Niko mencari akun media sosial milik Rahel, seperti yang disuruhkan oleh Darel. Secepatnya Niko mendapatkan tanggal lahir.
"22 Agustus" ujar Niko
"Berarti 3 hari lagi" ujar Martin
Jee nampak berfikir "Darel, untuk kali ini aku angkat bicara tentang kisah asmaramu! Menurutku, kau harus menjadi seseorang romantik untuknya! Paham? Kau harus membuat pesta ulangtahun yang besar dan benar-benar megah"
Darel mengangguk "Ku sudah memikirkan itu"
"Ah s**l, lagi-lagi kecerdasan ku penuh keterlambatan" kesal Jee
Martin tertawa menatapi sahabatnya itu "Kenapa kau? Sekali menertawaiku, ratusan urat di tubuhmu akan putus!"
"Bodo amat!"
Jee mendorong tubuh Martin "Ayolah takutlah!"
Martin mendengus sebal "Siapa yang takut dengan pria lembek seperti mu?"
"Ayah Niko marahi dia!"
Niko dan Darel hanya menatapi mereka berdua dengan tatapan datar. "Agh aku ingin keluar dari dunia vampir ini" teriaknya histeris
Darel termenung sendirian, ia masih memikirkan tentang Rahel, tentang cara membahagiakannya. "Kurasa untuk 2 hari ke depan aku takkan menemuimu!" Desisnya
Darel menyeduh kopi kesukaannya, menghirupnya begitu dalam hingga membuat benaknya yang rumit sedikit membaik.
Banyak pertanyaan tentang Darel untuknya, Banyak kecemasan tentang Darel untuknya, Terlalu banyak hal yang ingin Darel lakukan bersamanya, Namun sampai kapan ia harus mati-matian berjuang? Tanpa ditoleh sedikit pun oleh sang pujaan hati. Raganya yang kuat dan gagah terlihat dari luar saja, berbeda dengan hatinya yang masih kesepian, kesepian untuk kesekian kalinya.
Kesepian dari kasih sayang orang tua, dan wanita yang disayangi nya. Mereka nampak begitu mudah meninggalkan Darel, tanpa melihat bagaimana Darel yang sudah menua sekarang.
Darel tetap berjalan pada jalannya, tak sedikitpun ia menoleh kedunia hitam. Ia tetap patuh pada apa yang ibunda nya pesankan.
Kring...Kring...
Ponselnya bergetar, Darel mengambilnya di saku celananya. "Oma?"
"Halo cucu kesayangan oma!"
"Halo, ada apa oma?"
"Hari ini kembaranmu katanya mau pulang, kamu tahu?"
"Karel?"
"Iya, siapa lagi? Katanya sih dia mau main ke Indonesia"
"Oh"
"Kamu coba nasehati dia lagi ya, biar dia engga selalu berfoya-foya"
"Sulit oma"
"Kamu pasti bisa Darel. Mom sama dad kamu aja udah kecapean mengurusi dia"
"Adikku itu sulit diatur!"
"Makanya kamu nanti kesini, dia gak berani datang menemuimu. Mungkin dia takut"
"Baik oma"
"Oke, nanti oma tunggu. Sampai jumpa"
"Baik"
Tut.. Tut...
Sambungan teleponnya terputus, mood Darel menjadi sangat buruk saat mendengar kembarannya itu mau ke Indonsia. "Menyulitkan sekali dia, sengaja dibawa keluar negeri biar berpendidikan. Malah menjadi liar dan keras kepala" desisnya
Darel mengingat masa kecilnya, dimana ia merasa orang tuanya benar-benar tidak adil terhadapnya. Saat usia Darel menginjak 6 tahun begitupun dengan Karel, orang tuanya diharuskan pindah ke luar negeri untuk perusahanya ErikLusi yang semakin berkembang ke dunia internasional.
Saat itupun Darel dan Karel diharuskan menetap di Indonesia bersama dengan asisten-asisten yang sudah dipercaya keluarganya. Karena sangat tidak mungkin membawa mereka berdua, sedangkan rumah megah di Indonesia ditinggalkan begitu saja terlalu banyak aset penting di dalamnya. Tapi, Karel merengek karena sikap antara dia dan kakaknya sangat jauh berbeda.
Darel yang pendiam, keras dan penuh kerajinan sangat berbeda dengan Karel. Karel yang bawel, cengeng, dan egois selalu ingin memenangkan segala hal meski dengan cara yang curang. Namun Karel sangat menakuti Darel. Mungkin satu-satunya orang didunia ini yang Karek takuti hanya Darel seorang.
Saat itu Karel menangis tiada henti-hentinya ia ingin ikut bersama orangtuanya ke luar negeri, dan dengan keterpaksaan pun Karel dibawa ke luar negeri oleh kedua orang tuanya sampai saat ini.
Kadang Darel merasa hidupnya benar-benar tidak adil untuknya. Dengan keterpaksaan itu, Darel mampu menjadi pribadi yang mandiri dan kuat.
Seharian Darel belajar buku-buku perkembangan perusahaan ErikLusi. Ia satu-satunya yang harus serius dan bisa mengendalikan perusahaan ErikLusi kelak. Meski ia sudah cukup cerdas, itu masih kurang untuknya.
Dengan ketekunannya yang benar-benar tak dimiliki oleh siapapun, mampu membuat dirinya mengalahkan dunia. Darel cukup sulit untuk dimiliki setiap wanita, namun Darel justru mengejar wanita yang sulit untuknya.
Tepat pukul 16.00 Darel segera bergegas menuju rumah oma nya. Sebenarnya dia agak malas untuk datang, tapi jika bukan omanya yang meminta ia memilih untuk dirumah saja.
Sesampainya depan rumah oma yang cukup megah, Darel segera masuk namun merapikan pakaiannya terlebih dahulu.
Darel mengetuk pintu dan menunggu orang membukakan pintu, tak berselang lama wanita tua membukakan pintu untuk Darel. "Eh Darel? Cucu oma akhirnya datang juga" sambutnya
Di dalam sana terlihat Karel yang menatapi Darel kikuk, penampilan Karel berbeda jauh dengan Darel. Karel memakai kaos hitam bertuliskan METALICA, memakai celana cargo pendek berwarna krem. Sangat jauh berbeda dengan Darel yang memakai jas rapi dengan tatananan rambut yang rapi pula.
Perbedaan yang menonjol antara keduanya, Karel memiliki t**i lalat di dekat mata kirinya.
"Eh abang?" Kikuk Karel sambil menelan salivanya kuat-kuat
Darel duduk di samping Karel "Hm"
"Darel, coba kamu nasehatin kembaranmu ini. Dari tadi oma mengoceh, dia malah terus--terusan mainin ponselnya. Hadeuh, adek kamu ini ya gak ada perubahan banget, meski dia tinggal di luar negeri, sekolah disana, dia tetep aja gak dewasa-dewasa" panjang lebar oma
Darel menatapi Karel tajam "Benar itu?"
Karel tersenyum bodoh menatapi abangnya "Hihi"
"Oma juga sering denger keluhan mom sama dad kamu! Mah, aku gak habis fikir sama Karel yang terus-terusan keluyuran gak jelas. Ngabisin duit gak jelas. Coba mama bujuk Darel buat nasehatin dia, kan cuma Darel yang ditakuti Karel. Dia sampe bilang gitu ke oma!"
Darel menatapi adeknya itu semakin tajam "Kamu mau masih dianggap keturunan ErikLusi apa tidak?" Ujar Darel penuh penekanan disetiap katanya
Karel menunduk "Bang, temen-temen Karel disana party mulu sih kalau Karel gak ikut mereka suka ejekin dibilangin anak momi lah"
"Terus kamu gak mau dibilang anak mom?" Tambah Darel
Karel terdiam sejenak "Eh bukan gitu bang"
"Kamu harusnya dewasa dong! Sebentar lagi mom sama dad menua dan akan menyerahkan perusahaannya ke kita berdua! Dan kamu? Malah leha-leha" tegas Darel
"Maaf bang!" Lirih Karel
"Maaf untuk apa?" Tanya Darel
Karel menundukkan kepalanya "Maaf untuk selama ini Karel buang-buang waktu dan uang"
"Cuma maaf tidak cukup! Kau ingin dimaafkan oleh ku?" Bentak Darel
Karel terkejut, ia semakin takut menghadapi kakaknya yang benar-benar tegas ini. "Ma-mau bang"
Darel menatapi nya dalam-dalam "Seminggu ini kau harus menetap di Indonesia! Untuk mempelajari berbagai macam ilmu perusahaan keluarga kita, dan di hari terakhir kau harus mempersentasikan semua hasil kerjaanmu padaku"
Mata Karel memelotot seketika "oh god, gua disuruh belajar begimana ini tapi, kalau gua tolak bang Darel bisa-bisa mencabut semua aset yang diberikannya ke gue" celotehnya dalam hati
"Bagaimana?" Bentak Darel
Karel memutar bola matanya nampak sedang mencari cara agar bisa terlepas dari masalah ini "Eh bang, Karel baru inget. Lusa besok Karel harus pulang lagi, karena kan disana harus ngampus kalo engga, dosen bisa ngamuk kan? Hihi takut lah bang"
"Aku akan urus semuanya!" Tegas Darel
Karel menelan salivanya lagi "Aduh, gua terjebak. s**l, tahu begini mending gua gak ke Indo"