12

1003 Words
Rumah Darel. Semuanya sibuk dengan gaya renangnya, di kolam renang pribadi milik Darel. Sementara Darel hanya terdiam sambil memakan buah-buahan yang disediakan di meja. Darel memang seharus nya sudah berenang bersama temannya, tapi dia memilih diam meski sudah siap untuk berenang. "Rahel, bagaimana caranya supaya kau bisa kembali?" Lirih nya pelan Fikiran Darel selalu tentang Rahel, setiap saat ia selalu mengkhawatirkan Rahel meski sebelum ia bertemu dengannya. Namun waktu yang Darel telah tunggu-tunggu malah tak sama dengan apa yang diharapkannya. Lagi-lagi orang yang disayanginya justru menyakitinya, padahal Rahel lah alasan Darel hidup dengan segala tekanan yang dialaminya. Waktu menjelang sore, semuanya telah membersihkan diri dan berpenampilan rapi. Darel yang masih saja terdiam akhirnya beralih pandangan memerhatikan ketiga sahabatnya. "Mau kemana?" Tanya Darel terlihat kaget "Ada party!" Jawab semangat Jee Darel mengerutkan keningnya sambil menatapi Niko yang tak biasanya dia tertarik dengan keramaian. "Kenapa?" Tanya Niko Darel mengambil nafasnya dalam-dalam "Setau ku, kau tak pernah menyukai keramaian? Kenapa tiba-tiba mendadak ingin ikut?" Niko tersenyum nampak menyembunyikan sesuatu "Karena ini party Janet, teman SD ku dulu. Sebelumnya waktu Niko dan Janet bertemu, tanpa sengaja di perpustakaan umum dan setelah nya aku tak tau apa yang terjadi pada mereka, mungkin Janet menarik perhatian Niko" jawab Martin sesegera mungkin "Setiap Martin menceritakan Janet, disitulah Niko tiba-tiba tertarik dengan wacana kami" tambah Jee Martin dan Jee saling merangkul "Bukankah itu jatuh cinta?" Seru keduanya sambil tertawa renyah Niko seketika memerah, apalagi tatapan Darel nampak sama dengan Martin dan Jee. "Ak-aku tidak menyukainya, kami cuma berteman" jawab ragu Niko "Jangan tunda lagi Niko, kalau ada yang mendekati Janet lalu mereka pacaran apa kau akan diam? Kurasa tidak, karena Niko yang kukenal dia itu pekerja keras dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Masa untuk Janet kau tidak bisa melakukan itu?" Panjang lebar Jee Niko terdiam dan nampak berfikir "Sudah kubilang kami hanya berteman" tegasnya lagi Martin tersenyum "Kau terlalu lemah dalam urusan cinta!" "Lihat kami berdua! Untuk masalah perempuan kami sangat mudah mendapatkannya. Yakan martin?" Ujar Jee dan menatapi Martin dengan senyum nakalnya. "Sudahlah, berhenti meledeknya. Berangkat saja! Berisik" ujar Darel. Niko tersenyum "Ocehan mereka memang tidak bermutu" Martin mengabaikannya, sementara Jee "Memangnya kau tidak ingin ikut?" Ujarnya menatap Niko sinis Niko hanya menolehnya sejenak "Memangnya kau ingin aku berhenti mengerjakan tugasmu? Dan mengatakan pada ayahmu kau tak pernah serius dalam belajar?" Skak, Jee langsung terdiam diikuti dengan pekikan senyuman Martin yang membuat Jee semakin kesal saja. "Kenapa? Kau ingin aku bilang ke Kirana kemarin kau bersama wanita lain?" Tegas Jee tepat diwajah Martin Darel tersenyum "Sekalian saja buka acara gosip buka aib teman!" Tambahnya datar Mereka bertiga sontak tertawa bersamaan. "Kau yang mulai Niko" "Eh kenapa aku?" Martin memukul kepala Jee cukup keras "Jangan melawan ayah!" "Sudah-sudah! Sebaiknya kita berangkat sekarang, acaranya akan segera dimulai" desis Niko Martin membawa kunci mobilnya diatas meja "Ayo!" Jee nampak kebingungan menatapi Martin "Kenapa kau begitu buru-buru?" "Kirana menunggu ku, kau ingin aku menghadapi macan semalaman? Aku duluan" jawabnya sambil pergi Niko tersenyum "Kau bersama ku?" Tanya nya pada Jee Jee mengelak "Eh sembarangan, aku juga akan jemput Marsha makannya tadi bawa mobil masing-masing! Kau ajak Darel saja!" "Aku tak ikut" tambah Darel cepat "Untuk malam ini kau ikut kami Darel! Kami kan selalu mengantarmu kemana-mana!" Bujuk Jee "Lagian kasian Niko kalau harus berangkat sendirian" tambahnya lagi "Kenapa kasian?" Jee mengambil nafasnya dalam-dalam "Dia tidak tahu menghadapi wanita, apalagi kalau dia berangkat sendirian dia akan sangat gugup dan tidak percaya diri. Percayalah dia tidak akan datang jika hanya sendirian, jadi bisakah kau mengantarnya?" Niko memukul kepala Jee keras "Aw, lagi-lagi dipukul" lirih Jee menatapi Niko marah "Baiklah, aku akan siap-siap" ujar Darel     Party Janet. Semua orang sibuk mendengarkan alunan musik yang sedang dialunkan oleh seorang DJ ternama. Darel dan Niko yang baru saja datang menatap tidak begitu suka acaranya, mereka sangat tidak suka kebisingan. "Sebaiknya kita pulang" desis Darel Tangan Niko memegangi bahu Darel menyuruhnya untuk berhenti melangkah, dengan wajah kasian dari Niko mampu membuat Darel kembali mengalah untuk sahabatnya. "Oke" Acara pun dimulai cukup meriah, semua orang datang dengan pakaian glamor dan rapi. Janet si penakluk hati Niko kini muncul dihadapan semua orang dengan senyuman manisnya, dia sangat anggun dan lemah lembut. Niko tak berhenti menatapnya. Hal itu disaksikan langsung oleh Darel. "Andai kau seperti dia Rahel" Acara berlangsung semalaman, Darel hanya duduk bersama Niko sebenarnya dia segera ingin pulang tapi Niko lagi-lagi menghentikannya. Sementara itu Martin dan Jee sedang bersama kekasihnya disudut sana. Niko menunggu Janet menghampirinya dan benar saja Janet terlihat berjalan kearahnya dengan senyuman manisnya. Niko sontak merapikan diri dan membalas senyumnya. "Oh, look" ujar Darel Janet terlihat berjalan berdua dengan sahabatnya yang cantik dengan aura anggunnya. Mereka kini semakin dekat menghampiri Darel dan Niko. "Hemm, hai?" Sahut Janet sedikit gugup menyapa Niko Niko tersenyum kaku "Hai?" Janet menunjukan seseorang "Kenalkan dia teman ku, Nella" "Nella" ujarnya dengan senyuman "Niko" Sementara Darel hanya terdiam dan nampak sangat acuh. "Darel" bisik Niko Membuat Darel menoleh dan akhirnya tersenyum kaku. "Darel" ujarnya perlahan Mereka akhirnya bercengkrama, kecuali Darel yang hanya mendengarkan saja dengan senyuman yang sedikit menghargai obrolan mereka yang menurutnya tidak penting. Pukul 22.00 malam mereka pulang dan memilih berehat di rumah Darel. Niko dan yang lainnya juga bermalam disana. Niko memandangi Darel yang terus saja terdiam sejak tadi, membuatnya bersimpati. Fikiran Darel masih tentang Rahel, ia mengumpulkan segala cara agar bisa mendapatkan cintanya lagi. "Darel?" Darel menoleh dengan tatapan datar "What?" "Kenapa sih gak coba aja lupai dia, aku takut kamu semakin tertekan jika berlarut-larut seperti ini" Darel tak bergeming, ia justru kembali menatap langit malam yang cukup indah. Jee dan Martin saling bertatapan. "Dia mulai lagi, aku fikir setelah kau membawanya ke pesta dia akan menemukan wanita lain dan melupakan Rahel" bisik Jee pada Niko Martin mendekati Darel "Bro, sudahlah jangan di fikirkan. Cinta mu pasti akan padamu, takkan berpaling sekalipun saat ini dia sedang berkeliaran mencari dunia nya sendiri, cintamu akan tetap kembali ingat!" Jee melotot tak percaya dengan ucapan yang Martin lontarkan baru saja "Wah gombalnya kambuh, pantas saja wanita nya banyak" "Oke thank's" jawab Darel  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD