bertuliskan Rahel. Membuat mata Rahel berkaca-kaca tanpa disadarinya, Rahel melihat satu sosok berdiri diatas panggung sana dengan senyuman yang benar-benar tulus untuknya, pria yang bersedia merelakkan apapun untuknya hanya demi dirinya. Mata Rahel semakin berkaca-kaca. Jujur saja hatinya sangat ingin menerima Darel, namun ego menolaknya keras. “Happy birthday Rahel” ucapnya dengan suara yang agak serak membuat semua orang terpana atas pesonanya Darel berjalan mendekati Rahel dengan percaya diri, Rahel hanya diam belum menunjukkan reaksi apapun, Darel membawakkan setangkai bunga mawar untuknya. Rahel terpaku menatapi Darel yang kian terus mendekat padanya. Kini semua orang hanya terfokus pada mereka berdua, mereka seakan menjadi tokoh utama dalam serial drama. Darel tepat berada di hadapan Rahel, menatapinya penuh cinta dan kassih sayang. “Rahel, mau kah kau menjadi milikku?” Tanya Darel cukup berani Rahel masih dalam khayalan, ia terus menatapi Darel tanpa berekspresi sedikitpun. Entahlah mungkin dia sudah sedikit membuka hati nya untuk Darel, atau? “Rahel?” desis Darel membuyarkan lamunan Rahel   Rahel tersentak, ia menunduk. “Beri aku waktu” jawabnya cepat namun penuh keraguan Darel masih dalam senyumannya “Oke, ayo kita rayakan ulang tahun mu” Semua orang bersurak tanda bahagia bisa mengikuti party semegah ini. Acara demi acara berlangsung, namun Rahel tetap diam di samping Darel. “Rahel, apa kau nyaman?” Rahel mengangguk cepat “Apa ada sesuatu yang kau fikirkan?” Tanya Darel “Tentu saja, gue mikirin keputusannya” Darel tersenyum Tuhan, kali ini mulai ada perubahan pada dirinya. Terima kasih. “Rahel, jangan terlalu difikirkan. Ikuti saja kata hatimu, karena ia selalu benar. Jangan ikuti ambisimu” tambahnya lagi Rahel menatapi Darel kaku tak bisa didefinisikan apa saja yang ada dalam fikiran gadis itu. Darel tersenyum “Disini banyak sekali haddiah untukmu, mana dulu yang ingin kau buka?” Secepatnya Rahel menggelengkan kepalanya “Tak satupun” “Mengapa?” Darel mengangkat satu alisnya tanda kebingungan “Gue akan membukanya di depan ibu” jawabnya Darel berOh ria dengan senyuman yang jarang sekali di berikannya pada siapapun. “Bersamaku?” Tanya Darel Rahel nampak berfikir “Terserah” Darel semakin melebarkan senyumannya “Yes!” “Kenapa?” Darel memegangi tangan Rahel “Sudah lama sekali aku menginginkan mu untuk kembali” “Really?” Darel menatapi Rahel tajam “Kau tak percaya?” Rahel menggelengkan kepalanya “Entahlah, sejak ayah dulu ninggalin kami. Gue sering berfikir bahwa semua lelaki akan berakhir seperti itu, akan selalu mengecewakan. Tapi kalo loe, gue gak bisa nebak apa loe akan sama seperti ayah atau engga” Darel menatapi Rahel dalam penuh cinta “Apa kau pernah melihatku melakukan segala hal demi seorang gadis?” Rahel menggeleng “Mungkin belum” Darel tersenyum “Kurasa takkan pernah seperti itu, jika kau di sampingku lalu aku mau siapa lagi? Karena kau yang selama ini menjadi tujuanku”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD