10

1177 Words
EPISODE 10   Di luar sana Rahel hendak memakaikan helmnya, namun tatapan dan fikirannya tiba-tiba saja kosong. Jujur, hatinya terasa sesak dan sakit. Darel pulang ke rumah megahnya, diantar oleh kedua temannya. Yang selalu saja ada untuknya, berbeda dengan niko yang tidak tahu tentang insiden yang terjadi pada Darel. Namun, saat tadi Jee akan mengantar Darel pulang terlebih dahulu dia menghubungi Niko untuk mengabari insiden yang terjadi pada Darel malam tadi. Darel masih membaring lemah diatas tempat tidur mewahnya, segala mewah. Martin dan Jee saling tatap sambil terus memikirkan bagaimana rencana Darel selanjutnya. Martin nampak terlihat khawatir kala melihat Darel yang masih diam dari tadi "Sudah lah jangan terlalu difikirkan!" Celoteh Martin menguatkan Darel tak bergeming, ia justru menutup matanya rapat-rapat dan begitu tenang. "Bagaimana ini?"  Desis Jee dengan wajah bodohnya, Martin menggeleng bingung. "Haduh memang benar rumor tentang Darel! Dia sangat dingin; sedingin aku tanpa Marsha!" Kekeuh Jee sambil tertawa lepas, Martin memutar bola matanya sebal disaat seperti ini dia justru mengoceh dengan lelucon bodohnya. Tak lama, Niko datang dengan membawa buah-buahan. Dengan raut wajah yang khawatir Niko nampak menatapi Martin dan Jee marah. Saat ia datang ia langsung menarik kerah baju Jee dan menatapinya marah, hal ini membuat Martin langsung refleks untuk memisahkan. Darel hanya menanggapinya dengan tatapan datar, lalu kembali menutup matanya tenang. "Pasti semua ini karena kelakuan bodoh kalian kan?" Tegas Niko. Martin menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Haduh bertambah lagi masalah" "Jawab bodoh! Apa yang kalian lakukan hingga membuat Darel seperti ini?" Tegas Niko lagi Jee melepaskan kerah bajunya dari cengkraman tangan Niko "Ayah! Jangan melakukan KDRT dong sama anak sendiri, dengarkan! Ini semua karena kelakuan si Jack dan geng HardRide nya" jelas Jee Niko menatapi keduanya datar "Lalu kenapa kalian tidak menolong Darel?" "Mana mungkin bisa menolong, toh geng si Jack lebih dari belasan orang!" Jawab enteng Martin Jee mengangguk "Benar, kami langsung menghubungi polisi saat itu" Niko mulai memahami semuanya, memang seperti inilah sikap Niko. Tegas, dan tidak pernah bercanda untuk hal apapun. Darel bergeming "Sudahlah, semuanya sudah terjadi kan?" "Benar, tapi lain kali jangan buat kekacauan hingga membuat teman sendiri jadi korban! Fikirkan dulu sebelum bertindak, bisa-bisa Nyonya Lusi marah padaku" jelas Niko membuat Darel mengerti Darel kembali menutup matanya "Orang tua itu hanya bisa mengatur, tidak mendidik" Niko duduk di samping Darel "Bukan seperti itu Darel, tujuan utama mereka hanya ingin membuat semua keturunannya hidup bahagia kelak tanpa harus bekerja keras" jelasnya lagi "Baiklah, terus saja bela mereka. Lagiankan aku tidak akan melanggar peraturan ErikLusi" jawabnya enteng Martin dan Jee tersenyum "Dia selalu saja menasehati" kekeuh Martin sambil tersenyum Diikuti suara tertawa dari Jee, Niko mulai marah dan mendekati keduanya lalu melemparkan guling-guling pada wajah mereka. Diikuti suara tertawaan dari semuanya, kecuali Niko. Darel pun tersenyum meski hanya sepintas. Kampus. Martin dan Jee berangkat lebih awal, berbeda dengan Niko yang berangkat menemani Darel yang kemungkinan belum sembuh sepenuhnya. Martin dan Jee memulai membaca buku-buku di perpustakaan, ketenaran mereka berempat kadang membuatnya kesulitan untuk bergerak. Namun jika mereka berangkat lebih awal, setidaknya tidak terlalu banyak orang untuk mengerumuninya. Bahkan saat ini mereka membaca buku di perpustakaan pun, diikuti oleh ketiga orang wanita sejak tadi dan merengek-rengek meminta foto. Sebenarnya hal itu membuat Martin dan Jee geram. "Ayo kita ke kelas, kemungkinan Darel dan Niko sudah sampai" ucap Martin, Jee mengangguk lalu segera melangkahkan kakinga pergi. "Kak! Minta foto dulu" "Kak martin! Kamu ganteng bangetss! Minta foto dong buat SW aku hari ini" "Kakak!" "Ih kakak belagu amat!" "Mereka lagi sibuk kali" Sesampainya mereka di kelas, benar perkataan mereka. Darel dan Niko sudah sampai di kelasnya. Mereka terlihat duduk dan mengotak-atik ponselnya masing-masing. "Hai" seru Martin pada keduanya "Hai" jawab Niko diikuti dengan senyuman dari Darel Martin dan Jee pun duduk di samping mereka berdua. Kelas berlangsung lama, hingga tak terasa waktu pulang telah tiba. Mereka berempat berjalan menuju parkiran. Namun beberapa orang wanita datang menemuinya, bukan dari fans mereka. Tetapi seseorang yang Darel kenali, justru yang Darel cintai, Rahel. Senyuman dari wajah Darel memgembang, terlihat begitu ceria meski saat ini perban dikepalanya masih dia kenakan. "Rahel?" Tanya nya Namun lagi-lagi respon dari wanita itu terlihat marah dan tidak terlihat senang sedikitpun. "Puas loe? Sekarang jalanan tempat gue balapan udah ditutup! Puas heuh?" Teriak Rahel tepat di depan wajah Darel "Santai dong! Dia masih sak-" ucapan Jee terpotong saat Darel memberikan aba-aba untuk diam Darel tersenyum manis tidak dikurangi sedikitpun "Jadi, apa yang bisa aku bantu untuk kamu?" Tanya nya penuh kelembutan Rahel terdiam sejenak dan tersenyum menyungging "Enteng banget buat lo! Dasar anak mami! Fikir dong, jalanan disana itu bisa bikin penghasilan buat kita dan setelah loe panggil polisi kesana jalanan disana semuanya ditutup" tegas Rahel Darel memegangi bahu Rahel berusaha untuk membuatnya tenang, karena bagaimanapun juga Rahel sangat berarti untuk Darel apapun yang dikatakannya. "Tenang, aku akan membantu mu mencari pekerjaan di perusahaan" Ujar Darel masih dengan penuh kelembuatan Rahel menepis tangan Darel dengan kasar "Sorry, itu dunia loe! Bukan dunia gue!" Jelas Rahel "Jaga omongan kamu ya!" Tegas Niko memperingati Darel menarik nafasnya dalam-dalam "Lalu apa keinginanmu?" Rahel menatapi Darel serius "Mulai sekarang jauhi gue! Atau kita bisa buat loe lebih dari ini" tegasnya sambil menunjuk kepala Darel Martin mulai terpancing emosi sehingga dia mendorong tubuh rahel hingga tersungkur. "Jaga omongan loe!" Tegasnya Darel menatapi Martin tak suka, lalu membantu Rahel untuk berdiri, dan lagi-lagi rahel menepisnya. "Gak perlu" ucapnya sinis "Ayo kita pergi" seru nya pada gengnya "Dan jangan lupakan perkataan gue" tambah Rahel memperjelas Rahel pergi bersama teman-temannya. Lagi-lagi Darel mendapatkan luka yang serius dihatinya, meski apapun yang terjadi dia pasti akan menanggung segalanya hanya untuk Rahel. "Dia sudah kurang ajar Darel" tambah Jee, perkataan Jee tidak diterima oleh Darel hingga ia menatapi Jee sinis dengan kedua alisnya yang mengerut. "Jangan mengatakan hal buruk tentang Rahel, satu kata pun" tegasnya lalu pergi memasuki mobilnya. Martin, Jee dan Niko tak habis fikir dengan Darel. Mereka saling menatapi dan terlihat penuh kekhawatiran. "Mau bagaimana lagi?" Tanya Niko lalu pergi   "Yang penting kita selalu ada di sisi Darel, apapun keadaannya" tambah Martin lalu Jee mengangguk-angguk tanda menyetujui. Darel merasa kesal dengan perlakuan Rahel, meski sebenarnya hatinya selalu berusaha bertahan untuknya dan akan selalu seperti itu. Sesampainya di depan mobilnya, Darel memukul keras mobilnya hingga terdengar suara cukup jelas terdengar. Jee, Martin dan Niko terkejut melihat Darel yang sudah diluar batas kesabarannya. Niko memegangi bahu Darel "Tahan emosi mu Darel, dengan emosi semuanya takkan berakhir baik" Darel mengerutkan keningnya "Mau bagaimana lagi? Dia sekarang melarang saya untuk menemuinya." Tegasnya Martin nampak berfikir "Buat apa mendengarkan dia Darel? Toh dia juga gak mendengarkan kamu?" Jelas Martin memperjelas, hingga Darel nampak berfikir lalu tersenyum. "Benar katamu" desis Darel sambil tersenyum Jee tersenyum bodoh pada Martin "Woy! Sejak kapan otak anda jalan?" Tanya nya pada Martin dan memegangi kepala Martin Martin menatapi Jee dengan aneh wajah datar nya mulai nampak dan kesal, membuat tawa Jee semakin pecah. "Sudah-sudah kalian ini seperti anak kecil saja!" Tegas Niko yang lalu mengikuti Darel memasuki mobil Jee dan Martin saling bertatapan "Kalimatnya selalu saja itu, monoton" ujar Martin Jee tersenyum "Sebelum besar kan kecil dulu, ayah" teriaknya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD