bc

Goyang Ranjang Sumarni

book_age18+
6
FOLLOW
1K
READ
billionaire
revenge
decisive
heir/heiress
blue collar
bxg
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

Sumarni bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Setiap harinya dia mendapatkan perlakuan kejam dari nyonya rumah. Rasa sakit yang diberikan oleh majikannya sudah menggunung, sehingga melahirkan dendam di hati Sumarni. Dia bersumpah akan membalaskan dendam dengan cara yang amat menyakitkan."Jilat kaki saya kalau memang kamu ingin pulang kampung!" perintah sang Nyonya angkuh seraya memasang senyuman merendahkan.Sumarni meneteskan air matanya. Dia menangis sesenggukan mendapatkan perlakuan kejam dari sang majikan. Ibunya di kampung dikabarkan meninggal, dia harus segera pulang agar bisa melihat wajah sang ibu untuk terakhir kalinya.***"Aku Sumarni, bersumpah akan membuatmu merasakan penderitaan dan penghinaan kejam di masa depan!" tekad Sumarni sudah bulat. Dia akan membuat majikannya merasakan neraka dunia.Langkah pertama ia ambil dengan cara membuat Tuan Besar di rumah megah itu jatuh hati padanya. Tak hanya itu, Sumarni berencana menggaet semua pria yang ada di rumah besar itu.Akankah, dendam Sumarni terbalas?

chap-preview
Free preview
Bab 1
“Ah!” “Ah!” Suara jeritan kedua insan yang sedang memadu kasih di atas ranjang menggema ke seluruh ruangan kamar. Kedap suara menguntungkan keduanya untuk meluapkan rasa nikmat dengan mendesah tanpa takut ada orang yang mendengar. “Mau keluar!” “Keluar bareng!” Sang wanita ambruk di atas tubuh pria berumur yang masih gagah, karena pola hidup sehat dan olahraga setiap hari. Perbedaan usia cukup jauh, tetapi tak membuat hasrat mereka lemah. “Jepitanmu selalu kuat. Saya suka itu,” bisik sang pria serak membuat wanita muda itu tersenyum penuh arti. Keduanya melakukan hubungan terlarang. Lebih tepatnya si pria adalah suami majikan si wanita. Sumarni namanya, dia adalah seorang pelayan di rumah besar keluarga Darmawangsa. Dia sudah bekerja hampir dua tahun lamanya di rumah tersebut. Setiap hari mendapatkan cacian dan makian dari nyonya rumah membuat Sumarni menumpuk dendam dalam hati. Sumarni ingin berbicara, tetapi suara dering ponsel pria bernama Damar itu berbunyi. Dia menghela nafas berat, lalu segera menerima panggilan. “Baik, aku ke sana.” Setelah mengatakan itu Damar mengakhiri teleponnya. Sumarni menatap wajah kesal sang tuan. Tangannya terulur membelai pipi Damar dengan lembut. “Ada apa?” tanyanya lembut dengan nada menggoda. “Lilia sudah pulang. Sekarang aku harus menjemputnya di bandara.” Damar mengelus d**a Sumarni lembut. Berat rasanya setelah bercinta harus keluar rumah. Namun, sang istri telah memberi titah dia harus segera beraksi. Sumarni memajukan bibirnya kesal. “Apa tidak bisa kalau mang Ujang saja yang jemput?” “Kamu tau sendiri bagaimana karakter Lilia. Dia pasti marah dan saat pulang nanti pasti akan ada banyak barang hancur dan kamu harus membersihkannya sampai bersih,” jelas Damar datar membuat Sumarni paham. Lilia memiliki watak keras dan tak berperasaan. Dia tidak bisa memanusiakan manusia, Sumarni tahu betul itu. Tangan wanita muda terkepal erat. Dia masih mengingat jelas perlakuan buruk yang dilakukan Lilia padanya. Dendam dalam hati membara pesat bila mengingat kala itu. *** Masa lalu. Suara pecahan kaca menggema di ruang tamu rumah mewah. Sumarni cuma bisa menutup mata dan telinga saat pot bunga dilempar ke arahnya. Untung saja lemparan tersebut meleset, sehingga kepalanya tidak terluka. “Dasar bodoh! Sudah berapa kali aku bilang untuk membersihkan pasirnya Miko. Lihat sekarang! Gara-gara kamu tidak membersihkannya. Miko pup sembarangan di lantai!” teriak Lilia murka. Sumarni membela diri dengan penuh ketakutan. “Maaf, Nyonya. Dua jam yang lalu saya sudah mengganti pasirnya dengan yang baru. Kemudian, saya lanjut memasak, saat saya mau mengganti pasirnya lagi, nyonya menyuruh saya membuatkan jus untuk tuan Andrian.” Wanita muda itu berusaha setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang sedari tadi. Dia tidak berbohong sama sekali. Tangan cuma dua dan dia melakukan banyak pekerjaan setiap harinya. Pelayan senior dilarang membantu. Dari pertama bekerja, Lilia memang sudah membenci Sumarni. Alasannya cukup mencengangkan, karena Sumarni memiliki postur tubuh yang menggoda bak gitar Spanyol. Lilia merasa kalah dan ingin sekali memecat Sumarni, tetapi tak bisa. Karena gadis desa ini dipekerjakan langsung oleh mendiang mertuanya. “Halah, banyak alasan kamu. Sebagai hukumannya kamu bersihin kolam renang sampai bersih!” titah Lilia dengan nada tinggi. Sumarni memberanikan diri menatap Lilia. Wajahnya dapat menunjukkan penolakan, dia sudah bekerja dari pagi, hingga sore tanpa istirahat. Makan siang pun belum sempat saking padatnya pekerjaan. “Tapi, Nya. Jam kerja saya sudah berakhir satu jam lalu,” cicit Sumarni pelan. Lilia tak menjawab, melainkan tangannya bergerak cepat meraih pot bunga kaca yang lain lalu dilempar ke dinding. “Bersihkan kolam renang sekarang atau kepala kamu aku buat kayak gelas itu!” tukas Lilia dengan tatapan iblis. Sumarni mengangguk kepala lalu segera beralih menuju kolam renang. Air mata mengalir membasahi pipi, lelah hati dan fisik bekerja di rumah Darmawangsa. Ingin rasanya berhenti, tetapi tak bisa. Gaji yang didapat sangat besar. Cukup untuk menyekolahkan sang adik di sekolah elite. Sumarni selalu mengingat adik lelakinya di kampung halaman. Dia bertekad untuk membiayai pendidikan sang adik agar punya ilmu dan ijazah sarjana, hingga bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih mulia dan hebat. Jangan sampai jadi pembantu sepertinya. “Aku harus kuat.” Sumarni menepuk dadanya pelan. Dia menarik dedaunan yang ada di atas permukaan dengan alat khusus. Belum makan dari siang dan memaksakan tubuh untuk tetap bekerja membuat Sumarni dilanda kelelahan. Keringat bercucuran membasahi leher dan kening. Bibir pucat mengering, pandangan perlahan buram. Pada akhirnya, dia tunduk pada rasa lelah. Tubuh cantik itu tumbang ke dalam kolam. Aku lelah … Bapak, pundak Marni sangat berat. Tak berselang lama seseorang masuk ke dalam air. Berenang dengan cepat meraih tangan Sumarni dan membawa tubuh indah itu naik ke atas permukaan. Setelahnya dia melakukan CPR guna memberi pertolongan pertama. Dilanjutkan dengan memberi nafas buatan barulah Sumarni mengeluarkan air dari mulutnya. Namun, mata yang terbuka pelan kembali tertutup rapat. “Hey, bangun!” Dia menepuk pipi Sumarni pelan, tetapi tak dapat respon. Pria itu melihat sekeliling dan tidak ada orang sama sekali untuk dimintai pertolongan. Para pelayan sibuk di dapur guna menyiapkan makan malam. Segera dia mengangkat tubuh Sumarni dan membawanya ke dalam kamar. Tidak ada orang yang melihatnya. Saat tiba di kamar, ia rebahkan tubuh Sumarni di atas ranjang. Pria itu bernama Andrian, adik ipar Lilia yang juga tinggal di sana. Jakun pria itu naik turun saat melihat pakaian dalam berwarna biru tua sang pelayan tercetak jelas, karena baju yang dipakai memiliki warna putih. “Sial.” Dia mengumpat kesal karena tiang di dalam celana menegang. Sebisa mungkin berusaha menahan gairahnya. Dia memeriksa keadaan Sumarni yang baik-baik saja. Andrian merupakan seorang dokter. Jadi, dia tidak perlu repot meminta bantuan orang lain lagi. “Pingsan karena kelelahan dan sepertinya dia belum makan,” gumam Andrian pelan. Dia menghela nafas berat, tahu betul bagaimana perlakuan kasar yang didapat Sumarni. Namun, dia memilih acuh karena tak ingin ikut campur urusan kakak iparnya. “Sial, si Mak lampir itu udah keterlaluan,” umpatnya kesal. Dia memanggil pelayan menggunakan interkom. “Suruh Bi Iyem datang ke kamar saya sekarang. Bawa makanan juga.” Setelahnya Andrian kembali menatap tubuh Sumarni yang sangat menggoda. Ingin sekali mencicipi, tetapi dia tahu batas dan tak ingin melanggar prinsipnya. “Ck, terpaksa harus olahraga lima jari bareng Tante Lux.” Andrian memilih masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri dan memuaskan si o***g dengan sabun. Pintu diketuk dan masuklah pelayan senior. Wajah wanita tua itu terkejut, tatkala melihat Sumarni terlelap di atas ranjang tuan mudanya. “Tolong ganti pakaiannya.” Andrian memberi titah datar seraya menunjuk kaos besar dan pakaian dalam wanita di atas kasur. Kalian pasti bertanya-tanya pakaian dalam wanita? Tentu saja dari lemari Andrian yang memang mengoleksi pakaian wanita untuk dipakai mantan kekasihnya dulu saat tidur bersama. “Kalau boleh saya tau, Marni kenapa, Tuan?” “Pingsan di kolam tadi. Jangan beritahu Lilia, aku tidak mau dia membuat keributan lagi.” Andrian menegaskan ucapannya. “Baik, Tuan.” Setelah menyelesaikan tugas. Pelayan senior itu segera keluar kamar. Andrian memilih menonton film seraya menunggu Sumarni sadar. Nyaris dua jam, tetapi sang wanita tak kunjung sadar. Andrian memilih mendekati ranjang. Matanya tertuju pada bibir merah muda nan tebal milik pelayannya itu. Tanpa sadar dia menundukkan wajahnya ingin mengecup bibir Sumarni. Perlahan bibir Andrian hampir menempel dengan bibir milik pelayannya. “Tuan.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Nikah Lagi Aja, Yuk!

read
12.9K
bc

23 VS 38

read
309.9K
bc

Happier Then Ever

read
97.3K
bc

Pernikahan Wasiat

read
244.3K
bc

Hidden Love

read
143.4K
bc

Bukan Cinta Pertama

read
61.0K
bc

Love Never Promised [Indonesia]

read
23.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook