Sore hari.
Seperti biasa ketiga teman Darel main di rumah Darel, tak seperti saat Darel SD-SMP-SMA dia tak memiliki satu orang sahabatpun yang main ke rumahnya.
Benar seburuk apapun orang tua takkan seburuk seorang anak. Darel bersyukur saat ia sadar kehadiran mereka membawanya menjadi lebih kuat dan tegar menjalani semua. Menjadikannya juga lebih semangat untuk meraih hati Rahel.
Martin dan Jee bermain Billiard, sementara Niko membaca buku tentang perekonomian buku yang sama seperti kesukaan Darel. Namun saat ini Darel lebih memilih memainkan piano seakan-akan ingin lebih tenang, damai.
"Ah sudah aku bilangkan kau akan kalah" teriak Jee menatapi Martin dengan tatapan bodohnya dan senyum bodohnya
Martin tak terima, ia melemparkan bola tepat ke wajah Jee. Membuat Jee kesakitan dan melempar balik Martin dengan bola.
"Dasar bocah! Diam kali lah" teriak Martin menatapi Jee kesal
Berbeda dengan Jee yang justru kegirangan "HaHaHa katakan saja kau takut pada ku" teriaknya dengan gelak tawa yang menggema diiringi alunan musik yang Darel timbulkan
"Hentikan bodoh!" Tegas Niko menatapi keduanya kesal
Jee dan Martin saling menatap, keduanya saling memegangi bola dan langsung melemparkannya ke wajah Niko. Membuat Niko segera melompat dan otomatis buku yang dipegangnya jatuh. Niko terlihat kesal dan membalas keduanya dengan lemparan bola yang justru lebih tepat sasaran. Semuanya tertawa nyaring, tak terkecuali dengan Darel yang sangat terhibur dengan kekonyolan teman-temannya.
Setelah lama bermain lempar bola, mereka semua kelelahan dan tersungkur dilantai berkarpet tebal. "Haduh sudah-sudah aku mengalah" teriak Martin dengan nafas yang tak teratur
"Niko dia yang mulai! Berarti dia harus mampus" Teriak Jee yang kemudian menduduki tubuh Martin diikuti dengan Niko membuat Martin tambah eungap. Tak mau ketinggalan Darel juga meninggalkan pianonya dan ikut menumpuk tubuh Martin dibagian teratas.
"Hentikan! Ketampananku bisa hilang" teriak Martin dengan suara yang tak begitu jelas
Semuanya tertawa begitu lepas, tak pernah menyangka di usia mereka yang sudah cukup matang mereka masih mendapat kesenangan seperti di masa mudanya. Berbeda dengan Darel yang pertama kalinya mendapat suasana seperti ini dihidupnya.
"Darel bagaimana rencanamu untuk Rahel?" Tanya Niko
Martin mengerutkan keningnya "Sejak kapan kau peduli tentang asmara? Apa dia sudah normal?" teriaknya pada Jee
Jee nampak curiga menatapi Niko "Hah? Sepertinya begitu?" Ujarnya sambil memperhatikan setiap inci dari wajah Niko
Niko mendengus sebal "Karena Darel itu harus kita dukung! Inikan perjuangan cinta pertama nya? Jadi apa salahnya aku bertanya" ketusnya sebal
"Haha dia seperti perempuan saja" ujar Martin
Diikuti dengan Jee "Dia sedang PMS"
"Sudahlah, kalian mau kapan bersikap dewasa?" Ujar Niko
Martin dan Jee saling tatap "Kami sudah dewasa! Kami berdua sudah punya pacar! Cantik, Sexi uhh" jelas Martin karena hanya dia disini yang omes
"Benar" tambah Jee membela
Niko menutup muka dengan bukunya "Darel sudah lupakan mereka! Anggap aja gak ada! Bagaimana rencanamu selanjutnya?"
Darel nampak berfikir, berbeda dengan Jee dan Martin dan menatapi Niko kesal. "Sepertinya besok, hari ini biarlah dia tenang dulu tanpaku" desisnya pelan
"Oke"
Jee berpindah alih ia mengotak-atik ponselnya "Wihh dari tadi ada chat dari Marsha sayang" desis nya
"Jee umpetin, Niko entar lihat chatan kalian. Wajarlah jomblo cuma bisa ngayal" teriak Martin sambil menatapi Niko dengan wajah curiganya
Niko membelototi keduanya "Sudahlah terserah kalian, saya sudah lelah berteman dengan kalian" jelasnya
"Emangnya kita gak lelah Niko? Udah nyomblangin beberapa cewe sama kamu tapi gak ada satupun yang klop" tambah Martin
"Sstttt" desis Jee
Semuanya terdiam "Ada apa?" Tanya Niko
"Marsha bilang dia sudah tahu tempat balapannya Rahel" jelasnya
Darel nampak biasa saja "Tak perlu tempat balapan! Pertama kita akan datang ke tempat basecampnya besok" ujarnya
Basecamp AngelRide.
Darel dan Niko, Martin dan Jee membawa mobil sport ke area basecamp AngelRide. Hal itu sontak membuat semua wanita yang sedang diluar basecamp menatapi nya tak henti-henti.
Darel keluar bersama dengan Nick, seperti biasa Darel dengan gaya nya yang menawan, rambut coklatnya yang berantakan namun menambah auranya. Membuat siapa saja ingin mendekat untuk mencubit pipinya.
Niko yang terkesan sangat rapi dan terlihat begitu disiplin. Jee yang seperti biasa, ia terlihat paling muda diantara semuanya, meski rambutnya diikat. Dan terakhir Martin, Tatanan rambutnya berponi dan pirang, style Martin terlihat seperti style ala korea.
Mereka memasuki Basecamp dengan percaya diri, tak ada satu pun yang menghalangi semuanya.
Hingga tepat di pusat Basecamp, Darel melihat Rahel dikelilingi oleh wanita-wanita yang sedang meminum mabukan. Termasuk Marsha sang pujaan Jee.
Hal itu membuat Jee langsung mendekati kekasihnya dan langsung memeluknya erat. "Marsha? Jangan terlalu banyak minum" jelasnya
"Ahh-apa sayang? Masih ma-mau!" Desisnya lalu tertunduk ditubuh Jee
Martin menggaruk kepalanya yang tak gatal "Untung Kirana tak ada disini" desisnya
Darel langsung mendekati Rahel, lalu memeluknya erat sangat erat. Rahel terkejut hingga beberapa detik ia justru terdiam tak bereaksi, membuat semua orang yang sadar tak menyangka dengan sikap Rahel yang berbeda.
"Aku harap kamu tak seperti mereka! Meski kau ketuanya!" Tegas Darel pada Rahel yang masih dalam pelukannya
"Lepasin!" Teriak Rahel lalu mendorong tubuh Darel
Darel mendekat kembali lalu menatapi Rahel dalam "Aku ingin kau kembali padaku Rahel!" Teriaknya
Rahel membuang muka "Bukannya sudah gue bilang kan? Jangan berani mendekati gue lagi!"
Darel tak bergeming, ia sangat tidak memperdulikan ucapan Rahel barusan. Darel kembali memegangi bahu Rahel dan menatapnya serius. "Rahel, aku ingin kau bersama ku ya? Aku juga ingin ibu dirawat oleh kita" desis Darel perlahan.
Rahel tak habis fikir dengan sikap Darel yang benar-benar keras kepala "Gue bilang jangan deketin gue woy!" Teriaknya tepat diwajah Darel lalu mendorong tubuhnya lagi.
Darel tersungkur karena dorongan dari Rahel yang sangat kuat.
Kampus.
Seperti biasa Darel, Niko, Jee, dan Martin sudah datang ke kampus. Mereka saat ini sedang duduk di halaman sekolah perhatian semua mahasiswi selalu pada mereka.
Namun Darel dan Niko selalu mengabaikannya, berbeda dengan Jee dan Martin yang tersenyum.
"Apa kalian sudah menyiapkan skripsi?" Tanya Niko menetralisir keadaan yang tiba tiba hening
Jee tak menghiraukannya, sementara Martin lagi-lagi tersenyum. "Kenapa kau membahasnya? Bukannya kemarin kita sudah selesaikan?"
Niko terdiam dia sudah kehilangan ide untuk mencari topik pembicaraan agar Darel terhibur. "Bagaimana rencanamu selanjutnya untuk Rahel?" Celetus Jee dengan tampamg bodohnya
Niko menutup matanya rapat dan memukul keningnya pelan. Jee selalu saja membuatnya gagal menjalankan rencana. Darel terdiam sepertinya dia memang sedang memikirkan sesuatu.
Derai angin menghampiri rambutnya perlahan, membuat keadaan menjadi sangat hening. "Aku akan diam"
Jawaban dari Darel membuat ketiga temannya sontak kaget "What? Apa yang kau katakan?" Tanya Martin
Darel hanya terdiam, sementara Jee memikirkan apa yang dimaksud Darel. "Apa kau yakin?" Tanya Niko
Darel merapikan rambutnya perlahan "Untuk beberapa saat" tambahnya lagi
Membuat ketiga temannya itu lega, karena pada hakikatnya seorang pria harus berjuang demi mendapatkan seorang wanita apalagi Rahel cinta pertama Darel.
"Itu baru laki" ujar Martin memukul bahu Darel perlahan, di ikuti dengan pukulan dari Jee.