Kening Darel mengerut "Kenapa?"
"Dari tadi sikap Rahel aneh, dia hanya diam dan seperti orang depresi gitu mukanya" jawab Martin
"Iya benar, aku juga merasa begitu" tambah Marsha
Jee nampak berfikir "Apa dia takut Darel kenapa-napa? Atau ada hal lain?"
"Aku kan cewek, menurutku ucapan mu ada benarnya Jee bisa jadi Rahel itu takut Darel kenapa-napa. Karena sejak Darel tak sadarkan diri, sikap agresif Rahel seketika hilang" celetus Kirana
Darel tersenyum "Yang benar?" Tanyanya kegirangan
"Maybe" seru semuanya bersamaan, entah kenapa bisa sekebetulan itu.
Darel tertawa "Ini langkah pertamaku"
Keesokannya
Hari ini Darel masih dirawat, kepalanya masih terasa cukup sakit begitu juga dengan luka-luka dibadannya. Ketiga sahabatnya masih setia menunggu Darel disini.
Martin sedang memakan roti dibaluri selai kacang kesukaannya, Jee masih dengan game dihandphone nya, dan Niko seperti biasanya dia sedang membaca dan kali ini dia sedang membaca koran yang baru saja diantar pelayan rumah sakit.
"Roti ini rasanya tawar! Gak ada apa-apa nya tanpa selai kacang" desis Martin menatapi rotu yang separuhnya lagi sudah dilahap olehnya
"Kau bodoh! Ya pasti begitulah!" Jawab Jee menyempatkan tangannya untuk mendorong kepala Martin sejenak
Niko tersenyum "Dimanapun roti tawar memang tawar makanya namanya roti tawar! Jika kau mau roti yang ada rasanya jangan salahkan roti tawar, berarti kau yang salah pilih"
Martin nampak berfikir "Mungkin filosofi roti tawar ini sama seperti ku ya? Aku memilih Kirana karena cantik dan tak ada hal lain selain itu yang membuatku jatuh cinta padanya, dan aku bagaikan selai kacangnya melengkapi rasa di kehidupan Kirana. Tapi jika dibenakku Kirana tidak ada apa-apanya itu salah besar, kan tadi aku sudah bilang mencintai Kirana karena cantik dan tidak ada hal lain jika aku bilang aku salah pilih, NO! Itu salah, mungkin itu hanyalah alasan laki-laki pengecut yang sering dipakai diluaran sana untuk meninggalkan wanita."
"Kau ini mengoceh terus! Ini masih pagi bro" teriak Jee
Niko menatapi Jee sinis "Sepertinya Jee tersinggung"
"Eits, mana mungkin! Jee itu setia hanya pada Marsha" tegasnya lagi
Niko menaikan satu alisnya "Lalu perempuan yang kau ajak main ke rumah ku? Dia ibu mu?" Ujar Niko
"Dia hanya wanita sementara! Mana mungkinlah aku pilih dia yang kotor dan meninggalkan Marsha yang masih suci" jawab Jee
Martin menatapi Jee serius "Tapi buku mengatakan, Jodoh itu cerminan diri kita! Jika kau kotor, maka jodohmu juga"
Jee meletakan handphone nya, langsung saja menarik kerah baju Martin "Kau menantang ku k*****t"
"Hah, aku tak takut Jee! Bocah tengil baru lahir nantang pria dewasa" desisnya
Jee tak terima "Selalu saja disebut bocah tengil! Aku sudah dewasa Martin"
"Mulai lagi" desis Niko menggelengkan kepalanya
Martin tertawa lepas "Kau memang bocah kemarin sore!"
"Hey ingat aku seumuran dengan mu bodoh! Malah aku lebih tua darimu" Tegas Jee
Martin masih dengan gelak tawanya "Gayamu itu seperti bocah" teriaknya lagi
Kepala Martin didorong oleh Jee cukup keras "Dasar gak tau diri! Dari pada seperti kau, gayamu kolot bro"
"Ini bukan kolot! Martin si cowok maco itulah panggilanku. Bukan kau, Jee si cowok lembek"
Jee semakin tak terima "Ini gaya-gaya korea man tahu! Daripada kau"
"Haha korea! Martin ini si cowok maco mana mungkin lah dari korea, Martin dari Amerika"
Jee tertawa "t**i lalat mu Amerika!"
"Bulu hidungmu Korea!"
Niko mulai kesal dengan tingkah mereka berdua "Sudah hentikan! Nanti Darel terbangun" tegasnya menatapi keduanya murka
"Hoaammm" tubuh Darel menggeliat sepertinya sudah cukup tidurnya semalaman "Kenapa pagi-pagi sudah marah-marah ayah?" Tanya Darel dengan raut wajah yang masih mengantuk dan setengah matanya yang masih dibiarkan tertutup
Jee dan Martin menatapi Niko kesal "Kau yang membuat Darel bangun! Bukan kita" Tegas Martin
Jee mengangguk-angguk "Kau benar Martin saudaraku"
Niko membuang nafasnya berat "Begini salah, Begitu salah" desisnya
Martin menggelengkan kepalanya seakan kecewa "Aku tak menyangka kau akan membangunkan Darel, ayah"
"Akupun, kau memang ayah tak tahu malu" sentak Jee menatapi Niko lebih kecewa
"Kenapa kalian jadi bersekutu? Bukannya dari tadi kalian ribut? t**i lalat Amerika, Bulu hidung Korea?" Skak Niko membuat mereka berdua kini saling bertatapan aneh
Darel tertawa "Sudahlah-sudahlah ini masih pagi brother"
"Darel kau ingin sarapan sekarang?" Tanya Niko
Darel menggelengkan kepalanya "Tidak, nanti saja"
"Kau harus memakan obat Darel" jelas Martin
"Apa Rahel semalam kesini lagi?" Tanyanya diluar dugaan ketiga temannya
Ketiganya menggelengkan kepala "Tidak"
Darel tersenyum dalam diam, instingnya masih kuat bahwa Rahel masih memikirkannya dari jauh. "Kenapa kau tersenyum?" Tanya Jee
"Tidak"
Mereka bertiga kembali menjalankan aktifitasnya tadi, namun kini raut wajah Niko berubah drastis saat membaca koran yang digenggamnya dari tadi. Sorot mata Niko sangat serius membaca kata demi kata yang tercantum dalam koran itu.
"Jack sudah ditangkap!" Ujarnya nyaring
Jee dan Martin tersentak "Benarkah? Bukannya kita belum melapor pada polisi?" Tanya Martin
"Disini tertulis "Salah satu geng motor yang sering meresahkan warga ditangkap polisi, mereka kemarin siang telah menyiksa salah satu pria berinisial DE yang katanya calon CEO diperusahaan EL, menurut saksi yang melihat langsung kejadian ini DE disiksa oleh semua anggota geng motor. Kini anggota geng motor yang diketuai oleh inisial JK ini, akan ditahan selama 15 tahun atas kasus pembunuhan yang direncanakan" berarti yang melapor..." ucapan Niko tergantung
"Rahel" serentak semuanya
Darel terbangun dari tempat tidurnya "Ayo kita temui Rahel" ajaknya semangat
"Darel kau masih harus istirahat" ujar Niko
"Aku akan istirahat setelah bertemu Rahel" jawab Darel sumringah
Darel berjalan sebisanya mungkin dan segera diboyong oleh temannya "Untuk apa kau menemuinya sekarang? Kau lebih memerlukan istirahat" ucap Martin
"Aku harus berterimakasih padanya" jawab Darel singkat
Niko mengangguk-angguk "Baiklah, tapi dimana kita akan menemukan Rahel?"
"Kita coba ke rumah sakit tempat ibunya dirawat"