18

1428 Words
Darel pulang ke rumah  megahnya tak sendirian, kali ini adiknya Karel mengikutinya pulang ke rumah. Raut wajah Karel nampak muram, mungkin ia menyesal datang ke Indonesia jika hanya terjebak pada kakaknya yang terlalu tegas. Ia takut tapi untuk menghadapi Darel. Baginya Darel hanya seseorang yang membuatnya kaku dan selalu berusaha baik padanya. Karel menatapi kakaknya tajam, Darel yang sedang menyetir mobil terlihat damai seakan tak tahu apa yang dilakukan adik kembarnya itu. Wajahnya saja terlihat damai, kalau tampan sudah pasti wajahnya kan sama denganku, agh dia terlalu banyak tingkah. “Apa yang kau fikirkan?” celetus Darel Karel tersentak seketika, lamunannya membuyar. “Eh tidak bang, aku  hanya memikirkan bagaimana caranya agar bisa sepertimu” “Seperti apa?” Karel menghela nafas “Ya, kau cerdas dan rajin belajar. Kau juga sering menjadi bahan pembicaraan mom dan dad. Belajarlah seperti Darel, lihat sikapnya, lihat kerajinannya, lihat pesonanya. Agh kadang aku iri padamu yang sering saja mereka bangga-banggakan padahal kan secara fisik kita benar-benar sama” “Hm, aku pun iri padamu yang tanpa kau sadari kau jauh lebih diperhatikan oleh mereka, setiap hari.” Tambah Darel tanpa melirik wajahnya, pandangannya masih lurus ke depan Karel terdiam perkataan Darel barusan membuatnya berfikir betapa sulitnya menjadi Darel, tapi Darel tetap saja kuat dan justru lebih baik dari dirinya. “Kadang orang-orang suka berbuat diluar batas, mereka selalu tak mensyukuri apa itu hidup” Karel menundukkan kepalanya “Aku sangat malu padamu bang, meski sudah dengan berbagai cara aku ingin merubah diriku tetap saja aku lagi-lagi terjatuh pada kegelapan” “Semuanya tergantung tujuan hidupmu. Mungkin jika kau punya tujuan hidup yang jelas, kau akan berfikir beribu kali lagi untuk melakukan hal bodoh semacam itu karena semuanya akan sangat berpengaruh terhadap masa depanmu” jelas Darel Karel tersenyum “Terima kasih bang, akan ku ingat perkataanmu” “Jangan hanya diingat, buktikan!” Sesampainya di rumah, Karel menghirup udara sedalam-dalamnya. “Wih aku ingat terakhir kali aku menangis karena ingin ikut ke luar negeri” ujarnya dengan senyuman Darel hanya terdiam dan menatapi adiknya yang agak pecicilan. “Bang, kali-kali main ke Universitas ku disana banyk sekali gadis-gadis cantik dan seksi uh aku melemas kalau membayangkannya” Darel duduk dikursi tanpa mendengarkan celotehan adiknya itu, Karel berkhayal semakin tinggi.   “Oh ya bang, saat ini aku menyukai seorang wanita namanya agh ku samarkan saja takut kau menyukainya nanti Haha” teriak Karel “Tipe ku berbeda denganmu” ujarnya datar Karel mendengus sebal “Agh ceritakan padaku siapa dia bang?” ujar Karel mendekati Darel “Menjauhlah, kau seperti bocah saja” “Bang katakan saja padaku siapa?” teriak Karel Darel menjauh “Dasar keras kepala” Karel justru tertawa “Kau lebih lucu dari Bean bang” Darel menghela nafas dan memilih untuk pergi ke kamarnya hendak untuk mandi, Karel menyalakan  tv dan bersandar di sofa megah aset keluarganya. Terlihat seseorang keluar dari dapur, seorang wanita paruh baya yang hendak membersihkan lantai. Ia tersentak saat melihat seseorang yang tepar di sofa “Eh bukannya itu den Karel?” sentaknya kaget, asisten rumah itu sangat mengetahui perbedaan yang sangat spesifik antara Darel dan Karel sehingga tidak salah orang. “Eh bibi, iyalah aku ini Karel berbeda dengan abang Darel kan? Aku jauh lebih tampan kan?” ujarnya percaya diri Bibi pembantu itu tersenyum “Hihi kan kalian itu kembar den jadi hamper gaada perbedaannya, kecuali sikapnya.” “Aduh untuk kesekian kalinya ada orang yang berbicara hal ini padaku, ya sudah akan ku pikirkan lagi tentang sikapku” risih Karel Karel beranjak dari sofa “Eh bi, ambilkan handuk di kamar abang Darel” Bibi pembantu itu mengangguk “Baik tuan” Sore harinya, waktu menunjukan pukul 17.00 satu mobil pajero putih masuk ke area rumah Darel dan memarkirkannya di halaman rumah Darel. Siapa lagi kalau bukan Niko, Martin dan Jee. Seperti biasa mereka ingin menghabiskan waktu semalaman di rumah Darel. “Jee cepat katakan padaku bagaimana penampilanku saat ini?” ujar Martin sambil merapikan bajunya Jee mengerutkan keningnya “Ah biasa saja” Martin mendengus sebal “Salah aku bertanya padamu, ayah Niko? Bagaimana penampilanku” Niko mengerutkan keningnya “Sudah rapi, tapi jika hanya ingin bertemu wanita biasa saja menurutku hanya membuang-buang waktumu saja” Martin menatapi Niko heran “Dengar Jee, kurasa ayah sekarang benar-benar jatuh cinta. Saat kutanya tentang penampilan ia malah membahas perempuan dasar otak m***m” Niko menggelengkan kepalanya “Mending aku masuk saja daripada harus mendengarkan celotehan basi kalian” Niko berjalan pergi dan memasuki rumah megah Darel “Kau jangan banyak berasumsi tentang Niko, siapa lagi yang akan mengerjakan tugas kita di kampus?” Jee pergi meninggalkan Martin dan mengikuti Niko Mulut Martin menganga “Why? Pria-pria gak asik” ujarnya lalu mengikuti mereka Sesampainya di rumah, seperti biasa mereka hendak menemui Darel dalam kamarnya. Namun, sesuatu menghentikan langkah mereka di ruang tengah. Seorang pria berambut berantakkan, memakai celana cargo pendek berawarna kopi s**u, memakai kaos hitam bergambar tengkorak dan bertatto bertulis Erikss ditangan kirinya membuat mereka diam mematung cukup lama. “Darel? Apa yang terjadi padamu?” teriak Jee kaget “Oh tuhan apa yang terjadi pada sahabatku ini” tambah Martin mendramatisir Niko menggesek-gesek matanya perlahan “Tidak, kini yang tersisa diantara mereka hanya aku” Pria yang disebut Darel oleh mereka itu mengangkat satu alisnya, tanda ia kebingungan. “Whats wrong? Come on!” gerutunya dengan bahasa inggris yang baik Cklek, pintu kamar Darel terbuka, menampilkan sosok pria tampan berpakaian rapi dan berambut rapi membawa secangkir s**u hangat sambil membaca buku perekonomian tak lupa dengan tatapan mata penuh kedamaian. “Darel?” teriak ketiga pria tampan itu menganga seketika, pria rapi itu menatap datar. “Ada dua?” teriak ketiga sahabat Darel itu lagi dengan semuanya memegangi kepala Jee menutup matanya kali ini “Bagaimana ini? Ada dua manusia vampire disini. Eh, menurutku tiga, Martin ayo sebaiknya kita pulang” Martin menatapi Jee dengan tatapan jijik “Mengapa kau mengajakku? Pergi saja sendiri!” Mereka bertiga mengangguk-angguk saat mendengar cerita Darel. Selanjutnya mereka terdiam dan menatapi wajah Karel. “Aku tak bias membedakkan antara Karel dan Darel untuk saat ini” jelas Martin Jee menatapi Darel dan Karel dalam “Aku menemukannya! Karel memiliki t**i lalat di sini” ujarnya sambil menunjuk nya Karel menatapi aneh Jee “Aduh seperti bocah saja! Bang apa kau kuat bersama dengan mereka?” Darel menatapi adiknya tajam “Mereka sama sepertimu” Niko tak bergeming dan masih diam dengan segala kejadian yang tepat di depannya. “Benarkah sama seperti kami?” teriak Martin dengan senyuman yang lebar Jee menatapi Karel bangga dan penuh drama “Wih kita sekarang teman bro! ayo kita party” ujarnya sambil merangkul Karel diikuti oleh Martin “Jangan bawa adikku kedunia kalian, dia akan merubah sikapnya” ujar Darel Martin dan Jee membuang nafas berat “Ah jadi kau akan masuk ke kubu es?” desis Martin Jee menatapi Martin datar “Kita masih berdua bro!” Karel membisikkan sesuatu pada Darel “Bang ternyata kau punya teman yang sepertiku haha” “Hm jangan anggap mereka ada, mereka hanya pelengkap” tambah Niko Perkataan itu membuat Jee dan Martin menatapi Niko marah “Wah dia cari mati Jee” sahut Martin Jee ancang-ancang ia melingkarkan tangannya tepat di leher Niko “Aduh kalian apa-apaan sih, dasar bocah” Jee menatapi Martin “Martin kenapa kau diam saja? Cepat kelitiki dia” Martin pun melakukan apa yang Jee perintahkan “Karel kau juga bantu kami” teriak Jee Dengan senang hati Karel bergegas dan mengangkat tubuh Niko “Tidak, kalian sangat keterlaluan! Darel bantu aku” teriaknya Darel sama sekali tak mendengarkan dan tak memperhatikan mereka. Niko dibawa ke kolam renang oleh mereka bertiga, tak sampai disitu mereka mengayun-ayunkan tubuh Niko. “Satu, dua..” “Hentikan, kalian apa-apaan ini. Oh tuhan mengapa aku terlibat dengan orang-orang seperti mereka?” desis Niko “Tiga” mereka berhasil menjeburkan tubuh Niko tanpa mendengarkan perkataan Niko Karel tertawa lebar “Haha melihat Niko itu seperti melihat temanku David, mereka sama sekali” “Maksudmu sama-sama terlihat bodoh?” teriak Martin dengan tertawa yang pecah Niko menatapi mereka sinis dari bawah sana, diam-diam ia berenang ke sisi kolam dan cap, kaki Martin dan Jee berhasil digapainya. “Aaa” Byur, alhasil mereka tercebur dan basah kuyup bersama Niko. Darel tersenyum manis dari atas sana ia melihatnya dari balkon. Ketiga pria basah itu kini menatapi Karel tajam dan penuh ambisi. “Ah jangan tangkap Karel, ini baju baru kupakai” teriak Karel saat mereka bertiga tanpa disadari sudah sangat dekat dengannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD