16

1080 Words
Rumah sakit Darel duduk dikursi roda yang didorong oleh Martin. Mereka memasuki Rumah sakit yang dimaksud Darel, perlahan mereka semua menyusuri ruangan demi ruangan dan sampailah di ruangan tempat ibu Rahel dirawat selama ini. Darel tepat berada di depan pintu namun gerak tangannya yang mulanya akan membuka pintu berhenti seketika saat dia mendengar suara perempuan dari dalam ruangan sana. "Ya, Rahel ada di dalam" desis Darel Darel membuka pintu ruangan sedikit, hingga orang yang berada di dalam ruangan tak menyadari keberadaan Darel. Benar saja di dalam ada Rahel yang sedang memegangi lengan ibunya. Dengan kepala yang menunduk seakan penuh penyesalan. "Bu, Rahel merasa aneh dengan dia. Kenapa Rahel tak bisa membencinya? Seperti pada yang lain?" Lirih Rahel Rahel kini menatapi ibunya sendu "Padahal Rahel sudah berjanji akan fokus pada ibu, dan takkan berhubungan dengan laki-laki manapun. Tapi..." "Tapi kau perlahan bisa menerimaku, dihidupmu" lugas Darel dengan senyumannya yang merekah Rahel tersentak dan raut wajahnya yang langsung berubah menjadi sangar dan merasa terganggu dengan kehadiran Darel. "Kenapa lu kemari?" Sentaknya "Aku mendengar semuanya Rahel" jawab Darel "Kami pun" tambah Jee dengan senyuman Rahel membuang nafas berat "Gue gak menyebut nama lu ya! Ingat" "Tapi aku merasa kata-kata mu barusan tertuju padaku, ah sudahlah aku hanya ingin berterimakasih padamu" jelas Darel Rahel mengerutkan keningnya "Untuk?" "Karena kau telah melaporkan Jack dan kawannya ke Penjara dan terimakasih telah sedikit berubah" jelas Darel lagi Rahel nampak tak tahu apa-apa "Berubah? Gue merasa sama ko, cuma gue gak pernah mau melihat ketidakadilan gitu aja. Lu jangan kebanyakan percaya deh" lugas Rahel "Rahel bisa kau ikut aku?" Ajak Darel       Rahel semakin tak mengerti "Untuk?" "Aku ingin kau bertemu dengan ayah dan ibu ku untuk beberapa hari ini. Bisa? Mereka selalu menanyakan, kemana Rahel kecil?" Tambah Darel Rahel tersenyum meremehkan "Itu masa lalu, jangan terbelit masa lalu lah" "Kau menolaknya?" Tanya Darel Rahel mulai merasa terganggu "Sudahlah, kalian pergi dari sini. Gue ingin bersama ibu saja" Sentaknya pada semuanya lalu menutup pintu Darel menutup matanya rapat bersamaan dengan pintu yang tertutup "Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Niko "Kita pulang" jawab Darel Semuanya kembali pergi, kembali ke rumah sakit Darel tempatnya dirawat. Sementara di dalam ruangan Rahel merintih menangis entah apa yang membuatnya saat ini menangis tersedu-sedu. "Maaf" lirihnya seakan penuh luka Keesokannya Darel terbangun dengan cukup fit dan segar, berkat reaksi obat yang diberikan oleh dokter. "Aah" desisnya Ia menatapi kesekeliling ruang kamarnya, rupanya dia sudah berada di rumah. Seseorang datang ke dalam kamarnya, wanita tua dengan membawakan segelas s**u hangat untuknya. "Tuan, diminum susunya. Mumpung masih hangat" ujarnya Darel tersenyum "Oke, taruh saja disana bi" "Baik, semoga tuan lekas sembuh. Bibi mau kedapur mau beres-beres tuan" tambahnya lagi seraya pergi "Eh, bi jangan sampai mom sama dad tahu tentang ini" jelas Darel Wanita itu mengangguk paham "Siap tuan" Darel menatapi cahaya dari luar jendela kamarnya, cahaya yang lagi-lagi menyakiti matanya. "Sinar ini, sama seperti mu Rahel" Darel menyalakan remot tvnya, hari ini dirinya enggan untuk keluar rumah. Nampaknya, ia sedang berada dalam fase lelah untuk mengejar Rahel. Butuh waktu lagi untuk mengumpulkan kekuatan batinnya menghadapi Rahel, jika benar dia ingin memilikinya. Seperti biasa di pukul 10.00 pagi ini ia menonton acara kesukaannya, Spongeboob Squerpants. Macam bocah saja lelaki tampan ini, itulah Darel yang tidak bisa ditebak oleh siapapun. Tuk-Tuk-Tuk Suara ketukan pintu terdengar jelas ditelinga Darel, siapa yang mau menemuinya pagi-pagi begini. "Darel? Aku Niko" ujar seseorang dari luar sana "Oiya, masuk" Cklek, pintu kamar Darel terbuka lebar menampilkan sosok gagah Niko yang rapi ditemani oleh Janet, dan satu lagi di belakangnya terlihat Nella teman Janet. Mengapa dia ikut "Hai Darel, bagaimana keadaanmu?" Tanya Janet. "Baik" jawab Darel cepat Kini mata Darel tertuju pada sosok Nella yang terlihat anggun dan cantik tersenyum padanya. "Darel? Jangan telat makan biar tubuh mu cepat pulih kembali" ujar Nella Darel mengangguk tanda mengiyakan, Niko duduk di sofa depan televisi pribadi Darel. "Ah, Spongebob lagi Darel. Coba cari berita atau yang lain jangan kartun, macam Martin dan Jee saja" Darel tersenyum "Ini acara kesukaanku" Janet duduk di samping Niko sambil memegangi handphonenya, sementara Nella masih berdiri di samping tempat tidur Darel. Darel hendak mengambil s**u yang diberikan pembantunya tadi, namun cukup kesulitan karena jaraknya sedikit jauh. "Biar aku yang ambilkan" jelas Nella, ia langsung mengambilkan segelas s**u hangat dan ssgera memberikannya pada Darel. Darel menatapinya "Terima kasih" "Sama-sama" jawab Nella "Nella ayo kemari, lihat ada potongan harga dari novel tereliye" teriak Janet Nella berlari kecil menemuinya "Seriusan?" Darel menatapi mereka berdua sendu, lalu selanjutnya ia menunduk kecewa. "Jika kau seperti mereka, takkan sulit bagiku untuk mendapatkan hatimu" Keesokannya, Darel kembali menyiapkan dirinya untuk kuliah. Ia merasa dirinya sudah cukup fit. Seperti biasa teman-temannya takkan berangkat tanpa Darel, sehingga ketiga temannya itu pagi-pagi sekali datang ke rumah Darel. Darel bersama Niko dan Martin bersama Jee, mereka termasuk mahasiswa cerdas meski Jee dan Martin yang terkenal agak nakal mereka tetap termasuk mahasiswa yang berpengaruh. Hari ini keempat cowok ganteng itu lagi-lagi menjadi panutan, bahkan dosen bilang mereka mahasiswa yang patut dicontoh. Sepulangnya, mereka berjalan menuju parkiran. Martin dan Jee sedikit bingung melihat tingkah Niko yang cukup ceria hari ini. "Kau berbeda ayah" jelas Martin Jee mengerutkan keningnya sambil menatapi Niko dalam-dalam "Berbeda bagaimana menurutmu Martin?" Tanya Jee polos "Bukan fisiknya cuk! Tapi lihat hari ini sikap dia benar-benar berbeda, aku curiga ada suatu hal yang di sembunyikan dari kita" panjang lebar Martin Darel hanya terdiam dan menyimak saja "Darel, Niko kenapa?" Ujar Jee "Entah" jawabnya enteng "Kurasa dia sedang jatuh cinta" jelas Martin Niko terlihat salah tingkah "Apaan sih" ujarnya sambil segera memasuki mobil, diikuti Darel. "Mereka berdua mempunyai selera cinta yang agak aneh, menurutku" wajah polos Jee membuat Martin sebal "Wajah mu biasakan bulu hidung korea!" Tegas Martin yang langsung memasuki mobil "Oy! Sembarang ya lu" Seusainya diperjalanan, seperti biasa keempat pria tampan itu berkumpul dikediaman Darel. Menghabiskan hari-hari bersama membuat Darel tidak kesepian lagi seperti dulu. "Darel, mau kejar Rahel lagi?" Tanya Jee bodoh "Pasti" jawab enteng Martin menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Lalu kenapa kau hari ini diam?" "Lain kali aku berusaha lagi" jawaban itu cukup jitu untuk mendiamkan Jee Namun berbeda dengan Martin "Mending hari ini kita ke rumah Rahel, buat semacam kejutan untuknya atau apa kek?" Desisnya Kali ini ucapan Martin mampu membuat Darel sedikit berfikir, sepertinya omongan Martin tak selalu kosong dan tak selalu tentang wanita saja. Awokawok. "Niko carikan tanggal lahir Rahel!" Suruh Darel secepatnya Niko menatapi Martin "Tumben? Dia agak berguna" Jee memegangi kepala Martin "Kurasa otakmu sudah mulai berfungsi" Martin menghela nafas "Serah deh ah!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD