14

1224 Words
Ingat aku adalah mataharimu yang selalu memberi sinar terang di hidupmu, memberikan warna di hidupmu, akan selalu seperti itu selamanya. ***   Darel mulai berkelahi dengan Jack berlangsung lama dan sengit, setiap pukulan yang Jack juruskan pada Darel selalu berhasil Darel tepis dan tentu saja Darel belum memberikan perlawanan. Jack mulai lengah dengan beberapa kali pukulannya yang lagi-lagi melesat, dengan kesempatan itu Darel segera memberikan pukulan terbaiknya tepat di perut Jack hingga membuat Jack terjatuh namun tertahan oleh beberapa temannya. "s**t" desis Jack dengan sorot mata yang memanas Darel tersenyum menyungging "Seperti itu kemampuan ketua geng ini? Cih, b******n" ungkapnya dengan perkata yang penuh tekanan "Aaarrggghh" sekelompok orang itu lagi-lagi menyerang Darel namun kali ini tidak satu persatu, mereka keroyokan melawannya. Darel terus dengan pertahannya, dia mampu menepis semuanya. Meski mereka menggunakan beberapa alat tajam, tapi tak sedikitpun terdapat luka ditubuhnya. Ia bagai ksatria besi yang mampu menangkis segalanya. "Woy! Jangan main keroyokan!" Teriak seseorang dari ujung sana. Terlihat Martin, Jee, Niko, Kirana, Marsha, dan Rahel. Rahel? Pandangan Darel terkunci disana, ia tersenyum dari rasa penatnya tersenyum dengan begitu tulus. "Rahel? Dia kesini untukku?" Lirihnya perlahan Semuanya berhenti menyerang Darel, karena aba-aba yang diberikan oleh Jack yang duduk manis di atas mobil Darel. "Stop! Lihat disana ada gadisku, jangan berikan tontonan keras padanya. Tugas kalian sekarang, bawa dia kemari aku akan mengajaknya berjalan-jalan" semuanya segera berlari ke arah Rahel dan menarik tubuh Rahel sesegera mungkin "Woy! Hentikan, apa-apaan ini" tegas Rahel berusaha melepaskan mereka Martin menepis mereka begitu juga dengan Jee dan Niko "Jangan main kasar dengan cewek" tambah Jee "Lepaskan atau kalian semua akan masuk penjara lagi" tambah Niko menakuti Darel berlari kearah mereka "Lepaskan Rahel b******n!" Tegas nya yang lalu masuk kekerumunan mereka dan menghalangi Rahel dari mereka. Dengan tatapan yang sangar rahang Darel mengeras "Sekali sentuh dia, nyawa kalian takkan aman!" Tegasnya lagi Mereka yang sudah tahu dengan kemampuan beladiri Darel mundur perlahan dan menjauhi. Jack mengerutkan keningnya. "Apa-apaan? Cepat lakukan" teriaknya Rahel menatapi tubuh Darel dari belakang, pandangannya lagi-lagi kosong, hatinya tiba-tiba merasa tenang dan aman ada didekatnya. Namun Rahel membuangnya langsung, menepis segala fikiran baik untuk Darel tidak untuk semua lelaki. Mereka ancang-ancang akan menyerang Rahel didorong oleh Darel tepat ketubuh Kirana dan Marsha. "Jaga dia" teriak Darel Darel mulai mengatur nafasnya hendak melawan mereka bersamaan dengan Martin, Jee dan Niko tentunya. Mereka lebih dari 10 orang, kali ini pertahanan mereka lebih kuat dari sebelumnya. Hingga membuat Darel dan sahabatnya mulai melemah. Jee, Martin, Niko tersungkur ketanah. Selanjutnya Darel yang tersungkur kondisi badannya mulai melemah bahkan sangat lemah. Kepalanya terluka cukup dalam tepat dikeningnya. Martin, Jee dan Niko menghampiri Darel dan menghentikan perlawanan. "Bawa Rahel!" Teriak Jack dengan angkuhnya Mereka semua segera menarik tubuh Rahel dan membawanya dari sana, meski Marsha dan Kirana sudah berusaha menghentikan mereka tetap saja takkan bisa. Darel mencoba berdiri tegap ia tentunya tak ingin Rahel kenapa-napa. Ia tak sanggup jika harus melihat Rahelnya terluka. Darel berjalan lesu menuju kerumunan itu, mencoba melawannya dengan tangan kosong lagi meski sudah sangat lemah dia berjalan dia tetap berjalan. Darel bisa mengalahkan mereka, kini Rahel berada dihadapannya dengan tatapan yang kosong. Namun Darel masih tersenyum tulus meski kepalanya sudah di penuhi oleh darah. Darel sudah tak sanggup berdiri, dia melemah dan memegangi kepalanya sakit. Rahel menatapi nya iba tapi lagi-lagi dirinya menolak untuk menyentuh Darel. Namun Darel mendekat dan justru memeluk Rahel erat, entah kenapa tak ada dorongan dari diri Rahel untuk melepaskan Darel. "Berubah lah Rahel, aku mohon" bisiknya tepat ke telinga Rahel. Baju yang Rahel kenakan kini terkena noda darah Darel. Mereka semua yang melihat seakan kaku dan memilih diam begitu juga dengan temannya Jack. "Rahel, kabulkanlah. Setidaknya bukan untukku, tapi untuk ibu" bisiknya lagi ucapannya itu membuat tubuh Rahel sedikit bergetar. Pelukan Darel semakin melonggar  tangannya perlahan terlepas dari tubuh Rahel. Brukk Tubuh Darel tumbang, ia kehilangan kesadarannya seketika itu pula wajah Rahel semakin polos seakan ia sedang trauma berat. "Darel!" Teriak Martin yang segera berlarian kearahnya diikuti dengan yang lainnya. "Bos bagaimana ini?" Teriak teman Jack Jack nampak panik "Ayo cabut" tegasnya sambil berlari terlebih dahulu meninggalkan temannya, b******n bukan. Mereka berlari cepat terbirit-b***t, Niko menatapi nya sinis "Gua akan buat surat laporan untuk menangkap kalian!" Teriaknya dengan lantang   Jee nampak khawatir "Darel bangun, kau akan kuat" "Darel ayolah" risau Martin Kirana dan Marsha terlihat khawatir. "Ayo cepat bawa ke mobil! Dia harus segera ditangani dokter" ujar Marsha tergesa-gesa Mereka segera memboyong Darel kedalam mobil. Marsha dan Kirana mengikutinya. Namun Rahel masih terdiam dari posisinya tadi. "Rahel? Kau tak ikut?" Lamunan Rahel buyar seketika "Eh?" Bisiknya Marsha dan Kirana saling bertatapan bingung dengan ketua gengnya yang sekarang tiba-tiba terdiam kaku. "Kau ingin ikut atau tidak? Area disini bahaya" ajak Kirana "Gue ikut" jawabnya cepat Rahel berjalan seakan penuh masalah, fikirannya kosong. Dia tak percaya dengan apa yang terjadi barusan dihadapannya sendiri. Akankah Rahel kembali? Atau mungkin akan tetap dengan pendiriannya? Keadaan tiba-tiba menjadi tegang, semuanya nampak ragu untuk menelepon orangtua Darel. "Bagaimana ini" tanya Martin menatapi semuanya. Semuanya terdiam dan justru masih bergelut dengan fikirannya. Rahel? Dia masih saja terdiam sejak tadi, tatapannya kosong. "Menurut ku telepon saja tapi nanti setelah dokter keluar" Keadaan menjadi hening kembali, seseorang  dengan pandangannya yang masih saja kosong kini berdiri mematung. Fikiran Rahel melayang jauh, ia berfikir takkan menemukan lagi Darel apakah dirinya benar-benar salah? Itulah pertanyaan yang muncul dibenak Rahel. Ia menundukkan kepalanya dan berdoa dalam hati, agar Darel dapat diselamatkan dan kembali hidup dimuka bumi. Kali pertamanya gue merasa salah, dan gue harap loe bangun Darel. Hanya itu. Gue gak tau kelanjutannya akan bagaimana. Ujar Rahel dalam hatinya. "Ini teman-temannya pasien Darel?" Ujar seseorang suster yang baru saja datang menemui mereka Semuanya sontak kaget dan segera bangun dari kursi tunggu. "Iya" "Tuan Darel sudah menunjukan tanda-tanda kesadarannya. Mungkin beberapa menit lagi dia akan pulih" Ucapnya lagi dengan tersenyum "Doa kalian dikabulkan tuhan" Wajah demi wajah mereka nampak tak percaya saling menatapi satu sama lain, dan selanjutnya mereka tersenyum lebar. "Yeah! Aku yakin kau kuat Darel" teriak Martin "Darel kau memang sahabatku" teriak Jee Niko mendorong kepala Jee cukup keras "Jangan mendramatisir, kita cepat kesana!" Tegasnya Mereka semua berjalan cepat menuju ruangan Darel, tak terkecuali dengan Rahel yang tak bisa menghentikan dirinya yang begitu sumringah karena kesadaran Darel. Detik demi detik, mata Darel perlahan bergerak seakan-akan mengajak anggota tubuh lainnya untuk ikut bergerak. Senyuman mereka kian merekah bersamaan dengan menemani Darel dari samping. Kini mata Darel terbuka lebar, bola matanya kesana kemari nampak kebingungan dengan keadaannya yang tiba-tiba ada di sini. "Darel kau sudah sadar? Aku sudah menduganya kau pasti kuat" ujar Jee Darel tersenyum, namun sorot matanya kini terkunci di sosok yang berada di ujung sana, sosok yang sedari tadi memikirkan dirinya, sosok yang saat ini menatap Darel dengan tatapan kosong. "Ra-" "Rahel?" Jelas Darel yang memastikan apakah yang dia lihat kali ini bukan bayangan Rahel masih menatapi Darel kosong "Kau kesini? Untukku?" Ujar Darel lagi sumringah Kirana menatapi Rahel aneh "Rahel kenapa kau diam? Ingat, dia masih sakit jangan menyakitinya dengan ucapanmu ya?" Bisik Kirana Lamunan Rahel membuyar seketika "Eh oke. Iya gue jenguk lu" jawab Rahel Darel tersenyum "Aku bersyukur banget, kamu sudah ada perubahan meski sangat sedikit" Rahel nampak kaku "Eh gue buru-buru nih, gue cabut sekarang ya? Bay semua" tambah Rahel lalu bergegas keluar ruangan secepatnya "Rahel" teriak Darel Semuanya terdiam dan menyimak betul apa yang mereka saksikan dari tadi. "Aneh" desis Niko.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD