13

916 Words
Di pagi berikutnya Darel terbangun lebih awal, ia duduk santai dan menyantap roti tawar diisi selai kacang kesukaannya. Berbeda dengan ketiga temannya yang masih sibuk dengan mimpinya. "Katanya calon-calon ahli waris, sudah jam 7 pagi belum bangun. Gimana mengelola perusahaan?" Desis Darel Mood nya hari ini mulai kembali, setelah ia tahu apa yang harus dilakukannya lagi untuk menarik Rahel kembali. Apapun risiko nya ia akan tanggung, sudah sejauh ini dia berjuang takkan ia tinggalkan begitu saja cintanya. "Darel? Sudah bangun? Wih ada roti" Jee terbangun dan langsung berlari tatapannya fokus pada roti dan hendak mengambilnya Namun, tangan Darel tak kalah cepat ia segera menyembunyikannya di belakang tubuhnya. "Lha? Ko pelit sih" "Cuci muka dulu" jawab Darel enteng Jee membuang nafasnya berat lalu meleos pergi dari hadapan Darel. Di ujung sana Martin melakukan hal sama, matanya melotot kala melihat roti namun Darel bertindak lebih cepat. "Cuci muka dulu" lirihnya pelan penuh tekanan Martin tersenyum kikuk "Pantas si Jee cemberut" Darel segera berangkat kuliah, seperti di hari-hari biasa ia tak ingin telat masuk meski lewat 5 menit saja. Darel berangkat bersama Niko yang juga sudah siap, berbeda dengan Jee dan Martin. Darel mengendarai mobil dengan laju yang sedang. Niko yang berada di sebelahnya sibuk membaca buku kesukaannya, Ekonomi. Namun bayangan Niko selalu saja tertuju pada wajah Janet semalam dimana Janet tersenyum padanya. Oh tuhan, kenapa ini? Fikir Niko yang kebingungan dengan sikapnya sendiri. Darel sangat fokus melajukan mobilnya tanpa gangguan apapun dia tetap tenang dan damai meski kepalanya dipenuhi oleh Rahel. "Darel, bagaimana menurut mu tentang Janet?" Bisik Niko yang sedikit mengganggu fokus Darel. "Baik, sepertinya"                                               Niko memandang keluar mobil "Apa yang kubicarakan? Haduh mengapa dia selalu mengganggu fikiranku?" "Mungkin kau mencintainya" simpel Darel Niko mengusap wajahnya "Memangnya apasih cinta itu?" Polos Niko dengan wajah tampannya yang dipasang sepolos mungkin, tetap saja dia Niko yang eksotis dan tampan. "Aku tak tahu" "Lalu kenapa kau bisa mendefinisikan itu cinta?" "Aku tak tahu"   Niko membuang nafas beratnya "Hem" Sesampainya di kampus, Darel dan Niko segera menuju kelasnya. Di dalam sana sudah terlihat Martin dan Jee yang tersenyum cengengesan pada keduanya. "Lah? Ko bisa mereka duluan?" Darel menggeleng pelan seakan acuh. *** Sebisa mungkin Darel mencari Rahel, tanpa henti. Dia sudah melajukan mobilnya ke rumah sakit yang didiami ibunya, dia sudah ke basecamp AngelRide hingga beberapa kali ia mengecek apa Rahelnya ada disana tapi dengan hasil yang lagi-lagi nihil, dia tak tahu harus mencarinya kemana lagi. Darel merenung sejenak di sisi jalan yang agak sepi, kali ini ia tak ditemani Martin, Jee maupun Niko. Darel sengaja ingin sendirian mencari Rahel. Sehingga ia mengendap-endap pergi tanpa sepengetahuan mereka. Darel melihat seisi jalanan yang masih saja sepi tidak ada satupun kendaraan yang melintas, wajar saja jika Rahel memilih Basecamp untuk gengnya disini. Telepon Darel berdering, membuat pemiliknya sedikit terganggu. "Martin?" Darel mengabaikannya, pandangannya lagi-lagi ia arahkan keluar mobil. Namun sekali lagi, Martin meneleponnya. Darel mulai kesal, ia pun mengangkat teleponnya. "Darel? Kau dimana?" Ujarnya dengan nada yang rusuh "Memangnya?" "Jawab secepatnya! Dan kau harus segera pulang Darel! Cepat!" Jawab Martin lagi dengan tergesa-gesa Darel menengok keluar mobil "Aku sedang di Basecamp nya Rahel, mem-" "Haduh! Kenapa kau kesana? Cepat kembali, sekarang Jack dan kawannya sudah keluar dari penjara. Mereka mengincarmu! Dan itu semua Rahel yang bilang, dia sedang bersama kami" Rusuh nya lagi "Benarkah?" "Iya, Rahel disini. Aku tak tahu dia sudah berubah atau belum tapi yang pasti cepatlah kau pulang!" "Kalian jangan salah faham, gue cuma gak mau ada orang yang terluka" Darel mendengarnya, cukup jelas sekali. Darel menatap keluar mobilnya lagi, namun jalanan sekarang sudah tidak sepi sekerumunan orang membawa benda tajam berjalan menghampirinya. "Oh itu mereka" desis Darel perlahan "Maksudmu?" Tanya Martin kaget Darel menghembuskan nafasnya berat "Aku akan menjaga diriku, sebisa ku. Kalian tenang saja!" Enteng Darel "Darel, jangan bodoh lajukan mobilnya Darel deng-" tut...tut... sambungan teleponnya putus sengaja dilakukan oleh Darel. Darel mulai menyalakan mobilnya, tapi terlambat. Beberapa oranh dengan wajah sangar sudah berada di depan mobilnya. "s**t" desis nya pelan Darel tak terlihat panik sedikitpun, lagi-lagi ia menghadapi masalah dengan wajah yang tenang tanpa beban. "Keluar lu anjing" teriak seseorang Jack menatap Darel sangar "Keluar! Atau kita hancurkan mobil lu" Darel menatapnya biasa "Siapa sih" desisnya lagi acuh dengan senyumannya yang menyungging Brakk! Kaca depan mobil Darel di hantam oleh palu besar hingga membuatnya pecah. Pembuluh darah Darel mulai naik, emosinya juga meluap-luap. "Kurang ajar!" Darel keluar dari mobilnya, menatap Jack dan kawanannya dengan tatapan marah. "Apa? Gue gak takut ya CEO" Darel menarik kerah baju Jack tubuh Jack yang tak bisa menahan langsung terhempas dijalanan cukup keras. "Siapa lagi" desisnya Anak buah Jack murka, mereka berlarian menuju Darel dan hendak ingin menyerangnya dengan benda tajam. "Kalian laki-laki bukan? Satu lawan satu bro. Kalau kalian cewek its oke itu akan lebih mudah untukku" teriak Darel dengan senyuman sombongnya. Mereka mengabaikannya. Pukulan pertama di tangkis langsung oleh Darel dan menyerang balik lawan, begitu juga pukulan keduanya, berlangsung sampai pukulan keenam Darel menyerang balik lawan namun belum selesai dengan orang keenam, justru seseorang menyerang langsung bagian d**a Darel hingga membuat Darel tak bisa melawan, membuatnya tersungkur dijalanan. "Oh lihatlah calon CEO ini wajar tak bisa berkelahi dia hanya bisa membaca buku bisnis" ucap Jack dengan tawa yang nyaring Darel berdiri tegak dan merapikan bajunya "Lawan saya!" "Satu lawan satu!" "Siapapun yang menang! Berhak mendekati Rahel dan yang kalah pergi dari dunia Rahel selamanya" "Kenapa diam? Tak bisa berkelahi atau?" "Kau seorang wanita?" Rahang Jack mengeras "Kurang ajar!" Selama aku masih bisa berdiri, takkan ada yang bisa melukaimu satu orangpun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD